Keramik Nasional Naik Daun Lagi! Utilisasi Produksi Meroket, Ekspor ke AS Meledak 170%
INDUSTRY.co.id - Jakarta – Industri keramik nasional menunjukkan tren pemulihan yang signifikan sepanjang 2025. Berdasarkan data Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), kinerja utilisasi produksi nasional periode Januari–Oktober 2025 tercatat sekitar 72,5%, meningkat dari capaian semester I-2025 sebesar 71%.
Peningkatan ini selaras dengan prediksi ASAKI bahwa “peak season” permintaan keramik biasanya terjadi pada semester kedua setiap tahunnya, terutama di bulan Agustus hingga Desember.
Sepanjang Januari–Oktober 2025, volume produksi keramik nasional diperkirakan mencapai 392,7 juta meter persegi, atau tumbuh sekitar 16% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan ini didorong oleh sejumlah kebijakan dan faktor pendukung, di antaranya: Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditanggung Pemerintah (DTP), Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk kontraktor dan pengusaha bahan bangunan, Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebanyak 350.000 unit rumah, serta Substitusi produk keramik impor dari China.
“Seharusnya tingkat utilisasi keramik nasional tahun 2025 bisa mencapai 80–85% apabila didukung kelancaran pasokan gas dan percepatan realisasi program 3 juta rumah,” jelas Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto di Yogyakarta (10/11).
ASAKI memproyeksikan tingkat utilisasi produksi keramik nasional hingga akhir 2025 mencapai 73%, meningkat signifikan dibanding 2024 yang hanya 66%.
Sementara total produksi nasional tahun 2025 diperkirakan mencapai 474,5 juta m², naik sekitar 15% dari total produksi 2024 sebesar 412 juta m².
Melihat tren positif ini, ASAKI optimistis target utilisasi kapasitas nasional keramik tahun 2026 dapat mencapai 78–80%, seiring dengan membaiknya iklim usaha dan dukungan kebijakan pemerintah.
Sementara, kinerja ekspor industri keramik nasional juga mencatat pertumbuhan positif. Selama Januari–Juli 2025, ekspor keramik Indonesia tumbuh 17%, dengan AS sebagai negara tujuan terbesar (naik 170%), disusul Malaysia (50%) dan Filipina (32%).
Meski demikian, ASAKI juga mencermati lonjakan tajam impor produk keramik dari beberapa negara seperti: India naik 120%, Vietnam naik 130%, dan Malaysia melonjak 170%.
"Kondisi ini menjadi indikasi awal terjadinya praktik unfair trade dan transshipment produk dari China, untuk menghindari Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) dan Safeguard yang berlaku bagi produk asal Tiongkok," tegasnya.
Di sisi lain, industri keramik masih menghadapi beberapa tantangan utama, seperti gangguan pasokan gas dan kelangkaan bahan baku utama, yaitu clay dan feldspar.
Krisis bahan baku ini terjadi setelah Gubernur Jawa Barat mencabut sejumlah izin tambang tanah bahan baku keramik, yang selama ini menjadi sumber utama bagi banyak pabrikan.