AMMAN Catat Produksi Tangguh di Tengah Fase Transisi dan Ramp-Up Smelter

Oleh : Candra Mata | Kamis, 26 Maret 2026 - 13:41 WIB · 5 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Amman Mineral Internasional Tbk (IDX: AMMN) (“AMMAN”, “Perusahaan", atau "Kami”) mengumumkan hasil kinerja keuangan dan operasional tahun 2025, yang mencerminkan dinamika tahun transisi menuju operasional tembaga dan emas terintegrasi penuh.

Sepanjang tahun, AMMAN menghadapi perubahan besar seiring dimulainya penambangan Fase 8 yang ditandai dengan kadar bijih lebih rendah pada tahap awal, serta proses peningkatan kapasitas (ramp-up) fasilitas peleburan. 

Meski demikian, Perseroan tetap mampu menunjukkan kinerja operasional yang solid.

Produksi konsentrat pada 2025 tercatat sebesar 446.563 metrik ton kering, dengan kandungan 209 juta pon tembaga dan 102.758 ons emas.

Capaian ini melampaui panduan tahunan untuk konsentrat sebesar 4% dan emas sebesar 14%, meskipun produksi tembaga berada 8% di bawah target.

Di sisi hilirisasi, AMMAN mencatat tonggak penting melalui produksi perdana katoda tembaga pada Maret 2025 yang mencapai total 79.849 ton (setara 176 juta pon), serta produksi emas murni sebesar 124.723 ons sejak dimulai pada Juli 2025. 

Volume penjualan masing-masing mencapai 75.943 ton katoda tembaga dan 114.149 ons emas murni.

Perusahaan juga memperoleh izin ekspor konsentrat pada 31 Oktober 2025 dengan kuota 480.000 metrik ton kering selama enam bulan. 

Pada kuartal keempat, AMMAN berhasil menjual 151.353 metrik ton kering konsentrat tembaga, yang mengandung 69 juta pon tembaga dan 55.402 ons emas.

Dari sisi keuangan, penjualan bersih tercatat sebesar US$1.847 juta. Kinerja ini menunjukkan tren pemulihan yang kuat pada paruh kedua tahun, dengan kontribusi kuartal keempat mencapai sekitar 70% dari total penjualan tahunan, didukung oleh stabilitas operasi smelter dan fasilitas pemurnian.

Direktur Utama AMMAN, Arief Sidarto, menyampaikan, tahun 2025 merupakan tahun transisi yang sangat penting bagi AMMAN. Peralihan ke penambangan Fase 8 yang ditandai dengan kadar bijih yang lebih rendah—bersamaan dengan proses peningkatan kapasitas (ramp-up) smelter, menimbulkan tekanan operasional jangka pendek. Namun, perusahaan berhasil mencapai berbagai tonggak strategis, terutama menuntaskan transformasi menjadi produsen tembaga dan emas yang terintegrasi penuh.

"Sepanjang tahun, smelter kami mengalami penghentian sementara pada Juli dan Agustus 2025 untuk perbaikan Flash Converting Furnace dan Sulfuric Acid Plant. Pekerjaan ini merupakan aktivitas yang kompleks dan krusial untuk memastikan keandalan peralatan dan stabilitas operasional. Setelah perbaikan selesai, operasi smelter kembali stabil menjelang akhir tahun," ujarnya.

Lebih lanjut, Arief menuturkan, secara paralel, perusahaan memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada akhir Oktober 2025, yang memberikan fleksibilitas tambahan selama fase ramp-up smelter. Perusahaan juga mencatat pencapaian penting di hilirisasi, termasuk produksi perdana katoda tembaga pada Maret 2025 dan produksi emas murni pertama pada Juli 2025. 

Pencapaian ini menunjukkan kemajuan struktural dalam memperkuat nilai tambah di sepanjang rantai pasok. 

Di sisi penambangan, operasi berlangsung disiplin dan sesuai dengan rencana tambang. Seiring penyesuaian urutan penambangan, total material yang ditambang menurun, namun akses terhadap bijih segar dari Fase 8 meningkat sesuai rencana. Meskipun kadar bijih lebih rendah selama masa transisi ini, kami berhasil melampaui panduan kinerja satu tahun untuk produksi konsentrat dan emas. 

Kinerja keuangan tahun 2025 mencerminkan dampak larangan ekspor konsentrat di awal tahun serta proses ramp-up smelter. Meski demikian, perusahaan membukukan penjualan bersih sebesar US$1.847 juta, dengan kinerja yang menguat di paruh kedua, di mana kontribusi Q4 mencapai sekitar 70% dari penjualan setahun penuh seiring stabilnya operasi smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (“PMR”). 

EBITDA mencapai US$1.057 juta dengan margin sebesar 57%, sementara laba bersih tercatat sebesar US$258 juta dengan margin 14%. Capaian ini mencerminkan dampak transisi tahun ini, termasuk dimulainya penambangan Fase 8 dan tantangan ramp-up smelter yang memberikan tekanan sementara terhadap margin. 

Arief menambahkan, memasuki tahun 2026, prioritas utama perusahaan adalah memastikan kinerja smelter yang stabil dan berkelanjutan. 

"Di saat yang sama, proyek ekspansi utama kami, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (“PLTGU”), fasilitas regasifikasi LNG, serta ekspansi pabrik konsentrator tetap berjalan sesuai rencana dan akan semakin memperkuat ketahanan operasional serta daya saing biaya kami. Terlepas dari tantangan jangka pendek, fundamental jangka panjang untuk komoditas tembaga dan emas tetap sangat kuat. Kami akan terus fokus pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, dan keunggulan operasional untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan kami,” ujarnya.

Dari sisi operasional, total material yang ditambang sepanjang 2025 turun 9% secara tahunan, setelah mencapai puncaknya pada 2024. 

Fokus penambangan beralih ke pengupasan batuan penutup dan pengembangan area bijih Fase 8 dengan kadar rendah hingga menengah. 

Volume bijih segar meningkat 60% dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun berdampak pada peningkatan biaya penambangan per unit sebesar 10% menjadi US$2,54 per ton.

Produksi logam mengalami penurunan secara tahunan, dengan tembaga turun 47% dan emas turun 87%, seiring penggunaan stockpiles dan bijih berkadar rendah selama masa transisi.

Penjualan bersih 2025 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$2.664 juta, seiring perubahan kebijakan yang mengharuskan penjualan dalam bentuk produk logam jadi. Komposisi penjualan terdiri dari US$806 juta dari katoda tembaga, US$454 juta dari emas murni, dan US$587 juta dari konsentrat yang dijual pada kuartal keempat.

Meski EBITDA secara absolut menurun dari US$1.426 juta pada 2024, margin meningkat dari 54% menjadi 57%, mencerminkan efektivitas strategi hilirisasi dan efisiensi biaya. Laba bersih juga menurun dari US$642 juta menjadi US$258 juta, sejalan dengan dinamika transisi operasional.

Belanja modal turun 23% menjadi US$1.372 juta, mencerminkan progres proyek-proyek ekspansi yang mendekati penyelesaian. Sementara itu, adjusted C1 cash cost meningkat dari US$(3,37) menjadi US$(0,54) per pon, dipengaruhi oleh penurunan kredit produk sampingan dan volume penjualan tembaga.

Per 31 Desember 2025, total utang Perseroan mencapai US$6.432 juta, dengan utang bersih sebesar US$5.756 juta setelah memperhitungkan kas dan setara kas sebesar US$677 juta.

Untuk tahun 2026, AMMAN menargetkan produksi 900.000 metrik ton kering konsentrat, dengan kandungan 485 juta pon tembaga dan 579.000 ons emas. Produksi akan berasal dari pabrik konsentrator lama dan baru, seiring proses komisioning yang masih berlangsung.