Media Digital Jangan Dijadikan Referensi Satu-satunya Saat Belajar Agama

Oleh : Chodijah Febriyani | Jumat, 22 Oktober 2021 - 12:05 WIB

Ilustrasi Internet (Ist)
Ilustrasi Internet (Ist)

INDUSTRY.co.id - Di Internet memang kita dapat melakukan apapun, mencari informasi, ilmu pengetahuan yang kita inginkan termasuk ilmu agama. Namun, perlu diperhatikan saat mencari ilmu agama sesuatu yang harus diperhatikan lebih karena menyangkut hubungan dengan Tuhan. Tidak cukup hanya mengandalkan media digital.

Ahmad Dzikri, Ketua Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) Garut mengatakan, ada rambu-rambu ketika belajar agama di dunia maya. Di dunia maya hanya sebagai media yang dapat mempermudah pencarian pengecekan dan prolog dalam mengetahui suatu masalah. 

"Jangan kita jadikan media digital ini satu satunya referensi kita. Kita harus tetap memiliki guru secara langsung kemudian berdiskusi serta berkomunikasi. Serta menanyakan bahwasanya pengetahuan yang kita dapatkan, apakah benar adanya dan bagaimana hasilnya Apakah sesuai dengan apa yang kita ketahui sebelumnya," jelasnya saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, melalui siaran pers yang diterima Industry.co.id.

Platform di dunia maya yang kerap digunakan untuk belajar agama ini biasanya, Instagram, Facebook atau website. Sebetulnya harus tetap diteliti saat mendapatkan informasi-informasi tersebut. Ahmad menegaskan, belajar agama tidak cukup hanya dengan membaca tulisan di depan layar atau di media sosial.

Dalam tradisi Islam ada sebuah etika atau kultur dari zaman dahulu belasan abad yang lalu. Jika ingin belajar agama itu harus memiliki guru jadi sangat berlaku hingga saat ini. Sehingga tidak hanya di depan layar saja atau hanya dengan berselancar dengan jari jemari kita.

Harus ada orang yang dapat kita tanya, ada orang yang bisa kita ajak berdiskusi dan dan transformasi nilai akhlak etika jadi tidak bisanya disalurkan dengan mencukupkan belajar dari dunia maya. Di dunia maya hal yang menjadi catatan negatif yakni tidak bisa mentransfer nilai akhlak dan etika.

Analogi sederhana dalam belajar agama dalam tradisi Islam mengenal istilah ada tafsir, bagaimana menafsirkan perkataan Allah SWT yang mana harusnya pembelajar ini ketika menginginkan atau ingin mengetahui bagaimana maksud yang ingin ditunjukkan oleh Allah SWT.

Ada dua acara yakni Tafsir Bil Ma'tsur dan Tafsir Bil Ra'yi. Metode tafsir bil ma'tsur atau menafsirkan dengan cara mengutip rujukan yang tidak hanya berasal dari Al-qur'an saja karena dalam disiplin ilmu Islam satu per satu ayat dikaitkan dengan ayat lain ataupun dengan hadits.
Merujuk pada hadis juga ketika sedang belajar tafsir serta perkataan dari para sahabat yang mendapat penjelasan langsung dari Nabi Muhammad menafsirkan bukan berdasarkan akal dan hawa nafsu.

"Jadi ketika belajar lewat media sosial atau dunia maya kadang kita tidak memperhatikan hal-hal itu. Ketika kita mendapatkan sebuah informasi nanti yang menafsirkannya itu sesuai dengan keinginan kita sendiri. Padahal jika belajar langsung kepada guru pasti ada pembandingnya atau ada orang yang bisa diajak untuk berdiskusi," tuturnya.

Hal ini merupakan nilai-nilai yang harus diseimbangkan dengan keterbukaan informasi yang kita dapatkan di media sosial. Seimbangnya dengan hal-hal yang harus kita kerjakan secara langsung tatap muka supaya tidak salah dalam mempelajari agama

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 - untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (21/10/2021) siang, juga menghadirkan pembicara, Ria Aryani (Praktisi Humas dan Komunikasi), Stefany Anggriani (Makeup Influencer), dan Shinta Putri sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 - untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Artis ChaCha Marisa

Selasa, 05 Juli 2022 - 12:42 WIB

Artis ChaCha Marisa Kesal Foto Syurnya Tersebar di Medsos, Lapor Polisi

Bintang film dan model iklan laris Chacha Marisa kesandung masalah, foto syurnya tersebar luas di media sosial. Dengan kasus yang menimpanya, bintang film Makmum 2, Gentayangan, Perjanjian dengan…

Presiden dan Ibu Iriana Disambut Tradisi Penyambutan oleh Taruna saat Tiba di AKPOL Semarang

Selasa, 05 Juli 2022 - 12:30 WIB

Presiden dan Ibu Iriana Disambut Tradisi Penyambutan oleh Taruna saat Tiba di AKPOL Semarang

Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Iriana Joko Widodo tiba di Gerbang Tanggon Kosala, Akademi Kepolisian (Akpol), Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa, 5 Juli 2022, sekitar pukul 07.15 WIB.…

BCA Raih Penghargaan Gold Champion dalam BISRA Award 2022

Selasa, 05 Juli 2022 - 12:22 WIB

BCA Raih Penghargaan Gold Champion dalam BISRA Award 2022

Komitmen PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) dalam menghadirkan service excellence dan inovasi terdepan serta nilai tambah bagi masyarakat telah mengantarkan BCA dalam beberapa ajang penghargaan.…

OPPO Rayakan 100 Tahun Center Court dengan menjadi Mitra Global Wimbledon

Selasa, 05 Juli 2022 - 11:25 WIB

OPPO Rayakan 100 Tahun Center Court dengan Menjadi Mitra Global Wimbledon untuk 4 Tahun Berturut-Turut

OPPO melanjutkan komitmen untuk menginspirasi pengguna globalnya, OPPO merayakan hari jadi Centre Court yang ke-100 dengan meluncurkan kampanye terbarunya bernama Inspiration Ahead. Center Court…

Ilustrasi perumahan MBR

Selasa, 05 Juli 2022 - 10:54 WIB

Hingga Semester I Tahun 2022, Kementerian PUPR Telah Salurkan FLPP Untuk 99.557 Unit Rumah

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berkomitmen untuk meningkatkan akses masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terhadap rumah layak huni dan terjangkau melalui bantuan pembiayaan…