INDUSTRY.co.id - Jakarta, Dalam mengembangkan pendidikan vokasi industri, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus berupaya melalui berbagai strategi, antara lain melakukan kerjasama dengan para pemangku kepentingan.
Saat ini Kemenperin tengah menjalin kerjasama dengan Association of Polytechnics and Industry Indonesia (APII) melalui penyelenggaraan workshop untuk memperkenalkan model Dual Vocational Education and Training (D-VET).
Direktorat Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII), Harjanto mengatakan, workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan pendidikan dual sistem ke industri, asosiasi dan politeknik-politeknik lain yang berkenan untuk mengaplikasikannya.
“Ini merupakan langkah untuk memperbaiki kualitas pendidikan tinggi agar bisa berkontribusi kepada industri, dan sebaliknya, sehingga terjadi transfer of technology di bidang pendidikan dan pelatihan,” ungkap Harjanto di Jakarta (4/4/2017).
Dalam kerjasama ini, APII diminta untuk mensosialisasikan praktek-praktek yang diterapkan di kampus politeknik kepada perwakilan sekolah vokasi, pimpinan perusahaan dan asosiasi industri serta lembaga pemerintah terkait. Praktek pendidikan yang dilakukan oleh politeknik-politeknik APII mengacu pada D-VET system yang diterapkan oleh berbagai negara, slah satunya Swiss.
Swiss merupakan negara yang cukup lama menerapkan D-VET system dan telah membuktikan sebagai negara dengan tingkat pengangguran pekerja muda yang rendah dan produktivitas yang tinggi. Berdasarkan The Global Competitiveness Index 2016-2017 Rangkings, Swiss mampu menempati posisi puncak selama beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, Head of Economic Development Cooperation (SECO) kedutaan Besar Swiss di Indonesia, Martin Stottele menyampaikan, kolaborasi pendidikan dengan industri diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil.
“Untuk mengembangkan pendidikan vokasi industri di Indonesia, pemerintah Swiss memberikan bantuan senilai SFr 500 ribu, salah satunya dalam bentuk bantuan konsultasi. Sedangkan lama kerjasama sekitar tiga sampai empat tahun, namun ada kemungkinan diperpanjang mengingat pendidikan teknik memerlukan waktu yang lama,” imbuh Stottele.