INDUSTRY.co.id - Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan sebuah kabar baik dimana akhir-akhir ini suara sirine drai mobil ambulance sudah jarang terdengar, dan media sosial juga sudah tidak lagi ramai soal kebutuhan tabung oksigen atau plasma konvalesen.
"Sebuah kondisi yang patut di syukuri bukan terjadi begitu saja melainkan hasil upaya bersama untuk menekan laju penularan Covid-19," ujar Anies, seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id dari unggahannya di Facebook @aniesbaswedan pada Minggu (26/9/2021).
Dimana, sebut Anies, kasus aktif COVID-19 pada hari Sabtu (25/9) tercatat 1.972 kasus. Terakhir kali kasus aktif di Jakarta di bawah 2.000 adalah pada tanggal 14 April 2020.
Kemarin (24/9), angka pemakaman protap COVID-19 juga menunjukkan rekor terendah yakni 3 jenazah.
"Di balik melandainya angka kasus COVID-19 di Jakarta hari ini ada peran ribuan - jutaan orang, termasuk Anda yang sedang membaca tulisan ini. Terima kasih karena telah dan terus disiplin protokol kesehatan dan sudah divaksinasi, teman-teman ikut menjaga Jakarta," ucap Anies.
Dijelaskannya lebih lanjut, kondisi seperti saat ini tidak tiba-tiba bagus tapi ini bisa terjadi karena Jakarta sudah mempersiapkannya sejak awal.
Menurutnya, DKI Jakarta bukan baru-baru ini saja menyikapi covid 19 secara serius tapi dari awal virus ini dinyatakan sebagai Pandemi oleh lembaga kesehatan dunia/WHO, Jakarta langsung bergerak mengantisipasinya.
2 Maret 2020, lanjut Anies, menandakan keseriusan pemprov DKI Jakarta terhadap fenomena ini dengan membentuk Tim Tanggap Covid-19.
Jakarta kemudian mempraktikkan teori penanganan Pandemi dengan 5 konsep, yakni: Kolaborasi, Scientific, Data Driven Policy, Transparansi, Kesiapan System.
Dijelaskannya, Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan para epidemiolog, mengundang asosiasi profesi, salah satunya FKMUI untuk menyusun kebijakan selama Pandemi.
"Data, data ,dan data itulah yang menjadi pegangan," ucapnya.
Menurutnya, DKI Jakarta selalu mendengarkan para saintis menganggap data itu penting dan menangani Pandemi ini berbasis sains.
Testing,Tracing, dan Treatment atau 3T juga terus digencarkan. Karena menurutnya, semakin banyak orang yang di tes, semakin banyak yang di lacak maka semakin banyak juga yang dapat perawatan dan bisa tertangani dengan baik.
Selain itu, penanganan pandemi juga didukung oleh kesiapan sistem yang baik di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.
Dimana, semua organisasi perangkat daerah mengerahkan seluruh sumber daya yang di punya.
Kapasitas RS-pun sebut Anies terus ditingkatkan. Salah satunya dengan mendirikan tenda-tenda darurat. Tempat isolasi terkendali ditambah, dengan memanfaatkan rusun-rusin yang ada di Jakarta.
Kemudian, pengawasan terhadap kegiatan ekonomi sosial diperketat. Semua dinas teknis membantu mengangkut tabung-tabung oksigen.
Bahkan, Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, juga ikut mengerahkan mobil tahanan dan barang bukti untuk distribusi tabung oksigen.
"Dengan demikian, laju kasus dikendalikan," papar Anies.
Berbagai kesiapan dan upaya itu enggak kelihatan. Tapi grafik dan data-data berikut ini menjadi pembuktian.
"Kita lihat grafik kasus aktif ini, naiknya cepat, turunnya juga cepat. Jakarta pernah diangka 113 ribu kasus aktif pada puncak gelombang 2, 16 Juli lalu. Bahkan, kasus aktif Jakarta saat ini lebih rendah daripada awal terjadinya Pandemi," jelas Anies.
Tahun lalu, sambung Anies, bisa sebanyak 6.000 kasus aktif dalam sehari, sekarang diangka 3.000-an kasus aktif sehari.
Sejak pertengahan bulan Juni dan gelombang ke dua mencapai puncaknya dipertengahan bulan Juli lalu, kasus positif, kematian hingga pemakaman Protap COVID-19 meningkat di Jakarta.
Puncaknya pada 10 Juli 2021, tercatat 404 pemakaman protap COVID-19. Dan pada 20 Juli 2021 tercatat 265 kematian terkonfirmasi COVID-19.
"Tapi kini, dari grafik kematian dan pemakaman protap COVID-19 bisa kita lihat penurunan angkanya yang signifikan. Angka turun hingga kurang dari 10 dan pemakaman protap COVID-19 ke kisaran 15-an," terang Anies.
Dicky Budiman seorang epidemiolog dari Griffith University Australia menguatkan data tersebut. Menurutnya Jakarta adalah Provinsi yang bisa menunjukkan mengendalikan Pandemi saat ini berbasis sains yaitu 5M dan 3T dengan perjalanan panjang.
"Karena, ada daerah yang positivity rate turun tapi semua, lemah, bangunan yang tidak kuat potensi runtuhnya cepat," Dicky Budiman.
"Jakarta konsisten menerapkan 3T sejak awal Pandemi. Kasusnya diawal banyak tapi ini berbuah panjang yang buahnya positif, sehingga memahami situasi. Selain 3T dibanding daerah lain juga Vaksinasinya cepat," sambungnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Pandu Riono yang merupakan epidemiolog dari UI.
Menurutnya, tanggap respon wabah dari Pemprov DKI Jakarta berbasis ilmu pengetahuan.
"Menurut saya yang dilakukan Jakarta adalah sesuatu yang harus kita pelajari, karena prinsip-prinsip yang diterapkan itu memang prinsip-prinsip yang berdasarkan ilmu pengetahuan bagaimana menangani wabah," Pandu Riono/epidemiolog UI.
"Dari data yang dimiliki Pemda DKI, kita bisa melihat bagaimana curva Pandemi-nya melandai. Itu artinya, memang ada efek dari penekanan Pandemi dan penanganan Pandemi di Jakarta terbukti berdampak secara empiris," jelas Pandu.
Menurut Anies Baswedan, pihak nya juga mengedepankan tranparansi, dimana seluruh data-data ini terbuka untuk publik, dan bisa diakses melalui situs resmi www.corona.jakarta.go.id
Tak hanya itu, bahkan seluruh laporan kasus harian juga diunggah diakun media sosial Pemprov DKI Jakarta.
Jadi, menurut Anies, seluruh data yang tersaji ini bukanlah sekedar angka, disana ada saudara, sahabat, bahkan ada banyak anak yang kehilangan orang tuanya.
"Jadi, kita perlu sama-sama berusaha menurunkan angka kematian ini dan meminimalisir keparahan gejala, jika terkena Covid-19. Caranya? dengan ikut vaksinasi," jelas Anies.
Terkait vaksinasi, Ia menyampaikan bahwa capaian vaksinasi di Jakarta ini tak lepas dari dukungan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kesehatan serta kolaborasi besar dengan seluruh stakeholder di Jakarta.
"Pemprov DKI Jakarta tidak bergerak sendiri dalam vaksinasi ini, melainkan berkolaborasi denga tiga pilar, yaitu TNI, POLRI, dan Kejaksaan Tinggi, yang bekerja sebagai satu kesatuan," ucapnya.
Selain itu, capaian vaksinasi massal juga tercipta berkat partidipasi pihak swasta dan masyarakat.
Dan setiap kolaborator yang mengadakan vaksinasi juga didukung oleh aplikasi JAKI besutan Pemprov DKI Jakarta.
"Proses vaksinasi dapat berjalan lebih lancar dan terdata dengan baik. Atas kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, jumlah orang yang di vaksin pun terus bertambah," tandas Anies.
Untuk diketahui, vaksinasi di Jakarta sendiri telah mencapai 10 juta untuk suntikan dosis pertama, dan 6,9 juta untuk suntikan dosis kedua.
Menurut Anies, seluruh kecamatan di Jakarta telah melakukan vaksinasi minimal 60% terhadap warganya.
"Kolaborasi dengan tiga pilar ini, dilakukan secara berkelanjutan untuk mengendalikan Pandemi di ibukota," tukas Anies.
"Kerjasama bersama ini belum selesai jangan karena kasus sudah landai, kita langsung jadi abai. justru, kita perlu menahan diri, agar gelombang kasus tidak terjadi lagi," tutup Anies.