Seperempat Abad KNI, Fondasi Pasokan Strategis untuk Pertambangan Indonesia
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Perjalanan Indonesia menuju kemandirian industri kembali menorehkan tonggak penting. PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) menandai 25 tahun kiprahnya sebagai produsen amonium nitrat terbesar di Indonesia, sebuah capaian yang turut mengubah wajah rantai pasok industri strategis nasional dari ketergantungan impor menuju kemampuan produksi domestik yang mandiri dan berkelanjutan.
Selama bertahun-tahun, kebutuhan amonium nitrat nasional—bahan baku utama pembuatan bahan peledak industri untuk sektor pertambangan dipenuhi melalui impor. Kondisi tersebut menjadikan pasokan nasional rentan terhadap berbagai gangguan eksternal.
Kehadiran KNI menjadi titik balik yang memperkuat ketahanan pasokan dalam negeri sekaligus mendukung keberlangsungan industri pertambangan sebagai salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia.
Sejak memulai produksi komersial pada 2012 hingga akhir 2025, KNI telah menghasilkan lebih dari 3,9 juta metrik ton amonium nitrat. Dari jumlah tersebut, lebih dari 670 kiloton telah diekspor ke berbagai pasar internasional, menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemain dalam perdagangan global produk tersebut.
Dengan kapasitas terpasang mencapai 366 kiloton per tahun, fasilitas KNI di Bontang juga menjadi contoh keberhasilan pengembangan industri berbasis sumber daya manusia lokal, di mana sekitar 85 persen karyawannya merupakan warga yang berdomisili di daerah tersebut.
Kontribusi KNI tidak hanya tercermin dari angka produksi. Selama seperempat abad, perusahaan ini turut menjadi motor penggerak ekonomi Kalimantan Timur melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok lokal, hingga berbagai investasi sosial kemasyarakatan.
Keberadaan fasilitas produksi amonium nitrat di dalam negeri telah memangkas waktu tunggu impor serta mengurangi risiko gangguan pasokan yang sebelumnya dapat memengaruhi operasional industri peledakan pertambangan.
Sebagai komoditas strategis, amonium nitrat memiliki peran penting tidak hanya bagi sektor pertambangan, tetapi juga pertanian dan pertahanan. Karena itu, kemampuan produksi domestik yang dimiliki KNI dinilai turut memperkuat ketahanan nasional di berbagai sektor tersebut.
Direktur Utama PT Kaltim Nitrate Indonesia, Twedy Nasution, menegaskan bahwa pencapaian 25 tahun ini merupakan hasil dari kemampuan dan dedikasi sumber daya manusia Indonesia.
“KNI menunjukkan apa yang mampu dicapai Indonesia di sektor industri strategis, dengan mengubah ketergantungan terhadap impor menjadi pasokan domestik yang andal. Setelah 25 tahun, kebanggaan terbesar kami bukan hanya jumlah produksi yang dihasilkan, melainkan tim Indonesia di Bontang yang memungkinkan seluruh pencapaian tersebut terwujud,” ujarnya.
Didirikan pada 2001 melalui kemitraan strategis antara PT Armindo Prima dan Orica Australia, KNI berkembang menjadi fasilitas berkelas dunia yang menerapkan standar keselamatan dan operasional internasional.
Memasuki fase pertumbuhan berikutnya, perusahaan berkomitmen mendukung perkembangan sektor pertambangan nasional sekaligus memperkuat daya saing industri Indonesia secara berkelanjutan.
Direktur Utama PT Armindo Prima, Winniarlita Irfaie, menyebut KNI sebagai manifestasi dari visi panjang untuk membangun kemandirian industri nasional.
“Lebih dari dua dekade lalu, kami memulai dengan pertanyaan sederhana: mengapa Indonesia harus bergantung pada impor amonium nitrat? Hari ini, KNI telah menjadi bukti bahwa Indonesia mampu membangun dan mengelola industri strategisnya sendiri untuk mendukung pembangunan nasional,” katanya.
Sepanjang sejarah operasinya, KNI terus melakukan berbagai peningkatan kinerja dan efisiensi. Salah satu pencapaian penting terjadi pada 2024 ketika perusahaan mencatatkan produksi tahunan tertinggi sepanjang sejarah, mencapai sekitar 347 kiloton. Capaian tersebut mencerminkan peningkatan produktivitas yang konsisten sekaligus kemampuan operasional yang semakin andal.
Managing Director dan CEO Orica, Sanjeev Gandhi, menilai keberhasilan KNI sebagai bukti nyata kekuatan kolaborasi jangka panjang antara keahlian global dan kemitraan lokal.
“Selama lebih dari 25 tahun, KNI telah membantu mentransformasi industri sumber daya Indonesia dari yang bergantung pada impor menjadi memiliki pasokan domestik yang tangguh. KNI menunjukkan bagaimana kolaborasi yang berkelanjutan dapat mendukung pembangunan nasional sekaligus memperkuat pertumbuhan industri,” ujarnya.
Di sisi keberlanjutan, KNI juga mencatat kemajuan signifikan. Implementasi teknologi secondary abatement pada 2023 berhasil menurunkan emisi sekitar 9,6 persen atau setara dengan 373 kiloton CO₂-ekuivalen per tahun.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan kinerja lingkungan seiring dengan pertumbuhan bisnis.
Direktur PT Kaltim Nitrate Indonesia sekaligus Wakil Direktur PT Armindo Prima, Chrisna Deva, mengatakan bahwa fondasi yang telah dibangun selama 25 tahun memberikan ruang yang kuat bagi perusahaan untuk terus berkembang.
“Kami melihat peluang besar untuk memperluas kapabilitas guna mendukung agenda pertambangan dan hilirisasi nasional. Kekuatan terbesar KNI terletak pada tim dan kemitraan yang telah dibangun selama ini, dan itulah yang akan membawa perusahaan menuju masa depan,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Group Executive dan President Asia Orica, Rajkumar Mathiravedu. Menurutnya, KNI telah menjadi tolok ukur kapabilitas industri di kawasan Asia sekaligus menunjukkan bagaimana penguatan pasokan domestik dapat berjalan beriringan dengan daya saing global.
“Pencapaian ini pada dasarnya adalah kisah tentang kemitraan dan kepercayaan yang dibangun selama 25 tahun. Kekuatan KNI terletak pada kepemimpinan dan sumber daya manusianya, sementara kami berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan jangka panjang perusahaan dan industri Indonesia,” katanya.
Memasuki babak berikutnya, KNI menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pertumbuhan sektor pertambangan dan agenda hilirisasi nasional, sekaligus meningkatkan kinerja lingkungan serta memperkuat ketahanan pasokan domestik dalam jangka panjang.