Pasar Fixed Broadband Indonesia Sangat Potensial, tapi Butuh Komitmen untuk Menggarapnya!

Oleh : Kormen Barus | Rabu, 15 September 2021 - 14:39 WIB

Pasar Fixed Broadband Indonesia Sangat Potensial, tapi Butuh Komitmen untuk Menggarapnya!
Pasar Fixed Broadband Indonesia Sangat Potensial, tapi Butuh Komitmen untuk Menggarapnya!

INDUSTRY.co.id, Jakarta-Tak dimungkiri, saat ini Indonesia menjadi negara yang paling menggiurkan di Asia Tenggara, termasuk dalam bisnis fixed broadband. Betapa tidak, wilayahnya yang luas di mana menjadi negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah penduduk yang banyak menjadikan negeri ini sebagai pasar fixed broadband yang sangat potensial.

Apalagi, berdasarkan data World Bank, penetrasi pasar fixed broadband atau jaringan koneksi internet berbasis pita lebar tetap di Indonesia pada 2021 masih sangat kecil, yakni baru mencapai 4%. Padahal, dunia semakin digital dan koneksi internet yang stabil amat dibutuhkan.

Koneksi internet berkecepatan tinggi dan stabil itu diperoleh dari koneksi fixed broadband, bukan mobile broadband. Sehingga koneksi fixed broadband lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan bisnis, perniagaan, edukasi, dan hiburan ketimbang mobile broadband.  

Karena tuntutan yang kian besar dari konsumen akan kualitas koneksi itu, maka perusahaan-perusahaan internet service provider (ISP) yang sekarang mayoritas mengandalkan teknologi mobile broadband diyakini juga bakal berlomba-lomba untuk merambah ke bisnis jaringan fixed broadband.

Persoalannya, menurut Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, berbeda dengan negara lain yang lebih kecil dan bukan negara kepulauan, menggelar jaringan fixed broadband di Indonesia, yang terdiri dari 17.000 pulau dari Sabang sampai Merauke, sangatlah tidak mudah.

“Dibutuhkan komitmen yang besar dan keberanian dalam mengambil risiko bagi perusahaan ISP untuk menggelar jaringan fixed broadband di Tanah Air,” katanya. “Sebab, setidaknya ada empat faktor yang mengharuskan perusahaan ISP menaruh komitmen besar untuk itu.”

Pertama, membutuhkan cost of investment yang cukup mahal. Karena Indonesia amat luas dan berkepulauan, maka perusahaan ISP harus siap dengan modal besar untuk membangun jaringan fixed broadband, termasuk backbone dan kabel laut, demi menjangkau pelanggan yang lebih banyak.

Kedua, kebutuhan pasar yang bersifat lokal. Meski dunia digital bersifat tanpa batas, kebutuhan pasar antardaerah cenderung berbeda-beda sehingga harus dilayani secara berbeda-beda pula. Ketiga, pemain lokal yang tak sedikit mengakibatkan kompetisinya tak kalah sengit.

Keempat, tingkat return on investment-nya lama. Karena berbekal modal yang besar dengan tingkat kompetisi pasar yang ketat, maka perusahaan ISP harus siap memperoleh return on investment atau tingkat pengembalian investasi dalam jangka waktu lama.

Empat faktor itulah yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan ISP berbasis teknologi fixed broadband yang sudah ada, bahkan diyakini juga dirasakan oleh pemimpin pasar (market leader) seperti IndiHome yang ditawarkan PT Telkom Indonesia Tbk. (IDX: TLKM) sekalipun.

“IndiHome, meski sudah menguasai 81% pangsa pasar fixed broadband nasional, saya yakin juga tidak sedang dalam kondisi tenang-tenang saja,” tambah Albertus Edy Rianto, Senior Manager Spire Research and Consulting, di Jakarta, Rabu (15/9).

Sebagai perusahaan pelat merah, IndiHome juga harus menjaga konsistensi dan meningkatkan layanan demi memberikan pengalaman pelanggan (customer experience) yang lebih baik lagi, memperbaiki cost per bandwidth, dan lain sebagainya.

Langkah itu mesti dilakukan di tengah budaya konsumen yang seringkali membandingkan antarlayanan secara tidak apple-to-apple, baik dari sisi penggunaan server, bandwidth, maupun kondisi saat pemakaian secara bersamaan (concurrent access), yang penting lebih cepat atau harganya lebih murah.  

Namun, di sisi lain, kata Edy, tuntutan-tuntutan itu tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli (spending power) pelanggan. Sehingga, pasar fixed broadband di Indonesia yang besar tapi membutuhkan upaya (effort) yang besar pula bagi perusahaan ISP untuk menggarapnya.

Memang belakangan ini banyak gedung perkantoran dan kawasan kota mandiri di Tanah Air yang menawarkan jaringan fixed broadband kepada para penyewa atau pembelinya, tapi skalanya masih sangat kecil.

Karena itu, dibutuhkan kebijakan yang komprehensif dari pemerintah untuk mempercepat penetrasi pasar fixed broadband nasional. “Salah satu caranya, barangkali dengan menerapkan model infrastructure sharing seperti halnya base transceiver station [BTS] di telekomunikasi seluler,” ungkap Edy.
Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis terkemuka global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan di Singapura pada 2000 ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

BTN Peduli Bencana Gempa Bumi Bali

Minggu, 17 Oktober 2021 - 21:52 WIB

BTN Peduli Bencana Gempa Bumi Bali

Pejabat Bank BTN Cabang Denpasar Wahjudi Djoko Poerwanto memberikan bantuan kepada para korban bencana gempa bumi Bali di Karangasem dan Bangli melalui BPBD Provinsi Bali di, Denpasar, Minggu…

Rangkaian Hari Habitat Dunia BTN Gelar Akad Kredit Massal 3.000 Unit

Minggu, 17 Oktober 2021 - 21:48 WIB

Rangkaian Hari Habitat Dunia BTN Gelar Akad Kredit Massal 3.000 Unit

Pasuruan-PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menggelar akad kredit massal sebanyak 3.000 unit di seluruh Indonesia. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Hari Habitat Dunia yang diperingati…

 Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso (kmps)

Minggu, 17 Oktober 2021 - 19:10 WIB

OJK Siapkan Delapan Arah Kebijakan Strategis Tahun 2022

Manado-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan delapan kebijakan strategis di tahun 2022 untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi Indonesia dengan terus mengoptimalkan manfaat sektor jasa keuangan…

Orangtua Ajarkan Anak Tentang Internet (Ist)

Minggu, 17 Oktober 2021 - 17:00 WIB

Begini Cara Mengajarkan Keamanan Berinternet pada Anak

Sebelum mengedukasi anak mengenai keamanan berinternet, Idayanti Sudiro seorang Certified Life and Wellness Coach menyampaikan, terdapat hal yang harus dipahami oleh orang tua, yaitu menyadari…

Ilustrasi Bermain Media Sosial (Ist)

Minggu, 17 Oktober 2021 - 16:15 WIB

Melihat Sisi Positif dari Bermain Media Sosial

Seiring perkembangan zaman, kehadiran media sosial semakin beragam. Media sosial merupakan sebuah media yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan…