INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim), anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero), mencatatkan kinerja produksi yang positif sepanjang semester I 2026. Hingga 30 Juni 2026, perusahaan berhasil memproduksi 3,44 juta ton pupuk dan amonia atau mencapai 52,32% dari target produksi tahun 2026.
Capaian tersebut menjadi modal penting bagi Pupuk Kaltim dalam menjaga ketersediaan pupuk nasional sekaligus mendukung program ketahanan pangan pemerintah.
Direktur Utama Pupuk Kaltim, Rafli Yandra mengatakan, realisasi produksi hingga akhir Juni terdiri atas 1,85 juta ton urea, 165 ribu ton pupuk NPK, dan 1,42 juta ton amonia.
"Kami terus memaksimalkan kinerja produksi agar kebutuhan pupuk nasional dapat terpenuhi tepat waktu dan tepat jumlah. Seluruh upaya tersebut bermuara pada satu tujuan, agar petani dapat memperoleh pupuk sesuai kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas," ujar Rafli dalam keterangannya di Jakarta.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan konsistensi perusahaan dalam menjaga keandalan operasional sehingga distribusi pupuk bagi sektor pertanian tetap terjamin.
Pupuk Kaltim optimistis mampu mempertahankan tren positif hingga akhir tahun. Perusahaan saat ini memiliki kapasitas produksi mencapai 3,43 juta ton urea, 300 ribu ton NPK, dan 2,74 juta ton amonia per tahun.
Optimisme itu juga didukung pencapaian sepanjang 2025 ketika Pupuk Kaltim berhasil membukukan produksi 6,67 juta ton, melampaui target perusahaan.
Rafli menyebut keberhasilan menjaga produksi tidak lepas dari penerapan Operational Excellence yang dilakukan secara konsisten di seluruh lini bisnis.
Strategi tersebut dijalankan melalui pemanfaatan teknologi berbasis Smart Production, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan budaya keselamatan kerja guna meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.
Tak hanya fokus pada produksi, Pupuk Kaltim juga memperkuat transformasi industri hijau melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Salah satu langkah strategis yang telah diselesaikan pada awal 2026 adalah revamping Ammonia Pabrik-2. Proyek tersebut berhasil menurunkan konsumsi gas hingga 4 MMBTU per ton amonia, atau lebih dari 10% dibandingkan sebelumnya.
Selain meningkatkan efisiensi energi, proyek itu juga mampu mengurangi emisi karbon hingga 110 ribu ton CO2 per tahun.
Sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi, Pupuk Kaltim juga tengah membangun pabrik soda ash pertama di Indonesia yang memanfaatkan emisi karbon dioksida (CO2) sebagai bahan baku.
Saat mulai beroperasi, fasilitas tersebut diproyeksikan mampu menyerap hingga 174 ribu ton CO2 per tahun, sekaligus menjadi implementasi konsep ekonomi sirkular di industri pupuk nasional.
Di sisi lain, perusahaan juga menjajaki pengembangan clean ammonia sebagai bagian dari upaya mendukung transisi menuju industri pupuk rendah karbon.
Rafli menegaskan, penerapan ESG bukan sekadar memenuhi regulasi, tetapi menjadi strategi jangka panjang perusahaan untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.
"Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan kinerja perusahaan senantiasa selaras dengan kelestarian lingkungan dan upaya mendukung ketahanan pangan," tutupnya.