Membangun Revolusi Mental Sejak Usia Dini Berbasis pada kehidupan Lebah Madu

Oleh : Dr. Sri Watini | Jumat, 19 Mei 2017 - 09:58 WIB

Dr. Sri Watini
Dr. Sri Watini

INDUSTRY.co.id - Kolaborasi yang apik dengan visi, misi yang sama dalam rangka memajukan pendidikan di Indonesia untuk membangun karakter masyarakat yang aktif dan produktif (Hidup Mandiri, Terhormat dan Bermakna) telah membangkitkan satu keinginan Bahwa bangsa Indonesia harus maju dan semangat untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnnya menjadi generasi Indonesia Emas, Negara yang kaya dan Berbudaya.

Hal inilah yang menjadi motivasi antara Hendra Triana ( Tim Komisi Independent Revolusi Mental) dengan spesialis pendidikan anak usia dini ( Sri Watini ) sehingga keduanya ingin melahirlan sebuah kolaborasi bidang pendidikan yang lebih spesifik dalam hal ini Pendidikan Anak Usia Dini melalui revolusi mental pembelajaran.

Hakikat Anak Usia Dini adalah usia istimewa, usia emas, usia yang luar biasa dan tidak akan pernah dijumpai masa itu pada rentang usia selanjutnya. Masa usia dini dikatakan sebagai masa golden ages atau masa keemasan di mana sel-sel syaraf otak anak sangat mudah merespon segala sesuatu yang berasal dari lingkungannya.

Pada masa ini keingintahuan anak sangatlah besar. Apapun ingin ia lakukan dan mencobanya. Diperlukan kesabaran yang luar biasa dari para orang tua atau pendidik untuk memahami apa saja yang anak usia dini lakukan.

Dimulai dari menggunakan baju atau kaos oblong yang hanya masuk sampai leher-satu tangan, menggunakan kancing baju tidak seimbang, mencoba sepatu baru hak tinggi mamahnya sampai patah, menggunakan lipstik mamanya sampai lipstiknya belepotan kemana-mana, menggunakan kacamata ayahnya dengan posisi terbalik, minta membantu ngepel lantai yang menjadikan berantakan, ikut membuat adonan kue dan menumpahkannya.

Itulah yang dikatakan Anak Usia Dini. Sayangnya masih banyak para orang tua yang belum sadar bahwa saat itulah sel syaraf otak anak berkembang sangat pesat dan luar biasa apabila diberikan kesempatan untuk mencoba dan melakukan.

Biasanya justru yang terjadi adalah orang tua mengatakan...ihh bawel...cerewet...kayak nenek-nenek...banyak tanya... gangguin kerja mama papah saja.. ngerecokin dan lain-lain. Segudang sindiran diberikan pada anak dan seakan-akan orang tua tidak pernah menjadi anak-anak dan melakukan hal yang sama.

Untuk itulah kiranya para pendidik terutama orang tua harus betul-betul memahami karakteristik anak usia dini. Dengan begitu, orang tua tidak akan lagi melakukan kesahalahan-kesalahan yang sama yang pernah dilakukan.

Karakteristik Anak Usia Dini sangatlah spesifik dan unik. Karakteristik ini yang harus dipahami oleh para orang tua sehingga nantinya para orang tua dapat melakukan pendidikan yang tepat, efektif dan efisien serta bermakna bagi kehidupan anak.

Adapun karakteristik tersebut antara lain : suka meniru apapun yang dilakukan oleh orang lain di sekitarnya, unik dikarenakan tidak ada satupun anak yang memiliki kesamaan baik bentuk fisik maupun karakternya, suka bermain tanpa kenal batasan waktu dan tidak ada capeknya, melakukan sesuatu justru pada hal-hal yang dilarang, membantah dan memberontak, tidak bisa diam, aktif dan selalu bergerak, melakukan suatu kegiatan yang mengkawatirkan dan membuat cemas para orang tua dan pengasunya serta masih banyak lagi karakter spesifik yang lain dan dimiliki oleh anak.

Keadaan seperti itu adalah tanda atau ciri-ciri anak cerdas, anak hebat, anak kreatif dan pintar yang suatu saat nanti akan menjadi generasi penerus bangsa dan negara kita di masa depan.

Pada saatnya nanti akan menjadi generasi emas apabila mendapatkan pendidikan dalam bentuk asah, asih dan asuh yang baik dan benar. Untuk itulah maka seorang pendidik baik guru maupun orang tua harus memberikan layanan pendidikan dalam bentuk pembelajaran yang bermakna serta membentuk karakter-karakter yang kuat, mandiri, bertanggungjawab.

Melalui Revolusi mental dalam melakukan pembelajaran pada anak sejak usia dini melalui pembiasaan akan menjadikan manusia-manusia yang tangguh dan hebat serta memiliki ketahanmalangan yang luar biasa.

Kata revolusi mental memang dikenal sejak Pak Jokowi menjabat sebagai Presiden Indonesia. Dalam tulisan ini kata revolusi mental bukanlah sebuah aktivitas politik yang akan dicampur adukkan dalam sebuah ranah atau domain dalam pendidikan khususnya bagi pendidikan anak usia dini. Revolusi adalah suatu perubahan yang terjadi baik direncanakan ataupun tidak direncanakan.

Arti dalam sebuah kamus bahasa Indonesia atau wikipedia revolusi berarti sebuah perubahan yang direncanakan ataupun tidak direncanakan dapat dijalankan baik dengan kekerasan maupun tanpa kekerasan. Akan tetapi dalam dunia pendidikan, penekanannya pada sebuah proses perubahan tanpa adanya unsur kekerasan di dalamnya.

Stop kekerasan pada dunia pendidikan yang muncul dalam berbagai bentuk atau model. Untuk itu maka revolusi dalam pendidikan ini tentunya merujuk pada perubahan yang santun, berkarakter dan bermartabat. Adapun kata mental berkaitan dengan batin dan watak manusia (keperibadian/karakter).

Dalam salah satu pidato Pak Jokowi yang diterbitkan pada koran kompas mengatakan bahwa revolusi mental harus diawali dari pribadi masing-masing sehingga menjadikan ke depan bangsa dan negara ini maju dan menjadi Indonesia Emas.

Filosofinya adalah Bangsa Indonesia berdiri atas pondasi dan tiang-tiang yang kuat dengan budi pekerti/karakter yang santun sesuai dengan kekayaan budaya Bangsa Indonesia. Saat ini karakter-karakter tersebut telah luntur tanpa kendali. Banyak terjadi korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja yang rendah, ketidakdisiplinan dan lain-lain. Hal ini mungkin diawali dengan hal kecil tetapi berimbas sangat besar yaitu budaya mencontek di dunia pendidikan.

Untuk itulah jika negara Indonesia ini ingin mewujudkan mimpinya menjadi Indonesia Emas harus dilakukan revolusi mental dari akar atau pondasinya. Jenjang Pendidikan Anak Usia Dini adalah jenjang pendidikan yang menjadi dasar, landasan dalam kehidupan seorang anak untuk hidup ke depan.

Tepat kiranya Revolusi Mental diberlakukan di PAUD. Dalam prakteknya dimulai dari proses pembelajaran yang berbasis pada karakter budaya bangsa Indonesia untuk santun dan menjadi sebuah keakayaan dan kekuatan.

Lebah madu merupakan serangga yang kaya akan manfaat dan sangat berkhasiat untuk kesehatan manusia. Binatang lebah ini memiliki sayap bening. Adapun yang termasuk lebah madu adalah lebah raksasa, lebah hutan, tawon gung, odeng dan madu sialang .

Semua lebah tersebut dikatakan sebagai lebah madu atau Apis Dorsata. Karakterstik lebah ini sangat spesifik di mana hidupnya sangat liar, hidup di cabang-cabang pohon yang tinggi atau di bukit batu yang terjal. Dalam satu pohon bisa terdapat 5-10 koloni. Jika panen dalam setiap koloni dapat menghasilkan 10-20 kg. Jika sarang itu besar terkadang sampai 30 kg. Adapun lebah ini biasanya berwarna hitam.

Bagaimana Kehidupan Lebah Madu? Mereka membentuk koloni-koloni. Setiap koloni bida berjumlah sampai 60-70 ribu lebah. Hal ini luar biasa karena walaupun jumlahnya ribuan akan tetapi setiap pekerjaan selalu dilakukan dengan cara bersama-sama, terencana dan terstruktur dengan rapi.

Di dalam sarang lebah biasanya terdapat Ratu Lebah (Queen Bee), Lebah Jantan (Drones), dan Lebah Pekerja. Lebah pekerja ini terdapat beberapa profesi diantaranya sebagai perawat (Nurse Bees), Lebah Pencari (Scout Bees), dan Lebah Pengumpul (Collectoe Bees). Kehidupan lebah inilah yang menjadi filosofi dalam sebuah kehidupan manusia bagaimana hidup berkeluarga, bermasyarakat, atau berbangsa dan bernegara.

Selayaknya kehidupan lebah yang kehidupannya saling rukun, kompak, berbagai, saling menjaga, bersatu, saling memberi, saling menerima tugas masing-masing, tidak egois, saling bekerjasama,serta bertanggunjawab pada tugas masing-masing tanpa ada yang mau menjatuhkan antara yang satu dengan yang lainya.

Filosofi inilah yang menjadi dasar dalam mencapai vsi dan misi KIRM dalam mewujudkan kehidupan manusia yang aktif, produktif, terhormat dan bermartabat. Kehidupan seperti inilah yang dijadikan arah dari tujuan pendidikan sesuai dengan karakter untuk pendidikan Lebah Madu.

Bagaimana sebuah proses pendidikan dikemas dalam bentuk pembelajaran yang disesuaikan dengan proses kehidupan Lebah Madu yang kaya akan budaya budi pekerti yang santun yang dilandasi pada norma-norma etika serta cultur budaya bangsa Indonesia yang cinta damai.

Bentuk pendidikan seperti inilah yang wajib dan harus dilakukan oleh pendidik jika bangsa Indonesia ingin maju dan terhormat di mata dunia. Indonsesia yang kaya akan sumber daya melimpah, tempat lahirnya orang-orang hebat di dalamnya seperti P Habibie, kreatif inovatif, cerdas dan smart serta beraklaq, budaya cipta beraneka ragam tak ternilai jumlahnya baik dalam bentuk makanan tradisional, pakaian tradisional, Ragam Bahasa Daerah dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan. Inilah landasan konsep bahwa Revolusi Mental dalam Pembelajaran harus dimulai sejak saat ini dan mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini.

Bagaimana tata cara dalam mencapai hasil pembelajaran pada anak usia dini melalui Revolusi Mental berbasis pada Kehidupan Lebah Madu maka perlu sebuah gebarakan baru dalam proses pendidikannya.

Untuk itulah maka KIRM sebagai Komisi Independet Revolusi Mental memiliki bidang penting dalam hal ini bidang pendidikan yang memiliki cluster jenjang pendidikan khususnya anak usia dini.

Kolaborasi antara Sri Watini sebagai spesialis pendidikan anak usia dini dengan Hendra Triana Bidang Pendidikan, Pengajaran di Perguruan Tinggi, Spesialist Bisnis Proses dan Pengembangan IT telah mempersiapkan program-program unggulan bagi masyarakat untuk diaplikasikan dalam dunia pendidikan anak usia dini di bawah payung KIRM.

Harapan ESWE-HATE semoga program-program yang telah dirancang akan menjadi salah satu pendukung bagi berkembangnya pendidikan di Indonesia khususnya Pendidikan Anak Usia Dini dalam menyiapkan Generasi Penerus Bangsa yang kuat, tangguh, berintektual dan beraklaq mulia. Sehingga di tahun 2045 melahirkan Generasi Indonesia Emas.

Sri Watini: Pendidik Anak

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi Pabrik Petrokimia

Sabtu, 20 April 2019 - 13:05 WIB

Arab Saudi Bakal Bangun Pabrik Petrokimia Senilai Rp84,31 Triliun di Indonesia

Pemerintah Arab Saudi siap menambah investasinya di Indonesia dengan mendirikan pabrik petrokimia senilai USD6 miliar atau setara Rp84,31 triliun.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto:Ridwan)

Sabtu, 20 April 2019 - 12:05 WIB

Usai Pemilu, Menperin Optimis Investasi Industri Kian Agresif

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengaku optimistis akan terjadi peningkatan investasi dan ekspansi di sekkor industri manufaktur seusai penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun…

Fintech (Foto Dok Industry.co.id)

Sabtu, 20 April 2019 - 11:17 WIB

Koku Raih Pendanaan Pra-Seri A Sebesar US$2 Juta Dari Co-Founder Tencent

Pendanaan Pra-Seri A ini dipimpin oleh Jason Zeng, Co-founder Tencent Holdings dan pendiri perusahaan angel investment asal China, Decent Capital.

Perkebunan kelapa

Sabtu, 20 April 2019 - 11:05 WIB

Kemenperin Pastikan Bisnis Industri Olahan Kelapa di Indonesia Masih Sangat Prospektif

Bisnis industri pengolahan kelapa di Indonesia masih prospektif dan terus berkembang di beberapa wilayah seperti Riau, Sulawesi Utara, Gorontalo, Jambi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan…

Oppo F11 Pro (Hariyanto/INDUSTRY.co.id)

Sabtu, 20 April 2019 - 10:59 WIB

Masa Pre-order Selesai, Smartphone Oppo F11 Sudah Tersedia di Pasar Indonesia

Perangkat Oppo F11 menjadi favorit karena kemampuan kamera belakangnya untuk mengambil foto portrait memukau dalam gelap, memori besar, pengisian daya cepat, serta harganya yang cukup terjangkau,…