INDUSTRY.co.id - Transformasi digital mempengaruhi perbedaan hidup masyarakat termasuk dalam urusan berbelanja. Sebelum memasuki era belanja online, jika kita ingin membeli harus pergi dulu keluar rumah berurusan dengan lalu lintas serta parkir di tempat pembelanjaan yang kita tuju. Entah itu supermarket, minimarket dan juga mall. 

Setelah itu, kita akan menghabiskan berjam-jam untuk memilih barang yang tepat dan memiliki usaha yang cukup berat seperti berjalan mengelilingi mall tentunya ini memerlukan tenaga. 

Yuwita Rianasari, guru SMAN Teluk Jambe menambahkan, belum lagi jika ada sale kita harus menembus kerumunan orang dan mengantri untuk membayar pembelian.  Namun dengan adanya budaya teknologi kita juga memiliki cara berbelanja yang sudah bergeser. 

Menjadi lebih menghemat waktu karena hanya memerlukan beberapa klik untuk mengunjungi toko online. Begitu juga dengan memilih hanya perlu beberapa detik untuk dapat langsung berpindah memilih barang lain.

"Kita memilih berbelanja online di tempat yang terpercaya seperti marketplace atau official store. Karena mereka adalah pihak ketiga yang sudah memiliki kepercayaan yang tinggi. Jika Kita terpaksa membeli melalui website atau Instagram, kita bisa memilih ke official Store itu lebih terpercaya karena langsung dari perusahaannya," jelasnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, melalui siaran pers yang diterima Industry.co.id.

Seperti apa belanja online yang aman di marketplace, Yuwita mengatakan harus melihat dulu reputasi dari online shop tersebut. Biasanya di marketplace itu terdapat review-review dari para pelanggan online shop tersebut. Selain itu kita juga dapat melihat bintang yang biasanya memberikan peringkat kepada pelanggan. 

Lalu lakukan transaksi yang aman, jika berbelanja di marketplace memang sudah aman. Namun jika masih ingin yang lebih aman yakni cara pembayaran Cash on Delivery (COD) bagi yang ingin langsung bayar ketika barang.

"Hati-hati ini juga banyak penipuan nya dengan mengajak ketemuan di sebuah tempat, kalau kita melakukan COD dan kita tidak punya waktu untuk memeriksa barang tersebut. Setelah dibuka ternyata produk tidak kecewa setelahnya,"tutupnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 - untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (14/10/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Eko Prasetyo (Praktisi IT), Kathrine (Owner organicrush), Aristyo Hadikusuma (Director of Otomasi Inovasi Indonesia), dan Martin Kax (Kreator Konten) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 - untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.