INDUSTRY.co.id - Hoax atau berita bohong mudah meluas di masyarakat karena informasi hoaks umumnya bersifat sensasional hingga membuat penerimanya merasa perlu untuk menyebarkan informasi tersebut tanpa melakukan konfirmasi kebenaran.
Menurut suveri masyarakat telematika Indonesia (Mastel) tahun 2019, sebanyak 43,5 persen mengaku berita hoaks biasanya didapat dari orang yang dipercaya, sementara 29,3 persen mengira informasi tersebut bermanfaat dan 18,9 persen mengira bahwa informasinya benar, dan 3,7 persen responden mengaku ingin menjadi yang pertama memberitahu informasi, sisanya 4,6 persen mengaku hanya iseng saat menyebarkannya.
"Masyarakat perlu mengetahui cara mengidentifikasi hoaks yakni dengan mengetahui ciri-cirinya," kata Roky. R Tampubolon, seorang Praktisi Hukum saat menjadi narasumber di Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat I, melalui siaran pers yang diterima Industry.co.id.
Untuk mewaspadainya, masyarakat perlu berhati-hati dengan judul yang provokatif. Selain itu cermati juga alamat situs sumber berita, periksa fakta dan keberimbangan sumber berita, cek juga keaslian foto dan video, dan ikuti grup diskusi anti hoaks.
Sekarang sudah ada platform digital untuk cek kebenaran berita, seperti situs https://turnbackhoax.id, dan https://cekfakta.com.
"Teman-teman bisa berpartisipasi dengan cara lapor berita atau informasi hoax kepada otoritas media terkait. Untuk media sosial seperti Facebook dan Instagram ada fitur report. Selain itu juga dapat mengadukan konten negatif tersebut ke Kementerian Kominfo langsung ke alamat email [email protected]," tuturnya lagi.
Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.
Di webinar kali ini hadir pula narasumber lainnya yaitu Dino Hamid, Founder Famgofest & Latomochi, Sandy Natalia, Co-Founder of Beauty Cabin, dan Fiona Damanik, Konseler dari Universitas Multimedia Nusantara.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.