INDUSTRY.co.id, Jakarta – Wakil Presiden Maruf Amin dan Menko PMK Muhadjir Effendi mengapresiasi Kegiatan Kreasi Virtual Katolik Indonesia (KVKI), 2-28 Oktober 2021. Dalam babak final Lomba Cerdas Cermat Rohani (CCR) KVKI Kategori Anak, Minggu (10/10/2021), juara bertahan Tim DKI berhasil tampil sebagai juara, sedangkan Tim Maluku menjuarai kategori remaja.
Ketua Umum LP3KD Provinsi DKI Jakarta, Romo Antonius Suyadi, Pr, mengatakan, semua anak- anak kita dari Sabang sampai Merauke hebat- hebat semuanya. Semua Pemenang. Yang membedakan hanya kecepatan.
“Senang sekali akhirnya kami bisa mempertahankan gelar juara yang diraih tahun 2018. Perlombaan ini benar-benar menantang. Saya bangga dengan kemampuan dan semangat juang anak-anak kami yang didukung kerjasama yang baik dari orangtua dan tim pendamping,” ujar Romo Antonius Suyadi, Pr, usai laga final, Minggu (10/10/2021).
Tim Lomba CCR DKI Jakarta keluar sebagai juara setelah mengalahkan tiga tim finalis lainya yaitu Banten, Maluku, dan Sulawesi Utara di babak final, Minggu (10/10/2021) pagi. Dalam laga final kategori remaja, Tim Maluku menjadi juara disusul Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Barat.
Laga final kategori anak berlangsung ketat dan menegangkan. Dalam sesi 10 pertanyaan wajib, keempat tim meraih hasil sempurna dengan nilai 1.000. Dalam sesi 10 pertanyaan rebutan, tim DKI meraih nilai 400, Banten 400, Maluku 200, dan Sulut 0. Untuk menentukan pemenang, maka dua tim teratas, DKI dan Banten, kembali bertarung di babak penentuan dengan 5 soal rebutan.
Hasilnya, DKI meraih nilai 300 dan Banten 200. Dengan demikian, DKI Jakarta mengoleksi total nilai 1.700, disusul Banten 1.600, Maluku 1.200, dan Sulawesi Utara 1.000.
“Wah, tegang sekali saat melawan Banten di laga penentuan. Beruntung kami lebih sigap sehingga memimpin 300 lawan 100, sehingga soal nomor 5 kami lepas karena tidak berpengaruh lagi,” ujar Priscila.
Tim Lomba Cerdas Cermat Rohani DKI Jakarta tahun 2021 terdiri dari 3 orang. Mereka adalah Priscila Angelica Catherine Tulis (Paroki Jagakarsa, Lenteng Agung, SMPN 98), Jonathan Ernest Poniran (Paroki Tomang, SMP Sang Timur), Kimberly Adi Putri (Paroki Kelapa Gading, SMP St. Yakobus). Sedangkan Frans disiapkan sebagai peserta cadangan.
Pengakuan serupa disampaikan Kimberly dan Ernest. Kimberly mengaku sangat tegang dan tidak kuat melihat layar beberapa detik sebelum tim juri menampilkan jawaban penentuan ditampilkan di layar. Jika jawaban DKI benar, maka gelar juara pun dalam genggaman.
“Saya menutup mata rapat-rapat. Kedua tangan Ernest memegang kepalanya. Kedua tangan Priscila juga menutup matanya tapi sambal ngintip layar. Soalnya, jawaban itulah yang akan memastikan apakah kami juara atau tidak. Benar-benar pengalaman luar biasa yang tak akan terlupakan,” ujar Kimberly.
Begitu jawaban muncul di layar dan jawaban itu benar, kubu DKI sontak meledak. “Kami langsung melonjak kegirangan. Karena itulah puncak dari perjuangan panjang dan melelahkan,” kata Ernest yang juga menjadi juru bicara Tim DKI Jakarta.
Sebelum melaju ke laga final, tim DKI menyingkirkan NTB, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Utara di babak penyisihan, Jumat (8/10/2021). Di babak semifinal, Sabtu (9/10/2021), DKI melaju ke final bersama Sulawesi Utara setelah menyingkirkan Bali, Nusa Tenggara Barat.
Pembimbing Tim DKI, Richard, mengakui lomba cerdas cermat virtual ini sangat menantang. Selain status juara bertahan, lomba secara virtual di tengah pandemi Covid-19 menuntut kesiapan matang beberapa aspek teknis yang tidak mudah.
“Saya sangat senang dan bangga atas motivasi, semangat, dan perjuangan anak-anak dan orangtua. Kerjasama yang baik antara anak, orangtua, pembimbing, dan tim teknis ikut menentukan keberhasilan tim mempertahankan gelar juara,” ujar Richard.
Yosef Tor Tulis, ayah dari Priscila Angelica Catherine Tulis, menyebut tiga kunci keberhasilan tim DKI. Pertama, kemampuan dan motivasi ketiga anak yang hampir setara sehingga membuat ketiganya saling percaya. Kedua, semangat kebersamaan dan kekompakan orangtua dalam membimbing dan memotivasi untuk meraih hasil terbaik.
“Ketiga, diskusi terbuka dan intensif antara orangtua dan anak-anak bersama Tim Pembimbing. Ketiga faktor tersebut saling terkait dan saling mempengaruhi, terutama karena lomba digelar secara virtual sehingga banyak hal harus didiskusikan, disepakati, dan disimulasikan, baik terkait substansi maupun teknis lomba,” ujar Yosef.
Pesan Wapres Maruf Amin
Kegiatan KVKI diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani (Pesta Paduan Suara Rohani) Katolik Nasional (LP3KN) yang bernaung di bawah Direktorat Jenderal Bimas Katolik Kementerian Agama RI. Kegiatan KVKI digelar sebagai kegiatan ‘pengganti’ Pesparani Katolik tahun 2021 sebelum pagelaran Pesparani tahun 2022 di Kupang, NTT.
Kegiatan KVKI tahun 2021 dibuka oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Oktober 2021. Dalam acara pembukaan itu, hadir dan turut memberikan sambutan Menteri Agama Yaqut Cholil Quomas, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo , Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro, dan Ketua LP3KN Adrianus Meliala. Selain cerdas cermat rohani, KVKI Pesparani 2 melombakan Mazmur Tanggapan dan Tutur Kitab Suci.
Sebelum babak semifinal digelar, Sabtu (12/10/2021), Wakil Presiden KH Maruf Amin dalam sambutannya mengajak umat Katolik Indonesia mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19 yang masih melanda negeri ini. Maruf Amin mengakui umat Katolik Indonesia terkenal sebagai elemen bangsa yang disiplin dan patuh pada pimpinan agamanya.
Karena itu Wapres meminta umat Katolik untuk terus mematuhi imbauan para pemuka agama, khususnya terkait penerapan protokol kesehatan dan mengikuti program vaksinasi.
"Saya kembali mengharapkan kedisiplinan dan kepatuhan semua umat Katolik, apabila mendengar permintaan mulai dari Kardinal, para Uskup, demikian juga para Pastor, untuk dapat terus mengingatkan pentingnya disiplin protokol kesehatan dalam rangka memutus rantai penyebaran Covid-19," ujarnya.
Wapres berharap kepada seluruh umat Katolik dan seluruh peserta KVKI untuk berkontribusi kepada bangsa dan negara. Dikatakan, target saat ini bukan hanya lepas dari pandemi, tetapi juga keluar dari krisis.
"Langkah kita adalah melakukan lompatan besar dengan mengambil hikmah dari momentum krisis, mengejar ketertinggalan untuk membangun Indonesia yang lebih baik," kata Wapres.
100% Katolik, 100% Patriot
Pada kesempatan yang sama, Menko PMK Prof. Dr. Muhadjir Effendy mengaku bangga bisa bertatap muka dan berbicara dengan komunitas Katolik dalam Kegiatan KVKI bertema ‘Persaudaraan Insani di Tengah Pandemi’. Menurut Effendi, kegiatan KVKI adalah respons kreatif dan positif umat Katolik atas kondisi pandemi Covid-19 yang dihadapi Bangsa Indonesia.
“Tema KVKI ini bermakna membina iman umat Katolik yang sejatinya tidak hanya sebagai warga umat beriman tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat Bangsa ini. Saya memandang tema ini sangat relevan dan selaras dengan harapan kita Bersama yang saat ini ditantang untuk mengatasi pandemi Covid-19 dengan segala dampak yang menyertainya,” ujar Muhadjir.
Muhadjir berpesan agar umat Katolik menghayati dan mengamalkan semboyan 100% Katolik, 100% Patriot yang diwariskan Uskup pertama Indonesia, Mgr. Albertus Soegijapranata. Ia mengutip salah satu surat gembala Mgr. Albertus kepada umat Katolik Indonesia.
“Melalui surat gembalanya itu, semangat yang beliau ajarkan bahwa kita sebagai pemeluk agama tidak berhenti sebagai umat beriman saja tetapi harus berpartisipasi dalam membangun bangsa,” kata Muhadjir.
“Oleh karena itu, semboyan beliau yang terkenal ‘100% Katolik, 100% Patriot’ masih sangat relevan untuk kita jalankan saat ini. Itulah semangat yang menjadi dasar lahirnya banyak tokoh Katolik yang memberikan sumbangsih dan jasa mereka bagi bangsa ini.”
Sejalan dengan Muhadjir, Ketua KWI Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo mengatakan, kegiatan KVKI menjadi sarana untuk menanamkan semangat nasionalisme. Yakni, dengan mewarisi rasa semangat cinta Tanah Air yang diwariskan oleh para pendiri bangsa dan oleh para perintis Gereja Katolik di Indonesia.
"Saya yakin acara Kreasi Virtual Katolik Indonesia ini akan menjadi sarana menanamkan rasa nasionalisme itu dengan mewarisi rasa semangat cinta Tanah Air yang diwariskan kepada kita semua oleh para pendiri bangsa kita dan oleh para perintis Gereja Katolik di Indonesia," ucapnya dalam sambutan virtual.
Terkait solidaritas, Kardinal Suharyo mengatakan, hal yang patut disyukuri adalah salah satu watak bangsa Indonesia yang sangat unggul, yaitu kesetiakawanan. Menurutnya, kesetiakawanan ini sangat jelas ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional.
“Salah satu penelitian yang saya baca, hasilnya menunjukan bahwa dalam hal kerelaan memberi Indonesia diletakkan pada nomor 1 dari antara 146 negara. Di dalam hal solidaritas sosial, Indonesia menempati nomor 6 dari 167 negara. Ini adalah watak bangsa kita yang mesti dirawat dan dikembangkan kalau tidak akan ada kemungkinan menjadi luntur,” ucapnya.
Untuk itu, Kardinal Suharyo mengatakan, salah satu cara untuk mengembangkan watak solidaritas dan merawatnya adalah mencari inspirasi iman yang khas Katolik. “Inspirasi itu dapat kita bawa dalam kitab suci tentu saja karena menurut Kitab Kejadian sangat jelas bahwa Allah pencipta adalah Allah yang peduli,” ucapnya.
“Kerelaan berbagi, kerelaan memberi, solidaritas sosial adalah wujud dari kepedulian itu. Bukan sekadar kepedulian yang didorong oleh motivasi kemanusiaan, Tetapi juga oleh inspirasi iman,” tambahnya.