Balai Budaya Condet dan Jejak Perempuan Betawi dalam Gerak

Oleh : Candra Mata | Sabtu, 25 April 2026 - 11:21 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di sebuah sudut Jakarta yang tak selalu masuk peta gemerlap kota, berdiri sebuah ruang yang diam-diam menyimpan denyut kebudayaan: Balai Budaya Condet. Di sana, kota tidak hanya berbicara melalui beton dan jalan raya, tetapi juga melalui tubuh, gerak, dan ingatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tempat ini—yang dahulu dikenal sebagai Laboratorium Tari dan Karawitan Condet—telah hidup sejak sekitar tahun 1990. Ia bukan sekadar bangunan, melainkan ruang temu: antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan penciptaan baru. Di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Balai Budaya Condet menjadi panggung bagi siapa saja yang ingin merawat sekaligus mencipta kebudayaan.

Di sinilah Lydia Devi Nurshanti menemukan panggung yang terasa “pulang”.

Mahasiswa Program Doktor (S3) Pascasarjana ISI Yogyakarta itu datang membawa sebuah karya yang lahir dari perenungan panjang: Ampu Empuan. Sebuah pertunjukan disertasi yang tidak hanya ingin ditonton, tetapi juga dirasakan.

Ia memilih Condet bukan tanpa alasan. Setelah menelusuri berbagai sudut Jakarta, mencari ruang yang mampu “berbicara” tentang Betawi, ia akhirnya berhenti di sini—di tempat yang dianggapnya paling jujur merepresentasikan budaya yang ia kaji.

“Alhamdulillah Balai Budaya Condet, memiliki fasilitas yang sangat baik dengan area panggung yang benar-benar memberikan kedekatan kepada penonton dan pelaku seni yang menampilkan pertunjukan,” ujar Devi.

Dan memang, kedekatan itu terasa nyata. Panggungnya tidak berjarak. Penontonnya bukan sekadar pengamat, melainkan bagian dari napas pertunjukan itu sendiri. Letaknya yang berada di tengah pemukiman membuat batas antara seni dan kehidupan sehari-hari menjadi kabur—persis seperti konsep yang diusung Devi.

Karyanya berbicara tentang perempuan Betawi. Tentang peran ganda. Tentang kehidupan yang terus berjalan meski lelah tak selalu bisa diucapkan.

Meski bukan berasal dari suku Betawi, Devi telah lama menenun kedekatan dengan budaya ini sejak kecil. Ketertarikan itu tumbuh, lalu menetap.

“Saya tertarik dan ingin mendalami perempuan Betawi,” ujarnya.

Dalam dunia urban yang bergerak cepat, perempuan sering kali berdiri di dua dunia sekaligus: domestik dan sosial. Mereka bekerja, mengurus rumah, menjaga relasi, dan tetap dituntut untuk kuat—bahkan ketika rapuh.

“Kendatipun, perempuan keletihan dan diliputi kesedihan di ruang batin yang tidak bisa diungkapkan, karena budaya yang tidak mengizinkan keluhan,” ujar Devi.

Di situlah Ampu Empuan menjadi suara. Bukan suara yang berteriak, tetapi yang bergerak—pelan, berlapis, dan penuh makna.

“Karya ini menjadi salah satu upaya untuk media refleksi, bahwasanya perempuan bisa kuat menghadapi semua ini,” tegas Devi.

Ia pun menutup dengan harapan sederhana, tetapi dalam:

“karena kita lahir dari akar, jangan sampai lupa dan tetap semangat. Kalau bukan kita, siapa lagi,” pungkasnya.

Bagi Rinaldi, Kepala Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya, pertunjukan ini lebih dari sekadar karya akademik. Ia melihatnya sebagai penegasan kembali identitas Balai Budaya Condet.

“Bagi saya pertunjukan ini begitu penting. Selain mengangkat budaya Betawi dan peran ganda perempuan Betawi, pertunjukan ini juga berhasil menegaskan kembali, identitas Balai Budaya Condet sebagai tempat para seniman untuk berkarya dan berkreasi menciptakan kesenian dan pelestarian tradisi.”

Di tengah kota yang terus berubah, ruang seperti ini menjadi penting—bukan hanya untuk seni, tetapi untuk ingatan kolektif.

“Jangan sampai generasi muda, tidak mengetahui budaya Betawi itu sendiri,” imbuhnya.

Hal serupa dirasakan Octavianus Cahyono Prianto, yang datang jauh dari Yogyakarta. Ia melihat Balai Budaya Condet bukan sekadar gedung, tetapi sebuah kemungkinan.

“Keberadaan Balai Budaya Condet bisa menempatkan diri sebagai sentral budaya,” ungkapnya.

Baginya, keunikan tempat ini justru terletak pada kedekatannya dengan masyarakat. Tidak eksklusif, tidak berjarak.

“Saya berharap karya ini menjadi prototype pengembangan penelitian penciptaan pascasarjana kedepananya,” tandasnya.

Sementara itu, Ampu Empuan sendiri bukan sekadar tari. Ia adalah pembacaan ulang terhadap tubuh—sebagai ruang hidup yang menyimpan pengalaman.

Berangkat dari gagasan habitus Pierre Bourdieu dan embodiment, karya ini melihat tubuh bukan hanya sebagai alat ekspresi, tetapi sebagai arsip hidup. Setiap gerak adalah hasil dari pengalaman yang terakumulasi—tentang kerja, tentang tekanan, tentang adaptasi.

Tubuh menjadi “living archive”.

Melalui pendekatan Practice-Based Research (PBR), proses penciptaannya menjadikan studio sebagai laboratorium pengetahuan. Di sana, pengalaman sehari-hari tidak hanya dikenang, tetapi diolah—menjadi ritme, gestur, dan dinamika yang berbicara.

Struktur pertunjukan dibangun progresif, bergerak dari internalisasi pengalaman, menuju krisis, lalu negosiasi ulang—semuanya hadir dalam lima adegan yang saling terhubung.

Tidak ada gerak yang kosong. Tidak ada tubuh yang netral.

Semua adalah cerita.

Dan di Balai Budaya Condet, cerita itu menemukan panggungnya.