INDUSTRY.co.id - Jakarta - Gigih Prakoso dicopot sebagai direktur utama PT PGN Tbk dan digantikan oleh Suko Hartono. Pencopotan tersebut dilakukan di dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan yang berlangsung Jumat (15/52020) siang.
Selain Gigih, direksi lain yang diganti adalah Dilo Seno Widagdo (direktur Komersial) dan Desima Equalita Siahaan (direktur SDM & Umum PGN).
Suko Hartono adalah mantan dirut PT Pertamina Gas (Pertagas). Nama Suko ramai dibicarakan karena konon disorong langsung oleh Komisaris Utama PGN Archandra Tahar.
Sementara, nama Fariz Aziz menggantikan posisi Dilo Seno, sebelumnya dia adalah SVP Supply, Distribution and Infrastructure PT Pertamina (Pertamina).
Masuknya nama Fariz konon adanya campur tangan Dirut Pertamina Nicke Widyawati. Beni Syarif Hidayat masuk juga ke jajaran direksi PGN menggantikan posisi Desima pun karena Nicke. Beni sebelumnya adalah SVP Human Capital Management Pertamina.
Kemudian, RUPS juga mencopot Mas’ud Khamid dari jabatan komisaris di PGN dan digantikan oleh Warih Sadono.
Kemudian dalam RUPS tersebut, PGN memutuskan untuk membagikan deviden tahun buku 2019 sebesar Rp 1.007.477.080.625,76 atau Rp41,56 per lembar saham kepada Pemerintah dan Pemegang Saham.
PGN berhasil mempertahankan kinerja positif pada tahun 2019, dengan didukung oleh peningkatan kinerja operasional. Karena itu, PGN selaku Subholding Gas terus berkomitmen memperluas utilisasi gas bumi domestik.
Saat ini, PGN mempunyai lini bisnis pipanisasi Gas, CNG, dan LNG. PGN hadir melalui produk antara lain sinergi yang menyasar segmen pelanggan industri dan komersial, Gas Kita atau Jargas untuk pelanggan rumah tangga dan pelanggan kecil, Gas Link untuk pengguna CNG atau LNG, serta GasKu yang melayani sektor transportasi yang disalurkan ke pelanggan melalui SPBG.
Dari kinerja konsolidasi secara operasional, pada sisi hulu PGN menorehkan catatan lifting minyak dan gas bumi sebesar 28.293 BOEPD, sedangkan pengelolaan bisnis hilir meliputi niaga gas sebesar 990 BBTUD, transmisi gas sebanyak 2.046 MMSCFD, dan bisnis hilir lainnya sebesar 228 BBTUD.
Realisasi volume transmisi dipengaruhi oleh penurunan volume Pertagas dan penghentian penyaluran gas oleh PCML melalui pipa Kalimantan Jawa Gas (KJG) pada September 2019. Sementara itu, realisasi lifting lebih rendah dari tahun 2018 karena dipengaruhi oleh berakhirnya dua blok upstream yaitu SES dan Sanga-Sanga.
Pada tahun lalu, total aset yang dikelola PGN mencapai USD 7,374 Miliar. Dari sisi pendapatan mencapai USD 3,849 Miliar, dengan EBITDA sebesar USD 1,040 Miliar. Secara konsolidasian, PGN menghasilkan laba operasi sebesar USD 546 Juta, dengan laba bersih sebesar USD 68 Juta.
Realisasi Pendapatan atau EBITDA tahun 2019 dipengaruhi oleh menurunnya pendapatan dari sisi upstream, karena berakhirnya dua blok pada akhir 2018 yaitu Blok Sanga-Sanga dan SES, serta harga ICP dan finance lease akibat berhentinya pengaliran gas melalui pipa Kalimantan Jawa Gas (KJG).
Secara lebih detail, kinerja keuangan ditopang geliat operasional. PGN selama tahun lalu, berhasil meningkatkan volume distribusi gas, dari posisi 960 BBTUD, naik 3% menjadi 990 BBTUD pada 2019.
Sedangkan untuk transmisi gas, PGN menyalurkan volume sebesar 2.046 MMSCFD.