Peluang di Tengah Krisis

Oleh : Prof. Dr. Jony Oktavian Haryanto | Senin, 06 April 2020 - 09:50 WIB

Prof Jony Oktavian Haryanto Rektor President University
Prof Jony Oktavian Haryanto Rektor President University

INDUSTRY.co.id - Krisis dalam bahasa mandarin disebut 危 机 (Weiji) yang terdiri dari dua kata, yaitu危  (wei) atau bahaya dan 机 (Ji)  yang berarti peluang atau kesempatan. 

Jadi krisis dalam bahasa mandarin merupakan gabungan dari dua kata, yaitu bahaya  dan peluang. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi global disebabkan karena virus corona ini telah menciptakan krisis ekonomi di hampir seluruh Negara yang ada di dunia.

Penjualan yang menurun, PHK besar-besaran, dlsb. sedang dan sudah menghantam perekenomian kita. 

Para pengusaha, terutama yang modalnya pas-pasan banyak yang mengeluh bagaimana menghadapi masa depan jika pandemi ini tidak segera berlalu.

Namun di sisi lain, banyak juga pengusaha yang mendapatkan keuntungan karena adanya pandemi ini. 

Sebagai contoh, CEO Amazon Jeff Bezos yang kekayaan bersihnya melonjak US$ 5,9 miliar pada tahun 2020 ini dikarenakan banyak orang takut keluar rumah dan melakukan pembelian secara daring.

Demikian juga, pendiri Zoom, Eric Yuan yang hartanya bertambah 64 Triliun dalam 3 bulan karena adanya pandemi ini, dimana banyak orang menggunakan Zoom sebagai platform pertemuan secara daring. 

Dari Asia, kekayaan tiga pendiri pabrik ventilator di China kekayaannya meningkat hingga US$ 7,3 miliar pada tahun ini. 

Seperti dilansir tempo.co.id saham Shenzhen Mindray Bio-Medical Electronics Co meningkat 41 persen. 

Bloomberg  juga memberitakan Robin Li dari Baidu, pemilik platform video daring populer iQiyi yang juga mengalami peningkatan kekayaan diikuti dengan peningkatan kekayaan pengusaha kesehatan yang berspesialisasi dalam vaksinasi, misalnya An Kang dari Hualan Biological Engineering dan Jiang Rensheng dari Zhifei Biological Products.

Bagaimana dengan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang disebut-sebut mengalami dampak paling parah dari adanya pandemi Covid 19 ini? 

Ternyata sama saja, yaitu ketika banyak pengusaha UMKM lain terkena dampak dari virus corona, namun ada juga yang banyak mendapatkan keuntungan.

Misalnya pengusaha toko emas, yang sudah terbiasa membaca tren pasar dan mengetahui bahwa krisis akan menyebabkan harga safe haven seperti emas melonjak, sehingga jauh-jauh hari mereka telah membeli emas dengan harga masih murah dan saat ini harga emas telah mencapai rekor tertingginya sepanjang masa. 

Demikian juga dengan toko kelontong yang barangnya habis diserbu pembeli yang panik dengan adanya kejadian pandemi virus corona ini. 

Lalu apa yang sebenarnya harus dilakukan ketika terjadi krisis untuk mengubahnya menjadi peluang? 

Selain agility, yaitu kelincahan dalam menghadapi perubahan yang sudah dibahas minggu lalu, maka berikutnya adalah kemampuan membaca dan mengikuti tren pasar, atau dalam bahasa manajemen pemasaran stratejik disebut sebagai perusahaan dengan orientasi pelanggan (customer oriented company). 

Contoh-contoh perusahaan diatas yang berhasil mengambil peluang di tengah krisis akibat virus corona ini adalah perusahaan yang berorientasi kepada pasar. 

Menurut Wirtz & Daiser (2018) terdapat tiga variabel utama untuk menjadi perusahaan yang berorientasi ke pelanggan. 

Pertama, bahwa transformasi budaya membutuhkan peranan aktif dari pimpinan puncak. CEO atau pimpinan  perusahaan yang pandai mengubah bahaya menjadi peluang akan mendorong semua pihak dalam organisasi untuk ikut berpikir kritis dan selalu memenuhi kebutuhan pelanggannya, bahkan misalnya pelanggan belum sadar akan kebutuhan sendiri. 

Eric Yuan pendiri Zoom saya yakin sejak lama sadar bahwa masa depan akan semakin tergantung kepada teknologi dan manusia mulai mengurangi pertemuan tatap muka dan menggantinya dengan pertemuan secara daring.  

Kedua, koordinasi  antar fungsi  dari semua proses bisnis yang ada harus dilaksanakan supaya perusahaan memiliki kemampuan agility dalam mengikuti perkembangan selera atau kebutuhan pelanggan yang sangat dinamis perubahannya. 

Seringkali dalam banyak organisasi, ego sektoral dan birokrasi sangat mendominasi sehingga menyebabkan organisasi menjadi gemuk dan akhirnya lamban dalam merespon perubahan. 

Hal ini dapat dibuktikan dari contoh-contoh diatas bahwa perusahaan yang dapat mengambil keuntungan di masa krisis ini merupakan perusahaan yang relatif masih baru sehingga lebih lincah dan birokrasi belum terlalu gemuk. 

Sementara, perusahaan yang usianya sudah ratusan tahun justru kelihatan gamang dalam merespon perubahan ini. 

Ketiga, adalah pengumpulan dan penggunaan intelejensi pasar untuk memahami keinginan pasar dan tren ke depan. 

Memulai bisnis bukanlah karena mendapatkan ilham dari langit namun lebih merupakan hasil perenungan dan kejelian melihat peluang pasar. 

Setelah bisnis itu berjalan, maka intelijen pasar juga harus terus dijalankan untuk mengikuti tren pasar bahkan tren dunia. 

Tanpa adanya intelijen pasar, maka perusahaan tidak mempunyai petunjuk tentang apa yang sedang terjadi dengan pasar. 

Tidak heran banyak perusahaan yang tumbang bukan karena melakukan kesalahan tapi karena tidak mengikuti tren yang ada.

Jika perusahaan atau organisasi melakukan ketiga hal diatas, niscaya akan dapat bertahan di tengah krisis yang sedang melanda Indonesia dan dunia, bahkan bisa merubah bahaya menjadi peluang seperti yang ada dalam filosofi bahasa mandarin. 

Penulis adalah Prof. Dr. Jony Oktavian Haryanto, Rektor President University

Komentar Berita

Industri Hari Ini

BP-AKR Membagikan Paket Alat Pelindung Diri Bagi Tenaga Medis di Beberapa Rumah Sakit Jakarta dan Surabaya

Minggu, 31 Mei 2020 - 10:30 WIB

BP-AKR Dukung Tenaga Medis di Tengah Pandemi Covid-19

PT. Aneka Petroindo Raya (BP-AKR) yang merupakan perusahaan joint venture antara bp dan AKR membagikan bantuan kepada tenaga medis di beberapa rumah sakit yaitu Rumah Sakit Citra Harapan di…

Bendungan Pidekso Wonogiri

Minggu, 31 Mei 2020 - 10:20 WIB

Terus Digenjot, Pembangunan Bendungan Pidekso Wonogiri Telah Mencapai 85 Persen

Bendungan Pidekso merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di bidang Sumber Daya Air untuk mewujudkan ketahanan air dan pangan nasional.

Ilustrasi Tenaga Medis Covid-19 (ist)

Minggu, 31 Mei 2020 - 10:15 WIB

Catat, Pasien Positif Covid-19 Tembus 25.773, Pemerintah: Dibanding 33 Provinsi Lain, Penambahan Kasus di Jatim Tertinggi

Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto menjelaskan bahwa berdasarkan data yang dihimpun Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Pemerintah mencatat jumlah akumulasi kasus…

PT. Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) (“Bahana”) Holding Perasuransian dan Penjaminan

Minggu, 31 Mei 2020 - 10:00 WIB

Semangat Pancasila Jadi Dasar Pelaksanaan 'New Normal' di Holding Asuransi dan Penjaminan

Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni 2020 merupakan perayaan lahirnya Pancasila yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena saat ini dirayakan ditengah diberlakukan…

Galaxy A11 Tampak Belakang White

Minggu, 31 Mei 2020 - 09:55 WIB

Andalkan Fitur Kekinian, Samsung Galaxy A11 Dibanderol Hanya Rp 1.999.000 Pada Flash Sale

Samsung Electronics Indonesia kembali meluncurkan varian terbaru keluarga Galaxy A series, yakni Galaxy A11. Smartphone yang dirancang untuk Gen Z yang dilengkapi dengan beragam fitur esensial…