Ketua HKI: Sering Kali Permohonan Aplikasi Investasi Tak Sejalan Dengan Realisasi Investasi

Oleh : Ridwan | Selasa, 30 Januari 2018 - 08:15 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan pada tahun 2018, nilai investasi yang bisa ditarik dari 13 kawasan industri akan mencapai Rp250,7 triliun.

Adapun ke-13 kawasan industri (KI) tersebut, yaitu KI Morowali, Sulawesi Tengah, KI atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara, KI Bantaeng, Sulawesi Selatan, KI JIIPE Gresik, Jawa Timur, KI Kendal, Jawa Tengah, dan KI Wilmar Serang, Banten.

Selanjutnya, KI Dumai, Riau, KI Konawe, Sulawesi Tenggara, KI/KEK Palu, Sulawesi Tengah, KI/KEK Bitung, Sulawesi Utara, KI Ketapang, Kalimantan Barat, KI/KEK Lhokseumawe, Aceh, dan KI Tanjung Buton, Riau.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar mengatakan, sering sekali di Indonesia antara permohonan aplikasi investasi dan realisasi investasi berbeda. Terkahir realisasi investasi hanya sekitar 60-70 persen.

"Realisasi investasi sering kali berbeda dengan permohonan aplikasi investasi," ujar Sanny Iskandar di Jakarta (29/1/2018).

Sanny berharap realisasi investasi di kawasan industri pada 2018, tidak akan lebih rendah dari tahun 2017. Menurutnya, sepanjang tahun 2017, untuk daerah Jabodetabek penjualan lahan kawasan industri kurang lebih sekitar 250 hektar.

"Jadi paling tidak kita berusaha untuk pencapaian di tahun 2018 tidak turun dari 2017 kemarin," terangnya.

Sedangkan untuk harga lahan, tambah Sanny, harga jual lahan di sekitar Jabodetabek untuk tahun 2017 tidak ada perubahan, kisaran Rp1-2 juta per m2. "Kalau melihat dari harga, ini sudah cukup ideal," katanya.

Lebih lanjut, ia melihat pada tahun 2018 harga lahan untuk kawasan industri relatif stabil. Menurutnya, lahan kawasan industri sangat berbeda dengan lahan perumahan yang cenderung meningkat.

Menurut Sanny, saat ini lahan kawasan industri banyak digunakan untuk sektor industri makanan dan minuman (consumer good), farmasi, otomotif, dan elektronika.

"Untuk tahun 2018, saya melihatnya kurang lebih sama. Tetapi saya perhatikan sektor makanan dan minuman, serta sektor farmasi akan mengakami peningkatan yang cukup signifikan," imbuh Sanny.

Dengan target nilai investasi mencapau Rp259 triliun, Sanny melihat ada empat hal yang perlu dilakukan pemerintah untuk mencapai target tersebut.

Keempat hal tersebut yaitu, pertama, membuat iklim investasi tetap positip terutama dengan adanya serangkaian kegiatan 171 Pilkada dan tahapan kegiatan Pilpres di tahun 2019.

Kedua, Implementasi dari reformasi birokrasi perizinan melalui paket kebijakan ekonomi ke 16 dengan dikeluarkannya Perpres no 91 tahun 2017 harus sudah dijalankan.

Ketiga, lanjutnya, pembangunan infrastruktur dasar dan ulilitas yang mendukung kegiatan industri di 13 KI tersebut harus dipercepat.

Selanjutnya, keempat, komitmen diberikannya dukungan insentif fiskal dan non fiskal bagi industri-industri yang berinvestasi baik didalam KI termasuk khususnya yang berstatus KEK harus dipenuhi.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →