INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kontrak emas GOLDUD menutup fluktuasi pekan kemarin dengan koreksi tipis sebesar 0,59% ke level USD1.793,60 per Troy Ons. Hal itu diungkapkan Muhammad Dzaki Adani, Research & Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) dalam keteranganya yang dikutip INDUSTRY.co.id, Kamis (4/11/2021).
"Meskipun suasana pasar yang secara luas masih mendukung emas untuk tetap menguat akhir-akhir ini, dampak rebound Dolar AS belum dapat dielakkan dan menantang investor menjelang data/peristiwa penting minggu ini," kata Dzaki.
Namun, lanjut Dzaki, pondasi harga emas terbaru untuk tidak terjun lebih jauh dapat dikaitkan dengan kekhawatiran pasar akan berakhirnya kebijakan stimulus yang digelontorkan selama pandemi.
"Juga, perlu dicatat bahwa harapan stimulus AS dan beberapa bank sentral utama dunia yang juga tampil ke pers, bertindak sebagai katalis tambahan yang setidaknya ikut menyumbang pondasi bagi harga emas," imbuhnya.
Dari pidato pejabat The Fed, Powell melihat bahwa inflasi dapat melemah tahun depan sementara Bank Sentral AS kini bersiap untuk menurunkan tingkat pemberian stimulus.
Dengan pernyataan tersebut, menurut Dzaki, terlihat sedikit memberikan harapan bahwa akan ada perubahan arah angin kebijakan moneter AS paling tidak pada pertemuan the Fed bulan depan, sehingga membuat nilai USD relatif menguat terhadap harga emas, walaupun belum ada signal akan terjadi perubahan tingkat suku bunga AS.
Selanjutnya dari data, rilis angka GDP AS pekan ini hanya menunjukan pertumbuhan sebesar 2% dibandingkan periode sebelumnya yang mengalami pertumbuhan sebesar 6,7%.
Dari sejumlah ekonom, perlambatan pertumbuhan yang terjadi tersebut diakibatkan oleh kondisi COVID-19 yang mengganggu rantai pasokan yang berujung pada mundurnya pasokan atas suku cadang mobil sehingga menekan permintaan pasar.
"Secara garis besar, dengan rendahnya tingkat pertumbuhan tersebut, para pelaku pasar mengkhawatirkan bahwa pada pertemuan the Fed mendatang, akan kembali gagal diputuskan terjadinya kenaikan tingkat suku bunga AS atau paling tidak terjadi pengurangan jumlah stimulusnya," imbuhnya.
Selain fokus dari dalam AS, selanjutnya, dampak dari pernyataan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa yang dovish terhadap Euro telah diredam. ECB telah berpegang pada rencana tersebut, dengan Presiden, Christine Lagarde mendorong harapan kenaikan suku bunga kembali ke setidaknya pada akhir 2022 karena menurut Bank tekanan inflasi akan menurun selama tahun depan.
Juga, BoJ mempertahankan status quo sambil menjaga suku bunga rendah di -0,10%. Bank sentral juga memangkas perkiraan inflasi konsumen tahun ini menjadi 0% dari 0,6%.
Dua isu akan bermain pekan ini, dengan pertemuan The Fed yang dimulai pada 1 November dan data Non-Farm Payroll yang akan rilis hari Jumat nanti. Khususnya pertemuan the Fed, pelaku pasar di seluruh dunia tengah menantikan signal lanjutan terkait potensi penyesuaian kebijakan moneter yang dapat mempengaruhi tingkat imbal hasil obligasi AS atau menggerakan nilai USD.
Sementara untuk data Non-Farm Payroll, data pekan ini diharapkan akan menunjukan data yang lebih baik dari rilis sebelumnya karena menunjukan perbaikan setelah data Non-Farm Payroll yang terpuruk pada rilis bulan lalu.