Pancasila Dan Industri Pendidikan Dalam Perpektif Subyektif Kekinian

Oleh : Sony Heru Priyanto | Selasa, 01 Juni 2021 - 23:01 WIB

Prof Sony Heru Priyanto - Dosen Podomoro Univeristy
Prof Sony Heru Priyanto - Dosen Podomoro Univeristy

INDUSTRY.co.id - Setiap tanggal 1 Juni kita memperingati hari lahirnya Pancasila. Penetapan lahirnya Pancasila 1 Juni bukan persoalan yang mudah. Ada banyak peristiwa yang mengiringinya sehingga sampai kesimpulan menjadikan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila. Seperti diketahui, penggalian Pancasila dimulai dari pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai, dengan sidang pertamanya pada tanggal 29 Mei 1945. Hasilnya adalah rumusan Pancasila. Secara formal, Pancasila Pertama kali diucapkan oleh Presiden RI 1 Soekarno. Panca itu lima, Sila itu prinsip. Itu berarti Pancasila merupakan lima prinsip hidup Bangsa Indonesia, yang kemudian tertuang dalam UUD 1945.

Kita sudah merdeka 76 tahun. Ini adalah hari ulang tahun Pancasila ke 76 tahun. Tentu pelaksanaan dan pengamalan Pancasila mengalami perubahan yang dinamis. Lalu bagaimana pengamalan Pancasila khususnya di industri pendidikan dalam perpektif kekinian?  

Ketuhanan Yang Maha Esa

Dalam sila pertama Pancasila, adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan agama. Industri pendidikan sebagai penghasil ilmuwan, sudah seharusnya mengamalkan sila pertama ini agar seluruh peserta didik percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan diatas ilmu pengetahuan dan teknologi.  Ketika semua insan di industri pendidikan mengutamakan Tuhan dalam ilmu pengetahuan, akan menghasilkan karya-karya yang justru akan mengagungkan nama Tuhan, melalui kemanfaatan ilmu pengetahuan teknologi pada ciptaanNya.   

Pengamalan sila pertama dalam dunia pendidikan akan melahirkan toleransi dan harmoni. Jika kita memahami secara utuh dan melaksanakan Pancasila terutama sila pertama ini dalam berbagai bidang termasuk pendidikan, intoleransi agama tidak akan terjadi. Dalam falsafah jawa, agama itu hanya "ageman" atau baju. Ketika baju dilepas, semua manusia adalah ciptaan Tuhan, sama hakekatnya.
 
Jadi kalau kita meyakini Tuhan itu Esa dan manusia adalah ciptaan Tuhan, agamanya apapun, manusia itu sama, yaitu ciptaan Tuhan. Menghormati manusia sebagai sesama ciptaanNya akan melahirkan kedamaian dan peradaban. 
Ketuhanan itu bermakna kebenaran dan kemuliaan. Ilmu pengetahuan dan teknologi harus dikembangkan untuk kebenaran dan kebaikan. Untuk mengembangkannya juga harus didasari oleh kebenaran dan kemuliaan. Jika ini diamalkan, tidak ada hoaxs bertebaran di media sosial.

Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab 

Sila ini mengandung makna menghargai sesama, memperlakukan manusia secara adil dan beradab. Nilai-nilai harusnya ditanamkan sejak anak masuk dalam dunia pendidikan. Untuk menghargai sesama, cara yang paling mudah adalah memahami secara fair diri sendiri, baik potensi dan kelemahannya. Setiap manusia diciptakan oleh Tuhan unik, dengan talentanya masing-masing. Tidak ada manusia yang sama. Itu berarti, siapapun dia, pasti punya potensi. Ini yang harus digali oleh para pendidik terhadap peserta didiknya sehingga dia menjadi manusia unggul sesuai dengan potensinya. Tidak ada manusia seragam. Lihatlah potensinya, bukan kelemahannya. 

Itu berarti kurikulum pendidikan harus disusun sesuai dengan potensi peserta didik. Sudah saatnya pendekatan pembelajaran deduktif-penyeragaman diubah menjadi pendekatan pembelajaran induktif-eksploratif-penguatan. Dari hafalan menjadi pemahaman. Ketika itu dilakukan, peserta didik akan menemukan potensi dirinya, dan peserta didik lainnya juga akan menemukan potensinya. Nah pada titik ini terjadi pemahaman bahwa diri dan temannya memiliki potensi masing-masing, tidak ada pembulian karena semua berprestasi dibidangnya. Pemahaman ini akan melahirkan penghargaan. Penemuan, pengembangan dan penguatan potensi manusia, itulah salah satu hakekat sila kedua dari Pancasila. Tidak ada penggunaan media sosial untuk membuli teman atau orang yang lain. Jika berhasil mengamalkan sila ini, tidak ada tawuran antar sekolah ataupun antar apapun.

Persatuan Indonesia

Pengenalan akan tanah air, ragam budaya nusantara, kesenian, bahasa, agama, suku, ras masyarakat Indonesia akan melahirkan kekaguman akan anugrah Tuhan pada Bangsa Indonesia. Pengetahuan sempit yang hanya didasarkan pada persamaan, melawan realita Bangsa Indonesia yang beragam. Didasarkan pada kuatnya Ketuhanan peserta didik dan penghargaan akan ciptaanNya akan melahirkan ucapan syukur akan keberadaan Bangsa Indonesia sehingga akan saling mengharga perbedaan karena didalam perbedaan itu ada persamaan dan didalam persamaan ada perbedaan. Pemahaman ini akan melahirkan persatuan. Kalau tidak kenal mana bisa sayang, kalau sayang pasti bersatu.

Untuk memperkuat persatuan sesuai konsepsi diatas, dunia pendidikan, program Kampus Merdeka sangat bagus sekali. Mahasiswa diperkenankan mengambil mata kuliah di kampus lain, propinsi lain bahkan bangsa lain. Selain itu juga program riset bersama antar kampus. Ada program wira desa yang mengenal alam lestari Indonesia, desa dan lingkunganya yang sejuk dan asri, beserta kekayaan plasma nuftahnya. Masih ada program muhibah di seluruh propinsi di Indonesia. Ini bisa dilakukan untuk peserta didik SMA, SMP, SD, TK, PAUD dengan penyesuaian-penyesuaiannya. Pentas budaya perlu dilaksanakan disetiap lembaga pendidikan. Riset dan pengembangan tentang budaya nusantara beserta kasanahnya perlu terus dilakukan.

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Dan Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan

Sila ini bisa dimaknai perwakilan, kepemimpinan, tata kelola dan pengorganisasian, demokrasi, keterbukaan dan pertanggungjawaban. Pemilik. pemimpin, pengelola, wakil rakyat atau warga, siapapun itu harus punya hikmat dan kebijaksanaan dalam menjalankan amanatnya. 
Dalam konteks di industri pendidikan yang berorientasi sosial, berbeda dengan perusahaan yang berorientasi profit, pelaksanaan sila keempat ini harus lebih berhikmat dan bijaksana karena tujuan dunia pendidikan sangat mulia, yaitu memerdekakan, mencerdaskan, memeratakan, menumbuhkan mengembangkan dan menghargai. Yang belum berpengetahuan menjadi berhikmat; yang belum bijaksana menjadi arif; Yang tidak mampu menjadi mampu; yang tidak baik menjadi baik; yang tidak pintar menjadi pintar. 

Pembina, Pengurus dan Pengawas Yayasan harus mengerti betul apa visi-misi yayasan pendidikan yang dikelolanya. Jangan sampai melenceng dari rohnya yayasan sosial. Tata kelola yang transparan, akuntabel, adil, kapabel, mempercayai dan bekersama dengan pimpinan lembaga pendidikan serta bertanggung jawab terhadap keberlangsungan lembaga merupakan amalan dari sila keempat ini.

Dalam organisasi kampus, perlu ada senat yang berisi perwakilan dari pendidik, tenaga kependidikan dan mahasiswa sehingga keputusan-keputusan yang diambil memperhatikan yang diwakilinya. Suasana rapatpun akan semakin dinamis karena ada banyak kepentingan yang perlu diakomodasi dalam pengambilan keputusan. Organisasi didalam kampus perlu diperkuat seperti Badan Perwakilan dan Eksekutif Mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa; Dewan Pegawai dan Asosiasi Dosen. Jika ada hal-hal aneh, perlu penyeimbang dan keseimbangan sehingga tercapai ekuilibrium dalam organisasi, bukan kooptasi apalagi korporasi. Keberadaan dan dinamika organisasi ini akan semakin memperkuat kepemimpinan, hikmat dan kebijaksanaan dalam lembaga pendidikan. Jika ini dilakukan di seluruh Indonesia, ini adalah kekayaan terhadap bagaimana mengamalkan sila keempat dari Pancasila ini.     

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sila ini meski sila kelima, namun maknanya tidak kalah dengan sila-sila yang lain. Secara sederhana, keadilan sosial ini adalah kasih kepada sesama, kepedulian, bantuan dan pertolongan pada teman dan sesama warga Bangsa Indonesia. Kalau di perusahaan ada corporate social responsibility, kalau di yayasan pendidikan harusnya ada foundaton social responsibility, misalnya Podomoro Foundation. Yayasan ini memberikan kesempatan warga Indonesia untuk menempuh pendidikan di lembaganya. Bagi yang tidak mampu atau mengalami masalah dalam pendanaannya, diupayakan beasiswa sampai mereka selesai. Beasiswa atau bantuan lain adalah bentuk kemurahan lembaga tersebut, dan perlu diingat adalah lembaga yang bermurah hati sedang berbuat baik pada lembaga itu sendiri. Alokasi beasiswa ini harus muncul dalam anggaran, dengan tidak memperhatikan ada atau tidaknya surplus.

Jaminan sosial dalam berbagai aspek termasuk pendidikan harus bisa diberikan oleh negara, perusahaan maupun lembaga pendidikan kepada warga negara Indonesia. Ini adalah bentuk pengamalan dari sila kelima Pancasila. 
Gotong royong sebagai kekayaan budaya dan Bangsa Indonesia harus terus diamalkan dalam bentuk saling tolong menolong, membantu, berbagi, bermurah hati, bagi semua warga Indonesia, terkhusus bagi warga yang kurang beruntung. Jika ini diterapkan, tidak ada kekurangan. Semua tercukupi kebutuhannya. 

Kiranya Pancasila yang luar biasa ini, bisa diamalkan di bumi pertiwi Indonesia. Maju kita semua, maju Indonesia. 

 

Oleh: Sony Heru Priyanto-Podomoro University

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi Bermain Media Sosial (Ist)

Jumat, 18 Juni 2021 - 19:15 WIB

Selama Pandemi, Pengguna Internet di Indonesia Tumbuh 15,5 Persen

Budaya digital diartikan sebuah konsep yang menggambarkan bagaimana teknologi dan internet membentuk cara kita berinteraksi sebagai manusia. Yakni mulai dari berperilaku, berpikir, dan berkomunikasi…

Ilustrasi UMKM Go Digital (Ist)

Jumat, 18 Juni 2021 - 18:45 WIB

Untuk Bisa Bertahan di Masa Pandemi, UMKM Harus Punya Digital Skills

Di masa pandemi ini, banyak sekali perubahan yang tanpa disadari semua orang harus mengikutinya. Namun apapun yang terjadi saat ini masyarakat harus membuka diri dan berpikiran terbuka karena…

11 Bank Dukung Pembiayaan Jalan Tol Serang Panimbang

Jumat, 18 Juni 2021 - 18:17 WIB

Ekonomi Kawasan Banten Bakal Tumbuh Pesat, 11 Bank Dukung Pembiayaan Jalan Tol Serang Panimbang

Jakarta– PT Wijaya Karya Serang Panimbang (WSP) sebagai entitas anak PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) menandatangani perjanjian kredit sindikasi dan line fasilitas pembiayaan sindikasi…

Ilustrasi Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) (Ist)

Jumat, 18 Juni 2021 - 18:15 WIB

Perlunya Sosilasi Tuk Cegah Meningkatnya Kasus Kekerasan Gender Berbasis Online

Meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia sebanyak 8,9 persen atau menjadi 171 juta jiwa pengguna membuat kewaspadaan terhadap ancaman kejahatan cyber semakin tinggi. Diketahui selama…

Sambal tabur BonCabe Level 50 Max End yang merupakan produk teranyar PT Kobe Boga Utama. (Foto: Humas PT Kobe Boga Utama)

Jumat, 18 Juni 2021 - 18:11 WIB

BonCabe level 50 Max End, Maximize to The End

Jakarta - Para penggemar mie instan dan berbagai makanan gorengan tentunya tidak asing lagi dengan yang namanya sambal, apalagi sambal botol alias sambal yang dikemas dalam botol dan penggunaannya…