INDUSTRY.co.id, Jakarta-Viral di media sosial soal bahaya penggunaan masker untuk waktu lama. Dimana menghirup udara yang dihembuskan berulang kali berubah menjadi karbon dioksida sehingga menjadi pusing, memabukkan pengguna, dan lebih banyak lagi ketika ia harus bergerak, dan melakukan pergerakan.
Pesan yang beredar di medsos menyebutkan, penggunaan masker untuk waktu lama menyebabkan ketidaknyamanan, kehilangan refleks dan pikiran sadar. Ini menghasilkan kelelahan yang luar biasa.
Selain itu, kekurangan oksigen menyebabkan pemecahan glukosa dan kenaikan asam laktat yang terancam punah.
Beberapa orang mengendarai mobil mereka dengan masker , itu sangat berbahaya, karena, udara busuk dapat membuat pengemudi kehilangan kesadaran.
Dianjurkan untuk menggunakannya hanya jika Anda dekat dgn seseorang di depan anda,penting diingat untuk mengangkatnya setiap 10 menit supaya aliran oksigen ke otak tetap sehat.
Kontraproduktif bagi orang-orang yang melayani masyarakat selama 8 jam, karena mereka memabukkan diri mereka sendiri tanpa menyadarinya.
Pastikan pencegahan tidak membawa Anda ke masalah lain. Mari gunakan masker secara baik. Hipoksia adalah kondisi kurangnya pasokan oksigen di sel dan jaringan tubuh untuk menjalankan fungsi normalnya.
Bahkan sebuah studi menemukan, memakai masker untuk waktu yang lama bisa menyebabkan efek samping yang serius.
Dalam sebuah artikel yang Technocracy News terbitkan, Dr. Russell Blaylock menulis, efek samping dari pemakaian masker wajah yang berkepanjangan "bisa bervariasi".
"Mulai sakit kepala, peningkatan resistensi saluran napas, akumulasi karbon dioksida, hingga hipoksia, hingga komplikasi serius yang mengancam jiwa," kata Blaylock seperti dikutip The Jerusalem Post.
Efek samping bervariasi, tergantung pada apakah sesorang memakai masker kain, masker kertas, atau masker respirator N95. Sebab, masker N95, yang menjadi filter yang lebih efektif, juga membatasi pernafasan ke tingkat yang lebih tinggi.
Karena itu, penggunaan masker N95 lebih sering dikaitkan dengan sakit kepala, menurut Blaylock, pensiunan ahli bedah saraf asal Amerika Serikat dan yang memperkenalkan pengobatan baru untuk subset tumor otak.
Dia melakukan penelitian terhadap 212 petugas kesehatan yang ia minta untuk melaporkan keberadaan sakit kepala saat menggunakan masker N95, termasuk durasi dan jenis sakit kepala, juga apakah mereka memiliki sakit kepala yang sudah ada sebelumnya.
Studi ini menemukan, sekitar sepertiga pekerja medis mengalami sakit kepala saat menggunakan masker N95. Mayoritas memiliki sakit kepala yang sudah ada sebelumnya yang makin buruk akibat pemakaian masker.
Kemudian, sekitar tiga dari lima pekerja medis membutuhkan obat pereda nyeri untuk meredakan sakit kepala.
Dan, meskipun tali pengikat atau tekanan dari masker dianggap sebagai penyebab potensial, bukti menunjukkan, sakit kepala akibat oksigenasi darah berkurang atau peningkatan karbon dioksida dalam darah.
"Diketahui bahwa masker N95, jika dipakai berjam-jam, bisa mengurangi oksigenasi darah sebanyak 20%," sebut Blaylock.
"Bisa menyebabkan hilangnya kesadaran, seperti yang terjadi pada orang malang yang mengemudi sendirian di mobilnya mengenakan masker N95, menyebabkan dia pingsan, dan mobilnya menabrak dan mengalami cedera," ujarnya.
Sebuah studi yang lebih baru terhadap 159 petugas kesehatan antara usia 21 dan 35 menemukan, sebanyak 81% mengalami sakit kepala akibat penggunaan masker wajah, yang membuat pekerjaan mereka terpengaruh.
"Para peneliti menemukan, masker mengurangi kadar oksigen darah (pa02) secara signifikan. Semakin lama durasi pemakaian masker, semakin besar penurunan kadar oksigen dalam darah," kata Blaylock.
Potensi masker mengurangi kadar oksigen pada pemakainya penting, bukan hanya karena ini bisa menyebabkan pingsan, tetapi juga karena masker tersebut dikaitkan dengan berkurangnya kekebalan alami.
"Pada dasarnya, masker Anda mungkin menempatkan Anda pada peningkatan risiko infeksi, dan jika demikian, memiliki hasil yang jauh lebih buruk," ujar Blaylock.