INDUSTRY.co.id - Pandemi memaksa kita bertransformasi digital lebih cepat. Ada perubahan besar-besaran yang secara fundamental mengubah semua sistem, tatanan, dan lanskap yang ada ke cara-cara baru.
Kemudian budaya digital masuk sebagai sebuah konsep yang menggambarkan bagaimana teknologi dan internet membentuk cara kita berinteraksi sebagai manusia, yaitu cara kita berprilaku, berpikir dan berkomunikasi dalam masyarakat.
“Seluruh topik dalam kajian budaya digital dapat dikerucutkan menjadi sebuah tema besar yaitu hubungan antar manusia dan teknologi,” kata Febi Indirani, seorang Penulis dan Aktivis Literasi saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat I melalui siaran pers yang diterima Industry.co.id.
Lebih jauh Feby mengungkapkan, kelompok masyarakat tidak sama dalam mengadopsi teknologi. Pertama ada kelompok inovator yang hanya sebesar 2,5 persen dari populasi, mereka merupakan para pencetus atau pencipta teknologi. Selanjutnya ada kelompok yang mudah menerima perubahan karena usia masih muda dan kebanyakan dari populasi adalah yang muncul rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang baru tersebut sehingga mulai belajar dan memakainya.
Pengguna internet di Indonesia diketahui naik sebesar 15.5 persen atau sebanyak 27 juta orang selama pandemi. Sementara pengguna media sosial aktif tumbuh 6,3 persen atau 10 juta orang menurut data Social-Hootsuit Januari 2021.
“Artinya kita memang sudah sangat terhubung dengan internet, bahkan sudah sepertiga hidup kita rata-rata warga Indonesia menghabiskan waktu di internet 9 jam dengan 3 jam digunakan bersosial media,” jelasnya.
Lebih jauh dia juga mengungkapkan media sosial diberikan gratis, karena produknya adalah para penggunanya sebab itu pertanyaannya adalah apakah media sosial memanfaatkan pengguna atau Anda sebagai pemakai yang memanfaatkan media sosial. Sebenarnya di media sosial juga tidak ada privasi, data, postingan hingga tanda suka menjadi basis data algoritma iklan besar-besaran. Sehingga produk tertentu ditargetkan sebagai iklan untuk penggunanya.
“Profesor Cal New Port, dari Digital Minimalism yang sejak awal menciptakan blog mengungkapkan media sosial memang diciptakan untuk membuat ketagihan dan penasaran terus-menerus scroll content untuk memacu hormon dopamine,” tukasnya.
Mewaspadai penggunaan internet berlebihan terutama sosial media bila cenderung memberikan dampak negatif. Karena bila tidak bijaksana mungkin bisa terkena dampak negatifnya seperti terpapar berita hoaks, pemahaman radikalisme, ujaran kebencian, hingga Kekerasan Gender Berbasis Online (KBGO).
Webinar Literasi Digital di Jawa Barat I, Kota Depok merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Hadir pula narasumber seperti Ninik Rahayu Pimpinan Ombudsman RI 2016-2021, Dee Rahma seorang Digital Marketing Strategist, dan Eko Juniarto Co-Founder Mafindo. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.