INDUSTRY.co.id - Selama pandemi Covid-19 Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sudah dilaksanakan satu lebih lebih. Tentu hal tersebut membuat banyak anak Indonesia mulai jenuh dan bahkan mengalami depresi akibat belajar daring.
Diungkapkan oleh psikolog anak, Seto Mulyadi mengatakan 13 persen anak mengalami depresi akibat belajar daring. Angka itu diperoleh Seto dari survei yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).
"13 persen anak-anak Indonesia depresi yang dikarenakan belajar daring selama pandemi," ungkapnya saat acara Peluncuran Gerakan Sosial #AyoTunjunkTangan, Dukung Kemajuan Anak Indonesia bersama SGM Eksplor secara daring, di Jakarta, Senin (16/8/2021).
Selain itu, menurut survei Ada Apa Dengan Covid-19 (AADC-19) Jilid 2 Tahun 2020 yang dilansir dari KPPA menyebutkan, bahwa anak perempuan mengalami gejala depresi sebanyak 14 persen, sementara anak laki-laki sekitar 10 persen.
Sementara, gejala emosi yang sering dialami yaitu, 42 persen merasa sedih, menyalahkan diri sendiri 42 persen, 38 persen mudah marah, tidak berkonsentrasi dengan baik 31 persen, merasa terekan 26 persen, sering menangis 20 persen.
Lebih lanjut survei tersebut juga menunjukkan kekerasa pada anak selama pandemi. Bentuk kekerasannya pun yakni, 56 persen dimarahi, 35 persen dibanding-bandingkan dengan yang lain, dibentak 23 persen, dipukul 9 persen.
Lalu, bagaimana yang harus dilakukan oleh orangtua selama PJJ berlangsung? Kak Seto menyarankan, untuk melakukan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak. Supaya, mereka tetap mendapatkan pelajaran dengan baik, dan mudah berkonsentrasi.
"Paling sering anak-anak dekat dengan para bunda, maka bunda juga perlu mengubah cara mendidik anak selama pandemi. Caranya, dengan tidak harus cara yang keras harusnya, para bunda ini menerapkan gelar S3 yaitu sangat sabar sekali. Bahkan, bisa S5 yakni sangat sabar sekali selalu senyum," tuturnya.
Kak Seto juga mengatakan, para bunda selalu sabar dan jangan lupa tersenyum selama mengajari anak-anak di rumah.
"Bunda, jangan cemberut atau ngomel-ngomel mengajarnya, nanti anak-anak malah pusing sama pelajarannya. Jadi, terapkan S5 sangat perlu sesekali. Serta, mengajar dengan cara yang ramah anak, dengan cara penyampaian yang indah biasanya anak mudah menyerap pelajaran dengan baik," tukasnya.