Menyokong Masa Depan Digital Asia Tenggara dengan Teknologi Pembayaran

Oleh : Tareq Muhmood | Minggu, 01 Agustus 2021 - 16:30 WIB

Tareq Muhmood
Tareq Muhmood

INDUSTRY.co.id - Selama setahun terakhir, adopsi pengalaman perdagangan yang mengutamakan digital telah terakselerasi disebabkan oleh pandemi COVID-19. Para pelaku usaha telah harus menyegerakan digitalisasi usahanya untuk beradaptasi menghadapi tren pembayaran nontunai dan eCommerce yang terus bertumbuh. Seiring dampak pandemi COVID-19, perilaku konsumen serba digital diperkirakan akan terus berlanjut, dan gaya hidup digital di Asia Tenggara juga akan semakin didukung oleh pengalaman pembayaran yang inovatif.

Kebiasaan digital baru konsumen Asia Tenggara

Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi telah mengubah cara kita membayar dan berdagang. Menurut Consumer Payment Attitudes Study 2021 yang dilakukan oleh Visa, 85 persen konsumen di seluruh Asia Tenggara sudah menggunakan berbagai metode pembayaran digital, seperti kartu, kartu contactless, pembayaran online, dompet elektronik, dan QR code. Hampir dua pertiga konsumen di Asia Tenggara (64%) juga telah mencoba untuk bepergian tanpa membawa uang tunai, di antaranya Vietnam (84%), Thailand (82%), Filipina (79%), dan Indonesia (68%). Secara keseluruhan, pergeseran menuju pembayaran nontunai didorong oleh meningkatnya adopsi pembayaran secara contactless (63%) dan pembayaran kartu (46%) oleh konsumen, diikuti semakin meluasnya penerimaan pembayaran digital oleh merchant (41%), serta bertumbuhnya persepsi pembayaran digital sebagai metode yang aman (40%).

Berbagai macam metode pembayaran digital semakin diminati di seluruh Asia Tenggara dan konsumen kini memiliki banyak opsi dengan preferensi pembayaran yang semakin beragam. Kartu contactless tetap populer di seluruh wilayah, dengan adopsi terbesar di Singapura (75%), Malaysia (65%) dan Thailand (41%). Meskipun demikian, masih ada peluang yang cukup besar untuk mendorong penggunaan kartu contactless di beberapa negara lainnya. Sekitar empat dari lima responden yang bukan pengguna kartu contactless  (74%) mengaku tertarik untuk mulai menggunakan metode pembayaran ini, terutama responden dari Filipina (88%), Vietnam (87%), Thailand (85%), dan Indonesia (76%).

Meskipun pembayaran mobile contactless tidak terlalu populer di kawasan, pertumbuhannya cukup menjanjikan di sejumlah negara yang mengadopsi — di Thailand (45%), Singapura (45%), Vietnam (45%) dan Malaysia (37%). Selain itu, masih ada peluang untuk mendorong adopsi pembayaran mobile contactless di mana 7 dari 10 responden yang bukan pengguna mobile contactless di Asia Tenggara tertarik untuk mulai menggunakan mode pembayaran ini, terutama responden dari Thailand (85%) dan Vietnam (84%). Seiring pengalaman pembayaran baru terus bermunculan di kawasan Asia Tenggara diikuti oleh akses pembayaran digital yang semakin luas, konsumen akan cenderung memilih metode pembayaran yang lebih inovatif.

Pertumbuhan E-commerce telah terakselerasi di Asia Tenggara seiring dengan konsumen memiliki kebiasaan baru dalam berbelanja selama pandemi. Pandemi COVID-19 telah mendorong banyak konsumen di Asia Tenggara berbelanja online untuk pertama kalinya melalui situs web (43%) atau channel sosial media (35%). Belanja online telah berkembang pesat, terutama di Thailand, di mana hampir dua dari tiga konsumen Thailand (65%) berbelanja online untuk pertama kalinya melalui aplikasi atau situs web. Lebih dari separuh konsumen di Indonesia (56%) dan Filipina (52%) juga berbelanja online untuk pertama kalinya. Berbelanja menggunakan channel media sosial juga semakin diminati konsumen di Filipina (45%), Thailand (44%), Vietnam (44%), dan Indonesia (40%), di mana hampir separuh responden di masing-masing negara berbelanja online untuk pertama kalinya menggunakan channel media sosial.

Seiring dengan pertumbuhan e-commerce yang pesat, sekitar 2 dari 5 konsumen Asia Tenggara juga semakin sering berbelanja di marketplace online besar (44%). Konsumen  juga lebih sering membeli dari pelaku usaha rumahan (40%) dan usaha lokal (29%). Dengan konsumen semakin terbiasa melakukan pembelian melalui smartphone dan komputer, e-commerce diperkirakan akan terus mengalami pertumbuhan di masa pandemi dan setelahnya.

Peluang digital untuk para pelaku usaha

Seiring preferensi dan kebiasaan konsumen yang terus berubah, para pelaku usaha memiliki peluang untuk melayani konsumen dengan menerapkan strategi yang mengutamakan digital dalam hal pembayaran dan perdagangan. Dimulai dengan membuka toko online melalui platform e-commerce dan menerima pembayaran contactless sehingga konsumen dapat berbelanja dan melakukan pembayaran sesuai preferensi mereka. Seiring dengan perdagangan tradisional tatap muka dan e-commerce yang semakin melebur, para pelaku usaha di Asia Tenggara juga mulai mengadopsi perdagangan omnichannel yang mengintegrasikan beragam layanan digital, seperti smart checkout atau solusi berbasis aplikasi di toko fisik/retail. Dengan demikian, pelaku usaha dapat menghadirkan pengalaman berbelanja yang menyeluruh dan lancar melalui cara membayar yang inovatif.

Para pelaku usaha di Asia Tenggara juga menyadari perlunya solusi digital untuk meningkatkan efisiensi bisnis. Pandemi telah memicu beragam tantangan dalam proses pembayaran B2B (business-to-business) – mulai dari pemberlakuan pembatasan aktivitas masyarakat (PPKM) yang membuat pelaku bisnis sulit membayar menggunakan cek deposit di bank, hingga pemasok yang tidak bisa bertemu tatap muka untuk melakukan pembayaran atau mengkhawatirkan penggunaan uang tunai. Untuk mengurangi hambatan ini, banyak pelaku usaha yang beralih ke solusi digital seperti Visa Commercial Pay, yang memungkinkan mereka menerbitkan kartu virtual on-demand melalui aplikasi mobile untuk melakukan pembayaran B2B.

 

Dengan penetrasi pembayaran contactless yang tinggi di Asia Tenggara, semakin tinggi pula minat terhadap produk kartu pembayaran dari para pelaku bisnis yang mencari kecepatan dan kenyamanan. Selain itu, kartu virtual yang dilengkapi teknologi contactless juga diperkirakan akan mengalami pertumbuhan seiring tingginya animo terhadap  pembayaran mobile contactless hingga ke lingkup B2B. Dengan pelaku usaha menginginkan kendali dan efisiensi yang lebih saat melakukan transaksi, solusi digital diperkirakan akan mengubah proses pembayaran B2B menjadi lebih cerdas, cepat, dan aman.

Inovasi pembayaran di masa depan digital Asia Tenggara

Di Asia Tenggara, masa depan pembayaran adalah digital. Saat ini adalah Revolusi Pembayaran Keempat, di mana teknologi baru diprediksi akan mendorong interoperabilitas yang lebih besar antar penyedia pembayaran dan mengubah pengalaman pengguna seiring gaya hidup konsumen dan proses bisnis yang semakin digital di kawasan. Seiring lanskap pembayaran yang terus berkembang dan bervariasi, solusi digital yang akan diminati adalah solusi yang mampu mengubah pengalaman sehari-hari konsumen dan pelaku usaha menjadi lebih baik.

Mulai dari layanan digital baru yang disediakan oleh institusi keuangan besar maupun solusi digital baru dari perusahaan fintech baru, pertumbuhan pesat ekosistem pembayaran di Asia Tenggara akan terus melaju didorong oleh inovasi. Sebagai pemimpin pembayaran digital global dan pemain utama dalam ekosistem pembayaran, Visa berkolaborasi dengan banyak mitra strategis untuk terus mendukung revolusi fintech agar pengalaman pembayaran digital baru dapat dengan mudah diakses oleh semua orang melalui jejaring kami.

Pada akhirnya, pengalaman pembayaran yang inovatif akan menjadi ikon dari masa depan yang mengutamakan digital di Asia Tenggara. Pengalaman yang intuitif, lancar, dan aman akan menjadi pendorong gaya hidup digital dalam Revolusi Pembayaran Keempat dan seterusnya.

Tareq Muhmood, Group Country Manager, Regional Southeast Asia, Visa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Menparekraf Sandiaga Uno

Rabu, 22 September 2021 - 15:15 WIB

Luar Biasa! Bangun Pariwisata Indonesia, Sandiaga Uno Sukses Datangkan Investasi Capai Rp6,9 Triliun

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, memastikan investasi masih tetap mengalir ke sektor pariwisata.

Kejahatan Siber (Foto Dok Jatim Times)

Rabu, 22 September 2021 - 15:05 WIB

Ancaman Kejahatan Siber dan Perlindungan Korbannya di UU ITE

Kejahatan siber yang menargetkan komputer, internet, jaringan, dan teknologi merupakan segala kejahatan yang dilakukan dengan menggunakan sarana, sistem dan jaringan komputer seperti perdagangan…

Tanaman jagung

Rabu, 22 September 2021 - 15:01 WIB

Stok Jagung Ada, Segera Perbaiki Tata Kelola Perdagangan dan Jalur Distribusi

Direktur Rumah Ekonomi Rakyat Taufik Amrullah mendukung penuh upaya pemerintah dalam melakukan pemulihan ekonomi nasional termasuk yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian dalam menjaga produksi…

PT Uni-Charm Indonesia raih Sertifikat PEFC-CoC

Rabu, 22 September 2021 - 15:00 WIB

Uni-Charm Indonesia Raih Sertifikat PEFC-CoC

PT Uni-Charm Indonesia Tbk berhasil mendapatkan sertifikasi Chain of Custody (CoC) - Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) untuk produk ekspor popok bayi di 2 pabrik pada…

PT Pupuk Kaltim

Rabu, 22 September 2021 - 15:00 WIB

15 Tim Inovasi Pupuk Kaltim Raih Predikat Terbaik APQO 2021

Pupuk Kaltim merupakan salah satu dari 12 perusahaan perwakilan Indonesia, yang berkompetisi dengan 57 tim dari berbagai negara di Asia Pasifik. Setiap tim mempresentasikan berbagai terobosan…