Luhut Panjaitan: Jepang Investasi Listrik Terbesar di Indonesia

Oleh : Marlen Erikson | Rabu, 11 Januari 2017 - 19:49 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jepang merupakan negara yang berinvestasi terbesar dalam sektor kelistrikan di Indonesia. Untuk itu, sektor kelistrikan menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ke Indonesia pada 15 Januari 2017.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, investasi listrik Jepang di Indonesia mencapai sekitar 12 miliar dolar AS, baik itu sebagai pengembang listrik swasta (independent power producer/IPP) maupun kontraktor rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement and construction/EPC).

"Untuk listrik, ternyata Jepang investasinya paling besar di Indonesia. Bukan Tiongkok lho. Jumlahnya IPP 48 persen dan EPC 44 persen dari semua proyek," kata Luhut seperti dilansir Antara, di kantor Kemenko Kemaritiman Jakarta, Rabu (11/1/2017).

Data tersebut, kata Luhut membantah banyaknya anggapan bahwa pemerintah kerap mengutamakan Tiongkok dalam segala hal. Menurutnya, Tiongkok sendiri hanya menempati posisi kelima atau keenam dalam daftar negara yang menanamkan modal ke Indonesia.

"Investor terbesar di Indonesia masih tetap Singapura dan kedua itu Jepang. Tiongkok mungkin nomor lima atau enam. Jadi jangan selalu bilang Tiongkok terus," katanya.

Sebelumnya, Luhut mengaku ada sejumlah proyek strategis yang akan dibahas dalam pertemuan dengan PM Abe. Proyek tersebut antara lain Pelabuhan Patimban, kereta semicepat Jakarta-Surabaya serta finalisasi pengembangan Blok Masela.

Terkait Pelabuhan Patimban, diharapkan akan ada kesepakatan mengenai perusahaan Jepang yang akan bekerja sama dengan Pelindo II sebagai operator pelabuhan.

Sedangkan mengenai proyek kereta semicepat Jakarta-Surabaya, diharapkan akan ada penandatanganan uji kelayakan antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan pihak Jepang.

"Kami berharap mudah-mudahan Masela juga difinalisasi," katanya lantaran pemerintah dan kontraktor blok itu (Inpex Masela Ltd) telah menyepakati sejumlah ketentuan termasuk biaya penggantian operasi atau "cost recovery".

Marlen Erikson Lihat semua artikel →