INDUSTRY.co.id - Morotai, “Geopolitical Destiny dari Indonesia adalah maritim,” kalimat tersebut diucapkan oleh Bung Karno pada saat pembukaan Lemhanas tahun 1965. Terlihat jelas, Bung Karno menginginkan Indonesia memainkan peranan penting dalam dunia bahari atau dengan kata lain karakter kebangsaan Indonesia haruslah berciri nasionalisme “bahari”.
Semangat berapi-api yang terkandung dari sang proklamator tersebut seakan membakar, memacu dan memperkuat semangat kebangsaan berbasis bahari bagi bangsa ini.
Apalagi Morotai memiliki kawasan kelautan dan pulau-pulau kecil yang berpotensi dikembangkan sebagai kawasan industri maritim dan perikanan terpadu serta kawasan wisata bahari dan sejarah.
Laut sekitar morotai merupakan lalu lintas ikan tuna dari pasifik ke laut Hindaia. Potensi ikan di Morotai lebih dari 148.473 ton/tahun yang terdiri dari 160 jenis ikan bernilai ekonomis dan 31 jenis ikan komersial. Selain itu kerena lautnya yang tenang, maka berpotensi untuk budi daya ikan kerapu, lobster, rumput laut dan mutiara.
Dari wisata bahari ini juga akan perkenalkan usaha micro dengan perbankan sehingga bisa mendapat bantuan pendanaan pengembangan usaha, selain itu dapat mengundang investor sehingga datang ke Morotai.
Negeri mungil di utara Indonesia ini sebenarnya menyimpan dan potensi sumberdaya alam yang luar biasa, sehingga banyak harapan agar dapat dikelola dan dipotimalkan untuk mendorong perekonomian daerah, utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Pulau Morotai dikenal karena sejarahnya dalam Perang Dunia II, yang dikenal dengan, “Pertempuran di Morotai”. Sejarah mencatat pada bulan Juli 1944, Jenderal Douglas MacArthur memilih Morotai sebagai lokasi untuk pangkalan udara dan fasilitas angkatan laut dalam mendukung pembebasan Pulau Mindanao (Filipina).
Pertempuran itu dimulai pada tanggal 14 September 1944 ketika Amerika Serikat dan pasukan Australia mendarat di sudut barat daya Morotai. Jepang menempatkan pasukannya dengan kekuatan hanya sekitar 500 tentara Jepang yang ditempatkan dipulau itu, sedangkan kekuatan Sekutu yang ditugaskan ke Morotai kalah jumlah dari pembela pulau itu yang lebih dari seratus banding satu.
Setelah Pulau Morotai berhasil dikuasai sekutu maka selanjutnya pulau tersebut menjadi sebuah pangkalan militer utama bagi sekutu. Basis fasilitas, instalasi Angkatan Laut, jaringan jalan, 1.000 tempat tidur rumah sakit dan dua lapangan terbang dengan cepat dibangun.
Morotai menjadi titik penting bagi pasukan Sekutu dan memainkan peranan utama dalam pembebasan Filipina. Pulau Morotai yang luasnya sebesar 695 mil persegi/1.800 km² merupakan salah satu pulau paling utara di Indonesia yang terletak di Kepulauan Halmehara, Kepulauan Maluku. Selain kekayaan bahari yang potensial, Morotai terkenal dengan destinasi wisata sejarah dunia, karena riwayatnya sebagai daerah Perang Dunia II.
Oleh sebab itu, dengan latar belakang sejarah tersebut maka pemilihan Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, sebagai 10 Bali baru kian menjanjikan.
Istimewanya lagi, Jawara Kawasan Industri di Indonesia PT Jababeka Tbk, memantapkan komitmennya membangun wilayah kepulauan Morotai, yang luasnya mencapai 50.000 hektar, itu. Jababeka mengembangkan 15.000 hektar wilayah menjadi daerah tujuan wisata baru di Indonesia.
Pulau Morotai sebagai salah satu pulau paling timur di Indonesia, ditargetkan menjadi kawasan berkembang bagi industri pariwisata , perikanan dan kawasan industri, seperti halnya Batam.