Pupuk Kaltim Produksi 2,14 Juta Ton di Kuartal I 2026, Efisiensi Gas Jadi Penopang Margin

Oleh : Hariyanto | Senin, 04 Mei 2026 - 11:12 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - JAKARTA — PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) membuka tahun 2026 dengan kinerja operasional yang solid. Anak usaha Pupuk Indonesia Grup itu mencatat total produksi lebih dari 2,14 juta ton sepanjang kuartal I-2026, mempertegas posisinya sebagai salah satu tulang punggung pasokan pupuk nasional di tengah tekanan rantai pasok global dan meningkatnya kebutuhan sektor pertanian.

Dari total produksi tersebut, volume urea menjadi kontributor utama dengan capaian 1,16 juta ton, disusul amonia 874 ribu ton dan NPK 104 ribu ton. Kinerja ini sekaligus memperkuat posisi Pupuk Kaltim sebagai produsen urea terbesar di Indonesia, di saat pemerintah terus mendorong penguatan ketahanan pangan nasional.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim, Anggono Wijaya, mengatakan capaian produksi tersebut tidak hanya mencerminkan kapasitas operasional perusahaan, tetapi juga menunjukkan peran strategis perseroan dalam menjaga akses pupuk bagi petani.

“Capaian produksi ini bukan hanya mencerminkan kinerja operasional perusahaan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab kami dalam menjaga ketersediaan pupuk bagi petani tetap terjaga secara andal dan berkelanjutan. Di tengah berbagai dinamika global, menjaga akses pupuk menjadi kunci untuk memastikan produktivitas pertanian nasional tetap terjaga,” ujar Anggono. 

Dengan dukungan 13 pabrik dan kapasitas produksi terpasang sekitar 6,47 juta ton per tahun, Pupuk Kaltim menjaga tingkat utilisasi fasilitas produksi tetap optimal untuk menopang kebutuhan pupuk nasional. Stabilitas produksi ini menjadi penting, terutama ketika sektor pangan menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan volatilitas pasokan bahan baku global.

Di sisi distribusi, perusahaan juga memastikan ketersediaan stok tetap aman. Hingga 27 April 2026, stok pupuk Pupuk Kaltim tercatat mencapai 618.393 ton yang tersebar di gudang produsen serta jaringan distribusi Pupuk Indonesia di berbagai wilayah Indonesia. Ketersediaan stok ini dinilai menjadi bantalan penting untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pada musim tanam.

Keunggulan lain Pupuk Kaltim datang dari sisi hulu. Ketersediaan gas bumi domestik, khususnya di Kalimantan Timur, memberi ruang bagi perseroan untuk menjaga kesinambungan produksi di tengah fluktuasi harga energi global. Stabilitas pasokan gas menjadi faktor krusial karena gas menyumbang porsi dominan dalam struktur biaya produksi pupuk berbasis nitrogen.

Perseroan juga memperkuat ketahanan pasokan bahan baku strategis lain melalui diversifikasi sumber pasokan, penguatan manajemen stok, serta koordinasi lintas entitas di bawah Pupuk Indonesia Grup. Strategi ini menjadi bagian dari upaya mitigasi risiko operasional yang makin kompleks.

Dari sisi efisiensi, Pupuk Kaltim mulai menuai hasil dari program revitalisasi fasilitas produksi. Perseroan telah menuntaskan revamping Ammonia Pabrik-2, proyek perdana dalam agenda revitalisasi industri pupuk nasional di bawah Pupuk Indonesia Grup.

Revamping tersebut berhasil memangkas konsumsi gas hingga 4 MMBTU per ton amonia, atau lebih dari 10% dibandingkan kondisi sebelumnya. Penghematan ini menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing biaya produksi di tengah tekanan margin industri pupuk global.

VP Pengembangan Bisnis Pupuk Kaltim, Astri Agustina, menilai modernisasi fasilitas menjadi langkah strategis untuk memperkuat efisiensi dan daya tahan bisnis jangka panjang.

“Modernisasi ini dilakukan pada momentum yang tepat, ketika industri pupuk dituntut semakin efisien, andal dan adaptif. Upaya ini menjadi langkah penting dalam menjaga kesinambungan pasokan pupuk nasional secara berkelanjutan,” ujar Astri.

Tak berhenti di bisnis inti pupuk, Pupuk Kaltim juga mulai melakukan diversifikasi usaha melalui pembangunan pabrik soda ash pertama di Indonesia yang dimulai sejak Oktober 2025. Langkah ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan impor soda ash, sekaligus membuka potensi pendapatan baru dari produk turunan amonium klorida yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk langsung maupun bahan baku NPK.

Di hilir, Pupuk Kaltim juga memperluas intervensi ke ekosistem pertanian melalui program Agrosolution. Program ini memberikan pendampingan komprehensif kepada petani, mulai dari edukasi pertanian presisi, akses pembiayaan, hingga jaminan pasar melalui skema offtaker.

Hingga akhir April 2026, program tersebut telah menjangkau 18.913 petani dengan total lahan 56.954 hektare. Strategi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan daya tahan ekonomi petani.

Selain itu, perusahaan juga terus mengembangkan program PKT BISA di Magetan yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan energi terbarukan melalui pemanfaatan limbah menjadi biogas. Model integrasi ini dipandang sebagai pendekatan ekonomi sirkular yang dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi di tingkat petani.

Dengan kombinasi kapasitas produksi besar, efisiensi operasional, diversifikasi bisnis, serta penguatan ekosistem pertanian, Pupuk Kaltim menegaskan posisinya bukan hanya sebagai produsen pupuk, tetapi juga sebagai pemain strategis dalam rantai ketahanan pangan nasional.

“Melalui kinerja operasional yang andal, penguatan efisiensi, ketahanan bahan baku, serta pendampingan yang konsisten kepada petani, Pupuk Kaltim optimistis dapat terus memberikan kontribusi nyata dalam menjaga ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan,” tutup Anggono.