INDUSTRY.co.id - Masyarakat Indonesia memiliki ciri khas yang kental dengan budaya gotong royong. Ciri khas tersebut membuat kita menjadi masyarakat bersama yang hidup secara harmonis, mengutamakan kebersamaan, dan sangat beragam.

“Nilai komunal yang ada di masyarakat membuat kita sadar bahwa tanpa orang lain kita tidak bisa hidup sendiri. Jadi dalam kehidupan kita harus punya teman atau bersama dengan orang kain,” jelas Clara Tobing, Kaprodi Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, melalui siaran pers yang diterima Industry.co.id.

Akan tetapi, pola interaksi komunal itu berubah semenjak era digital dan pandemi covid-19. Di masa ini, masyarakat banyak beraktivitas secara virtual yang menyebabkan migrasi dari ruang fisik ke ruang maya.

Menurut Clara, hal ini membuat realitas kita berubah menjadi realitas maya. Komunitas yang ada juga berubah menjadi komunitas virtual. Kita tetap menjadi bagian masyarakat meski hanya berinteraksi secara virtual. Manusia bebas beraktivitas dan berinteraksi tanpa dibatasi jarak dan waktu. 

Sayangnya, kondisi serba virtual membuat yang jauh menjadi dekat, yang dekat menjadi jauh. Namun, ruang maya ini menyebabkan besarnya rasa individualitas di masyarakat, tidak adanya aturan yang tegas, dan rentan terhadap konflik juga perpecahan.

“Hal ini mengakibatkan seseorang menjadi digital dominan. Di mana seseorang menghabiskan waktunya lebih banyak denan teknologi dibandingkan berinteraksi secara langsung dengan orang lain,” tutur Clara.

Dengan demikian, di era digital ini banyak yang menganggap hidup sebagai sebuah kompetisi untuk mencari popularitas. Sikap tersebut juga yang membuat orang lebih memikirkan kuantitas dibandingkan kualitas, serta berkurangnya rasa empati dan simpati terhadap orang lain.

Clara menyampaikan, agar tidak menjadi seseorang yang individualis. Di era ini kita bisa mengikuti berbagai komunitas yang ada di lingkungan sekitar atau instansi pendidikan kita. "Bergabung ke dalam suatu komunitas dapat melatih interaksi kita serta berkarya di era digital," pungkasnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 - untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (30/9/2021) juga menghadirkan pembicara, Klemens Rahardja (Founder The Entrepreneur Society), Ika Simima (Dekan Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya),  Sugeng (Sekretaris Prodi Magister Ilmu Hukum Universitas Bhayangkara jakarta Raya), dan Ayu Imanda (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.