INDUSTRY.co.id-Salah satu hambatan dalam upaya mensukseskan program vaksinasi menurut Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti adalah adanya mutual distrust atau krisis kepercayaan masyarakat.

Problem itu menurutnya dapat dilihat dari beredarnya hoaks seputar vaksin dan banyaknya orang yang percaya bahwa vaksinasi dirancang oleh negara lain untuk melumpuhkan Indonesia.

“Padahal vaksinasi itu adalah bagian dari cara dan ikhtiar manusia untuk bisa memiliki ketahanan, imunitas agar bisa relatif terlindungi dari kemungkinan tertular Covid-19. Vaksinasi itu bukan pengobatan, tapi perlindungan,” ucap Mu’ti dalam forum virtual UM Gresik, Senin (2/8/2021).

“Dan kemudian kalau ada satu dua kasus di mana mereka yang setelah divaksinasi kemudian sakit dan akhirnya meninggal misalnya itu adalah kasus yang pada banyak hal bisa terjadi,” imbuh Mu’ti.

Untuk melawan krisis kepercayaan itu, menurut Mu’ti hal yang penting dilakukan adalah memahamkan masyarakat dengan penjelasan yang mudah dicerna. Baik menyangkut penjelasan ilmiah maupun penjelasan keagamaan.

“Kebenaran atau probabilitas ilmiah itu kan hanya dipatok di angka 99,99%. Itu artinya ada kemungkinan 1% yang tidak sesuai dengan proyeksi dan prediksi. Bahkan ada yang tingkat kepercayaannya 95% itu artinya ada kemungkinan 5% yang tidak sesuai dengan proyeksi. Tapi kemudian tidak berarti karena ada 1% atau 5% itu maka yang 99% atau yang 95% itu kemudian ditiadakan dan dianggap tidak penting sama sekali,” ungkapnya.

Bagi umat muslim, Abdul Mu’ti berpesan bahwa vaksinasi adalah bagian dari usaha yang dipandang benar sesuai kepercayaan ahlu sunnah dalam menghadapi masalah, yakni wajib mendahulukan ikhtiar sebelum bertawakal.

“Inilah saya kira bagian dari ikhtiar di mana kita sebagai bagian dari umat beragama itu diwajibkan oleh Allah untuk senantiasa berikhtiar dan kemudian keputusan akhir dari ikhtiar itu berada di tangan Allah dan berada di tangan kita,” jelasnya.