PSN Wiraraja - Perusahaan Raksasa AS Teken Kerja Sama Bangun Industri Semikonduktor di Batam

Oleh : Ridwan | Kamis, 19 Februari 2026 - 12:50 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Amerika Serikat – Indonesia mencetak sejarah baru dalam diplomasi ekonomi global. Presiden Republik Indonesia secara langsung menyaksikan penandatanganan sejumlah perjanjian bisnis strategis antara Proyek Strategis Nasional (PSN) Wiraraja Green Renewable Energy & Smart Eco-Industrial Park (GESEIP) di Galang, Batam, dengan sejumlah perusahaan besar asal Amerika Serikat.

Penandatanganan yang berlangsung di kantor US Chamber of Commerce pada 18 Februari 2026 ini menjadi tonggak penting kolaborasi industri berteknologi tinggi dan energi berkelanjutan antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Kerja sama dilakukan antara PT Galang Bumi Industri selaku pengelola PSN Wiraraja GESEIP dengan mitra strategis asal AS, termasuk Essence Global Group dan Tynergy Technology Corporation USA, melalui skema Joint Development Agreement.

Direktur Utama PT Galang Bumi Industri, Ahmad Maruf Maulana, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menegaskan bahwa proyek ini merupakan langkah konkret hilirisasi industri berbasis energi hijau dan teknologi semikonduktor di Tanah Air.

“Ekosistem dalam PSN Wiraraja GESEIP mencakup hilirisasi kuarsa silika menjadi produk bernilai tambah tinggi, mulai dari pemurnian bahan baku kaca hingga produksi polysilicon untuk kebutuhan semikonduktor dan solar cell,” ujarnya.

Pada tahap awal, investasi yang digelontorkan mencapai USD 4,9 miliar atau setara lebih dari Rp 75 triliun. Investasi ini akan difokuskan pada pemurnian kuarsa silika melalui PT Quantum Luminous Indonesia serta pemurnian polysilicon melalui PT Essence Global Indonesia di bawah Tynergy Group of Companies.

Jika tahap pertama berjalan sukses, tambahan investasi fantastis sebesar USD 26,7 miliar akan direalisasikan. Dana tersebut akan digunakan untuk memproduksi ingot wafer, wafer slicing, hingga fabrikasi, sehingga Indonesia memiliki siklus produksi semikonduktor terintegrasi secara penuh.

Dengan total potensi investasi mencapai USD 31,6 miliar (sekitar Rp 500 triliun), proyek ini diproyeksikan menjadi salah satu investasi industri teknologi terbesar dalam sejarah Indonesia.

Tynergy Technology Corp juga menargetkan investasi awal hingga USD 250 juta untuk pembangunan fasilitas manufaktur di Galang. Proyek ini diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 2.500 lapangan kerja terampil.

Untuk menjamin pasokan energi berkelanjutan, Tynergy Group akan membentuk PT Energy Tech Indonesia yang akan membangun fasilitas penyimpanan energi berbasis sodium-ion dengan kapasitas hingga 150 MW.

Langkah ini sekaligus memperkuat komitmen Indonesia dalam transisi energi bersih dan mendukung operasional kawasan industri berbasis teknologi tinggi.

Tak hanya investasi, kerja sama ini juga mencakup transfer teknologi semikonduktor dan sel surya melalui kemitraan antara dua zona ekonomi bebas, yakni: PSN Wiraraja GESEIP di Galang, Batam, dan Solanna Akimel 7 Technopark di Phoenix, Arizona.

Kolaborasi tersebut dipertegas melalui Pakta Persahabatan Zona Ekonomi Khusus Transnasional, yang diyakini akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri semikonduktor dan energi terbarukan.

Proyek ini juga mendukung agenda pengembangan pusat data berbasis kecerdasan artifisial (AI) serta percepatan transisi energi berkelanjutan di kedua negara.

Presiden menyambut baik penandatanganan perjanjian tersebut sebagai wujud konkret diplomasi ekonomi dan penguatan kemitraan strategis Indonesia–Amerika Serikat.

Investasi besar di sektor hilirisasi dan energi hijau ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, memperluas lapangan kerja, memperkuat daya saing industri Indonesia di tingkat global.

Dengan investasi jumbo dan transfer teknologi kelas dunia, proyek PSN Wiraraja GESEIP di Batam digadang-gadang menjadi pusat baru industri semikonduktor dan energi hijau Asia Tenggara. Jika terealisasi penuh, Indonesia bukan hanya menjadi pemain, tetapi calon raksasa baru dalam rantai pasok global industri teknologi masa depan.