INDUSTRY.co.id - Mengenalkan budaya Nusantara di era digital dapat dilakukan dengan kemasan teknologi modern yang dikemas lewat media digital akan mengubah citra serta pandangan terhadap budaya itu sendiri.

Kekayaan Indonesia menjadi salah satu modal berharga bagi warganet untuk berkreasi di media digital. Banyak topik atau tema budaya yang dapat diangkat dan dituangkan menjadi konten kreasi yang menarik sekaligus untuk mengenalkan budaya bangsa ke publik.

“Saat mendengar kata budaya cenderungnya yang ada dibenak itu kuno, padahal kalau dikemas dengan teknologi akan bagus,” ujar Kalarensi Naibaho, Koordinator Layanan Perpustakaan Universitas Indonesia saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I melalui siaran pers yang diterima Industry.co.id.

Budaya ini bisa berupa kuliner lokal, mulai dari makanan khas, bumbu khas, hingga kebiasaan makan. Sementara di bidang fashion bisa berupa kain-kain khas daerah sampai kebaya dan batik.

Bahasa pun dapat dijadikan konten menarik dari istilah khas daerah sampai bahasa daerah yang beragam. Begitupun kesenian Indonesia yang jumlahnya tak terhitung banyaknya. Belum lagi bila berbicara pariwisata yang menarik di seluruh pelosok Tanah Air.

“Kuliner, fashion dan pariwisata ini termasuk yang paling banyak di-share saya lihat banyak peminatnya. Tapi ada yang jarang diangkat seperti karya sastra berupa cerita rakyat, legenda, kejadian-kejadian khas Indonesia dan kearifan lokal seperti musik, bahasa dan tradisi,” kata Kalarensi lagi.

Lebih jauh dia mengungkapkan, biasanya saat sudah dikemas dalam teknologi masyarakat jadi bangga akan budaya tersebut dan bisa jadi gaya hidup. Sebab ketika sudah menjadi kebanggaan itu menjadi kekuatan dan tak sungkan lagi memperkenalkan budaya akan berjalan dengan sendirinya.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. 

Di webinar kali ini hadir pula narasumber lainnya yaitu Klemes Rahardja Founder The Enterpreneur Society, Kalis Mardiasih seorang Aktivis Gender Equality, dan Aribowo Sasmito dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital