Ribuan Diaspora Manggarai Hadir Menyaksikan Pentas Caci di Tangerang Selatan, Panitia: Ini Turnamen yang Menjahit Rindu Diaspora Manggarai
INDUSTRY.co.id, Jakarta-Cahaya pagi menyapu Dewantara Sport Center, Minggu, 14 Juni 2026, ketika bunyi gong membuka sebuah acara yang lebih dari sekadar penutupan turnamen olahraga.
Lapangan itu menjadi ruang pertemuan, lebih dari 2.500 warga Manggarai dari berbagai penjuru Jabodetabek, termasuk banyak diaspora yang tinggal di Tangerang Selatan, berkumpul menyaksikan pentas budaya yang meriah dan bermakna.
Di tengah keramaian, puluhan penari Caci berdiri berhadapan, termasuk penyanyi lagu lagu adat Surat Edar. Seorang menggenggam perisai, lawannya mengayunkan cambuk. Setiap hentakan kaki dan kilau senjata bagaikan menulis ulang catatan sejarah sebuah komunitas yang kini hidup di perantauan.
Gerak, bunyi dan ketegangan itu membawa penonton melintasi ruang waktu, dari kampung di Manggarai Flores ke lapangan beton di pinggiran Jakarta.
Edison alias Sonny, pengusaha sukses dan penanggung jawab Pentas Caci Tangsel sekaligus Ketua Tim Komodo, mengatakan gagasan pentas lahir dari kerinduan sederhana, menghadirkan kembali saudara-saudara Manggarai yang tersebar.
Ide itu bermula dari Turnamen Masta Cup 1—sebuah kompetisi sepak bola yang berlangsung beberapa pekan yang kemudian ingin diakhiri dengan penutup berisi makna budaya.
"Banyak saudara-saudara Manggarai raya yang ada di Jabodetabek ini ingin kumpul. Makanya kita berpikir, dengan apa yang kita punya, kita bikin acara supaya keluarga kita yang ada di Jabodetabek ini berkumpul," ujarnya.
Pentas menata rentetan tarian tradisional Manggarai: Caci yang dinamis dan penuh simbol keberanian, lalu Danding yang lemah gemulai—gabungan yang menonjolkan sisi perayaan dan kerukunan.
Para penari mengenakan tenun Manggarai Flores, ikat kepala bermotif, dan aksesori tradisional, sehingga setiap gerak tak hanya tampak, tetapi terasa bermakna. Ketegangan dan keindahan berpadu, penonton tak hanya melihat, tetapi ikut merasakan denyut budaya yang mengalir.
Kehadiran diaspora terlihat kuat, banyak hadirin mengenakan atasan putih dan atribut khas Manggarai, sebuah dresscode yang menjadi identitas bersama dan memudahkan solidaritas visual.
Yasintus Jaar, tokoh muda Manggarai dan Ketua Compang Cama, menyambut bangga kerumunan itu. "Neka hemong kuni agu kalo (jangan lupa tanah kelahiran atau budaya)," katanya, menegaskan pentingnya merawat akar budaya meski hidup di perantauan. Ia berharap pentas ini menjadi wadah agar generasi penerus di rantau tetap menjaga warisan leluhur.
Largus Chen, ketua panitia, menambahkan bahwa acara ini juga lahir dari rindu diaspora. Ia menegaskan kesiapan fasilitas panitia—lapangan yang baik dan akses yang memadai—sehingga acara berjalan lancar dan nyaman.
Menurut Largus, penyelenggaraan merupakan buah kerja gotong-royong komunitas dengan sumber daya terbatas. "Kami ini kelas menengah ke bawah karena tidak didukung banyak sponsor," ujarnya. Meski tanpa dukungan besar, mereka berhasil mengumpulkan banyak orang. "Kami buktikan itu kendati tidak banyak suport dan dukungan dari tokoh-tokoh Manggarai Jabodetabek. Namun upaya komunitas mampu menyatukan warga meski dengan anggaran terbatas."
Sonny menegaskan bahwa interaksi-interaksi kecil di pentas menjadi bentuk transfer budaya, pengetahuan, rasa bangga dan identitas disalurkan ke generasi penerus.
Momen berkumpul juga memberi ruang tukar kabar—tentang keluarga, kondisi kesehatan, dan kebutuhan sosial. Ia menyebutkan kepedulian komunitas terhadap anggota yang sakit atau mengalami kesulitan di perantauan.
"Anak-anak mahasiswa dari Manggarai sakit terus, mungkin ada yang meninggal, menunjukkan bahwa pertemuan semacam ini juga berfungsi sebagai ajang solidaritas dan dukung-mendukung," ujarnya.
Acara mendapat dukungan institusional tokoh publik, anggota DPRD, pimpinan perguruan tinggi, wali kota, Kapolres, Dandim, dan kepala kelurahan hadir.
Dukungan itu menjadi sinyal bahwa pelestarian budaya di perantauan mendapat perhatian lebih luas. Kapolres mengapresiasi inisiatif komunitas yang mempererat hubungan sosial dan menjaga ketertiban dalam acara massal.
Secara strategis, panitia melihat pergelaran ini sebagai pintu masuk pengembangan ekonomi budaya.
Rencana jangka panjang meliputi menjadikan Caci Danding Mbata sebagai agenda tahunan, mengadakan pelatihan bagi penari muda, dan membuka jalur pemasaran produk lokal ke pasar Jabodetabek.
Ide-ide ini menerima respons positif dari akademisi yang hadir, yang menawarkan kerja sama dalam pendokumentasian dan program pengabdian masyarakat.
Bagi banyak diaspora yang lahir di perantauan, menyaksikan Caci adalah pengalaman penghubung membawa cerita kampung yang selama ini hanya mereka dengar menjadi sesuatu yang terlihat dan terasa.
Di bangku penonton, wajah-wajah orang tua tampak haru, tepuk tangan yang menutup tiap babak bukan sekadar apresiasi terhadap atraksi, melainkan ungkapan harapan agar tradisi tetap hidup.
Caci Danding Mbata bukan sekadar penutup turnamen. Ia adalah afirmasi kolektif: bukti bahwa komunitas Manggarai di Tangerang Selatan mampu menjaga dan mempromosikan identitasnya meski jauh dari kampung halaman.
Lebih dari hiburan, pergelaran itu menjadi janji—bahwa budaya akan terus hidup bila dirawat bersama, menjadi modal sosial sekaligus potensi ekonomi bagi warga perantauan.
Sonny menutup pernyataannya dengan tegas: pentas ini lebih dari acara penutupan, ia adalah ajakan kembali memperhatikan akar, Kuni agu Kalo, dan janji untuk menjaga tradisi agar tetap hidup di tanah rantau.