INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ada kejadian unik yang dilakukan Menteri Badan Usaha Milik (BUMN) Negara Rini Soemarmo pada Maret 2017 lalu. Rini mengumpulkan seluruh pejabat Eselon I Kementerian BUMN‎ di atas kapal nelayan di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Bersama para jajarannya, Rini lalu menggelar rapat penting.

Agenda rapat itu adalah sang menteri meminta para Eselon I untuk memaparkan target mereka terhadap kinerja BUMN di 2017. Untuk kesempatan pertama, Rini meminta Sekretaris Kementerian BUMN Imam A Putro mempresentasikan secara keseluruhan target Kementerian BUMN terlebih dahulu.

Lokasi yang dipilih memang tidak lazim, apalagi rapat yang membahas tentang target-target penting Kementerian. Tentu saja bukan tanpa alasan Rini mengumpulkan para pejabatnya di Pelabuhan Sunda Kelapa ini. "Jadi Pelabuhan Sunda Kelapa ini pelabuhan sangat tua, dan Pelindo II yang punya, jadi kita ingin BUMN itu juga menjaga heritage, seperti pelabuhan ini," kata Rini di atas kapal ikan milik nelayan tersebut.

Dalam paparannya Imam menjelaskan, semangat Kementerian BUMN pada 2017 yaitu merealisasikan holding BUMN dan sinergi perusahaan. "Dengan itu, kita harapkan aset pada 2017 itu menjadi Rp 7.035‎ triliun atau tumbuh 11,2 persen jika dibandingkan 2016," kata Imam.

‎Tak hanya itu, kinerja secara keseluruhan di indikator lain juga ditargetkan meningkat. Untuk laba, ditargetkan tumbuh 20,1 persen menjadi Rp 197 triliun pada 2017. Laba itu dicapai dengan target pendapatan Rp 2.116 triliun yang juga naik 17,4 persen.

Mengenai belanja modal atau capital expenditure (Capex), Imam memaparkan prognosanya‎ sebesar Rp 468 triliun pada 2017, atau meningkat 57 persen jika dibandingkan tahun lalu. Sedangkan dividen, ditargetkan meningkat 10,8 persen menjadi Rp 41 triliun. "Untuk pajak, ini sedikit menurun jika dibandingkan 2016. Tahun ini sebesar Rp 165 triliun, tahun lalu Rp 167 triliun," tutur Imam.

Target yang dipatok Kementerian BUMN tebilang ambisius mengingat tahun lalu, total laba yang dibukukan 118 BUMN hanya tumbuh 10,1 persen atau mencapai Rp 164 triliun. Tahun 2015 laba total BUMN tercatat Rp 149 triliun. Meski tumbuh, sebenarnya capaian BUMN jauh dibawah target yang ditetapkan pada awal 2016. Kementerian BUMN mematok laba bersih 118 perusahaan milik negara pada 2016 sebesar Rp172 triliun, tumbuh 14,67 persen.

Melesetnya target itu tidak lain disebabkan oleh pelambatan ekonomi global dan nasional yang telah terjadi sejak 2015. Namun untuk tahun ini Kementerian BUMN yakin kondisinya akan lebih baik dengan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,1 persen. Target ini lebih tinggi dibandingkan capaian pertumbuhan ekonomi tahun lalu sebesar 5,02 persen.

Dukungan ekonomi nasional yang diyakini membaik tidak cukup. Untuk mencapai kinerja BUMN 2017 Kementerian BUMN memandang perlu dilakukan berbagai upaya yaitu meningkatkan sinergi untuk menjaga cost dan menjaga agar perusahaan-perusahaan BUMN tidak merugi.

"Kami akan meningkatkan kinerja BUMN lebih kompetitif, misalnya sinergi Garuda Maintenance Facility (GMF) dengan Merpati, Pelita dan lain-lain. Banyak pesawat luar negeri yang ingin memelihara dan servis di (bandara) kita," kata Rini.

Beberapa program strategis sudah disiapkan kementerian, yaitu Kartu Tani, Revitalisasi Pabrik Gula, Bahan Bakar Minyak satu harga, penggabungan bank syariah anak perusahaan BUMN, dan mendukung perbaikan tata kelola migas dan ekspansi jaringan gas sebanyak 56.000 sambungan.

Kembali pada capaian kinerja BUMN 2016. Capaian laba Rp 164 triliun tidak dikontribusi oleh seluruh BUMN yang totalnya sebanyak 118 perusahaan. Pasalnya ada sekitar 16 BUMN yang masih mengalami kerugian. Kendati begitu dikatakan Imam ada beberapa BUMN yang kinerjanya menunjukan pembalikan arah dari sebelumnya rugi, tahun lalu sudah membukukan untung. Contohnya PT Pupuk Indonesia dan PT Perkebunan Nusantara.

Terkait anggaran belanja modal atau capex BUMN, sepanjang 2016 mengalami kenaikan 35 persen menjadi Rp297 triliun dari Rp220 triliun tahun 2015. Sementara, biaya operasinal atau operating expenditure (opex) sebesar Rp1,51 triliun, turun 2,8 persen dari sebelumnya Rp1,56 triliun. Selain itu, untuk aset BUMN terlihat mengalami pertumbuhan sebesar 9,8 persen menjadi Rp 6,32 triliun.