INDUSTRY.co.id - Jakarta, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) menilai, dampak dari kemarau dan bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan pada tahun lalu mengurangi produktivitas perkebunan sawit sampai dengan 50%.
"Kami berharap produksi sawit bisa menyentuh angka tiga juta ton pada tahun ini. Sementara itu produksi tahun sebelumnya bisa mencapai 3,2 juta ton," kata Ketua Gapki Sumatera Selatan, Harry Hartanto kepada pers di Jakarta, Selasa (13/12).
Menurut Harry, untuk proyeksi tahun depan pihaknya meyakini terjadinya pemulihan seiring dengan prediksi kondisi cuaca yang cukup baik terutama sepanjang tahun ini.
"Melihat dari harga dan cuaca yang cukup bersahabat,produksi sawit pada tahun depan diharapkan mampu mencapai 3,3 juta ton per tahun," papar dia.
Harry menambahkan, sejumlah faktor yang mempengaruhi menurunnya nilai ekspor CPO Sumsel antara lain sarana pelabuhan ekspor dari Palembang yang masih sangat terbatas. Kondisi ini mengakibatkan pelaku ekspor CPO banyak memilih pelabuhan di provinsi atau daerah lain, seperti Lampung, Jakarta, dan Dumai.
"Tidak hanya di Sumsel, secara nasional ekspor CPO memang mengalami penurunan," ujar Harry.
Kabut asap dan anomali cuaca khususnya kemarau yang terjadi sejak 2015 hingga tahun ini, berdampak pada penurunan produksi tandan buah sawit (TBS) sekitar 10%-20%. Asap menyebabkan gangguan proses pembuahan. Produksi TBS pada panen puncak yang biasanya masuk di bulan Septemberpun semakin turun.