INDUSTRY.co.id - Jakarta, Populasi Sektor industri kimia, tekstil, dan aneka (IKTA) mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2015 yang sebesar 591 perusahaan menjadi 677 perusahaan di tahun 2016.

Kementerian Perindustrian menargetkan pertumbuhan populasi sektor IKTA pada tahun 2017 mencapai 753 perusahaan.

"Selain peningkatan daya saing dan produktivitas industri serta pengembangan perwilayahan industri di pulau Jawa, penumbuhan populasi industri juga menjadi fokus kami untuk mendorong pertumbuhan industri nasional," ungkap Dirjen IKTA, Achmad Sigit Dwiwahjono di Jakarta (30/4/2017).

Pemerintah saat ini telah menetapkan industri pengolahan non-migas menjadi salah satu sektor prioritas yang tengah dipacu pengembangannya sebagai penggerak pembangunan dan pemerataan ekonomi nasional.

"Selama ini kontribusi industri mampu membawa efek berganda terhadap penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah, dan penerimaan devisa," terang Sigit.

Dalam upaya merealisasikan target jumlah sektor IKTA tahun ini, Sigit menyebutkan, pihaknya terus memacu pengembangan industri pupuk dan petrokimia di Bintuni, Papua Barat, serta memfasilitasi pembangunan pbrik petrokimia di Masela.

Sigit Menambahkan, pembangunan industri berbasis gasifikasi batubara di Kalimantan Timur, Muara Enim, Sumatera Selatan, dan Mesuji, Lampung, pembangunan industri turunan anomia berbasis gas di Donggi Senoro, Sulawesi Tengah, serta pembangunan pabrik bahan baku obat berbasis migas.

"Investasi di dalam negari untuk sektor IKTA paling tinggi pada industri kimia. Namun, saat ini nilai impornya masih sangat besar," tegas Sigit.

Menurut catatan Kemenperin, nilai investasi di sektor IKTA mencapai RP22,17 triliun pada kuartal pertama tahun 2017. Sementara itu, sasaran untuk total nilai investasi tahun 2017 sebesar Rp152 triliun.

"Realisasi investasi sektor IKTA tahun 2016 mencapai Rp122,5 triliun dengan kontribusi sekitar 37,24 persen terhadap pertumbuhan industri pengolahan non-migas nasional," tutup Sigit.