INDUSTRY.co.id - Saat stres reaksi yang ditimbulkan tubuh bermacam-macam, baik secara fisik ataupun mental. Salah satu respon tubuh secara fisik bisa berupa detak jantung cepat, tekanan darah meningkat, dan bahkan bisa menyebabkan eksim atau dermatitis. Kok bisa?
Eksim merupakan kondisi yang menyebabkan kulit meradang, iritasi, dan gatal Kondisi kulit eksim mempengaruhi sekitar 25 persen anak-anak dan 2 sampai 3 persen orang dewasa.
Menurut dr Arini Astasari Widodo, SpKK mengatakan eksim disebabkan oleh beberapa faktor yaitu internal meliputi gangguan sawar kulit dan imunologi. Faktor eksternal meliputi suhu, keringat, allergen, iritan, dan mikroorganisme.
"Pemicu kekambuhan eksim dapat disebabkan oleh perubahan cuaca, suhu yang ekstrim, kelembaban udara, pakaian yang ketat, aktivitas sehari-sehari, bahan iritan seperti sabun dan parfum, stress, dan infeksi," katanya kepada Industry.co.id dalam diskusi virtual bersama awak media, Senin (13/9/2021).
Ia menjelaskan, timbulnya inflamasi dan rasa gatal merupakan hasil interaksi berbagai faktor internal dan eksternal.
"Faktor internal adalah faktor predisposisi genetik (melibatkan banyak gen) yang menghasilkan disfungsi sawar kulit serta perubahan pada sistem imun, khususnya hipersensitivitas terhadap berbagai alergen dan antigen mikroba," jelasnya.
Lebih lanjut, eksim atopik dapat dipicu oleh stres yang ditandai dengan rasa gatal sekali, dan timbul pada saat malam hari yang dapat mengganggu tidur.
"Eksim yang pemicu utamanya stress adalah neurodermatitis, rasa gatal memang tidak terus menerus, biasanya pada waktu tidak sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk tidak digaruk. Neurodermatitis tidak biasa terjadi pada anak, tetapi pada usia dewasa-manula. Puncak insiden pada usia antara 30 hingga 50 tahun. Perempuan lebih sering menderita daripada laki-laki," tukasnya.