Bekerja, Belajar dari Rumah Perubahan Budaya Siapkah Masyarakat?

Oleh : Retnowati, Dosen President University | Sabtu, 28 Maret 2020 - 15:08 WIB

Retnowati, Dosen President University
Retnowati, Dosen President University

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Para filsuf berbicara mengenai “kodrat manusia yang tak berubah”, tetapi ucapan tersebut tidak berlaku lagi sekarang.

Kodrat manusia makin terjalin erat dengan cara manusia merubah dirinya sendiri dan masyarakat. Orang harus mengikuti jamannya bahkan harus mempersiapkan hari depannya.

Ini berlaku bagi suatu masyarakat, perusahaan, system pendidikan, politik, sosial bahkan seluruh kebudayaan.

Anjuran pemerintah agar masyarakat bekerja, belajar dan beribadah di rumah untuk mengurangi penyebaran dan penularan Covid-19 telah membuka mata kita pada perubahan kebudayan yang membawa pada pergeseran paradigma.

Pergeseran paradigma ini dapat dilukiskan sebagai menyesuaikan peta batin kepada keadaan yang berubah di dunia luar.

Misalnya bukan bumi sebagai pusat semesta alam, melainkan matahari, maka dalam batin kita telah dibuat sebuah peta baru; dunia luar seolah-olah dipikirkan kembali.

Dalam teropong kebudayaan menurut van Peursen, teknik informasi merupakan tahap ketiga, setelah teknik mesin dan teknik energy.

Teknik merupakan representasi fungsi badani dan rohani. Dalam teknik manusia telah menampilkan kepribadiannya dan segala bakat yang selama ini tersimpan dalam lubuk hatinya.

Perkembangan teknik menunjukkan, bagiamana fungsi-fungsi manusiai semakin ditampilkan ke muka, makin dieksteriorisasikan.

Maka bakat-bakat manusia yang dahulu belum nampak dan tersembunyi, sekarang menjadi tampak. Pada tahap primitive teknik ini terkait dengan daya-daya kekuatan alam.

Pohon, batu, kayu dianggap mempunyai daya kekuatan gaib, punya makna, jiwa/roh dan bertuah.

Sementara itu teknik mesin seperti cangkul, linggis sampai peralatan mesin modern seperti traktor, rotavator, bajak subsoil dsb dipandang sebagai kekuatan otot manusia.

Dalam teknik energy, fungsi-fungsi manusia yang lebih dalam akan keluar, karena badan manusia melebihi sebuah mesin sejauh ia juga membangkitkan energy.

Misalnya penggunaan mesin uap tahun 1850, pembangkitan listrik secara hidrolis tahun 1930, penggerakan roket tahun 1955.

Makin teknik itu menyerupai manusia, artinya makin manusia menampilkan keahlian, kemampuan dan bakat-baktnya sendiri dalam teknik itu, dan pada gilirannya teknik dapat meringankan pekerjaan manusia, seperti robot misalnya, berbagai pekerjaan manusia dapat diringankan oleh Robot.

“Si Minah Robot” yang bertugas di rumah misalnya, bisa melayani anggota keluarga seperti membuatkan kopi, mempersiapkan makan malam, membersihkan rumah dst. Selanjutnya teknik itu diserasikan dengan organisasi seluruh masyarakat.

Komputasi Awan dan Pergeseran Paradigma Teknik informasi dapat dipandang sebagai suatu yang menampakkan) fungsi-fungsi otak manusia.

Jika teknik sebagai fungsi badani dan rohani, maka secara filsafati fungsi dapat dinyatakan roh manusia yang tidak melayang-layang di udara, melainkan justru berkarya lewat pola-pola tertentu dalam teknik informasi dan pengaturan data-data.

Teknik itu bukan sesuatu yang bersangkutan dengan materi saja, melainkan manifestasi fungsi-fungsi manusiawi, bahkan manifestasi roh manusia.

Jika semula teknik masih dipandang sebagai lengan manusia yang panjang sekali, tetapi semakin kegiatan organisasi memainkan peranannya, maka semakin roh manusia itu meliputi seluruh dunia.

Pergeseran paradigma juga telah membawa perubahan dari “push society”, dimana barang-barang consumer “didorong” melalui pemasaran massal, menjadi “pull society” dimana individual mencari produk dan service yang dibutuhkan atau secara pasif meminta “tawaran” dari bisnis.

Pencarian internet telah memudahkan kita untuk menemukan produk apa saja yang ingin kita beli dan butuhkan.

Bukan hanya itu tetapi juga memudahkan kita untuk membanding bandingkankan dengan produk yang lain.

Dengan demikian kita bisa secara leluasa memilih dan membeli produk yang paling cocok untuk dibeli.

Sekarang ini puluhan Iklan di televise tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi untuk membeli dan membandingkan dengan produk lain.

Ketika kita berniat membeli produk tertentu dengan mudah kita akan mencari pasar online dengan harga terbaik, track record terpercaya yang dapat dilihat dari star rating pelanggan dan disesuiakan dengan isi kantong.

Representasi dari fenomena pull ini adalah pasar ponsel. Sejak Aple membuka iPhone, jutaan orang telah mendownload ribuan aplikasi ke kakas mobile, memberi kemampuan pengguna menemukan di peta, memainkan game, berbagi resep, sport, kesehatan dan membaca berbagai buku yang kita butuhkan.

Perusahaan GoodGuide didirikan oleh professor University of California di Berkeley, memulai ambisinya dalam menyediakan sumber informasi terbesar dan paling dapat diandalkan dalam hal kesehatan, lingkungan dan dampak social dari produk-produk di rumah.

Dengan menggunakan iPhone atau kakas mobile, maka pelanggan dapat mencari produk terbaik dalam berbagai kategori seperti sabun, parfum, sampho , alat kesehatan, makanan dsb seberti layaknya disupermarket.

Penutup Memulai dan membiasakan diri melakukan aktivitas tanpa harus melakukan kontak fisik dan bertatap muka dengan orang lain telah merubah cara kerja, belajar, belanja, ibadah konvensional jutaan manusia.

Sebagian masyarakat kita masih beranggapan kegiatan apapun, seperti rapat-rapat, bekerja, kuliah, ibadah, idealnya dilakukan secara fisik, berada di luar rumah, di sebuah tempat tertentu entah di kantor, tempat ibadah, pasar, sekolah dsb.

Melakukan ibadah masih disukai dengan cara bertemu secara langsung dengan komunitas, banyak orang beragama beranggapan menyembah Tuhan yang paling benar dan sacral jika dilakukan dengan cara datang ke tempat ibadah seperti gereja, masjid, klenteng, pura dsb.

Orang tua masih berpendapat anaknya baru bisa belajar dengan baik dan benar jika datang ke sekolah, bertatap muka dengan guru dan dosen di kelas.

Masyarakat kita juga paling hobby berkumpul-kumpul di luar rumah dengan tujuan tidak jelas.

Banyak aktivitas seperti, meeting - meeting yang masih didesign dengan cara mengumpulkan dan mengundang orang. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan sekarang ini dengan komputasi awan.

Manusia dapat melakukan aktivitas dan kegiatan keseharian secara produktif tanpa harus keluar rumah dan melakukan kontak fisik.

Akhirnya suka tidak suka, siap tidak siap, masyarakat kita harus menyambut munculnya perubahan skala besar dalam hidup dengan mengingat kemungkinan perbaikan social yang dibawa oleh komputasi awan untuk kemanusiaan.

Kita harus siap berada di perbatasan dari sesuatu yang luarbiasa.

Kita harus dapat memetakan kekuatan yang menggerakkan komputasi awan ini dan memetakan implikasinya bagi pendidikan, bisnis, perdagangan, pemerintahaan dan kesejahteraan masyarakat.

Penulis adalah Retnowati, Dosen President University

Komentar Berita

Industri Hari Ini

CEO Crown Group, Iwan Sunito (Foto Ridwan/Industry.co.id)

Rabu, 03 Juni 2020 - 06:13 WIB

Pengusaha Sukses Asal Surabaya Ini Sebut Pandemi Covid-19 Dorong Transformasi Teknologi jadi Lebih Cepat

Sejumlah perusahaan global mulai beradaptasi dengan teknologi pada saat pandemi Covid-19. Adanya wabah tersebut, telah memaksa banyak perusahaan untuk melakukan proses transformasi menjadi perusahaan…

Tanda Kehormatan Bintang Dharma kepada KASALdan KASAU

Rabu, 03 Juni 2020 - 06:00 WIB

Tanda Kehormatan Bintang Dharma kepada KASAL dan KASAU

Panglima TNI Marsekal TNI Dr. (H.C) Hadi Tjahjanto, S.I.P. memimpin upacara penyematan Tanda Kehormatan Bintang Dharma kepada Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono, S.E.,…

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo

Rabu, 03 Juni 2020 - 05:30 WIB

Era New Normal Sejalan dengan Gaya Hidup Baru

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyatakan bahwa dirinya lebih suka menggunakan istilah gaya hidup baru ketimbang ‘new normal’ pasca pandemi covid-19. Dan Indonesia, menurutnya harus…

Samuel Rangga Boro/foto HARIANHALUAN.COM

Rabu, 03 Juni 2020 - 05:29 WIB

Usir Virus Corona, Dukun di Pulau Sumba Terima Wangsit dari Malaikat Gabriel

Jakarta- Samuel Rangga Boro Dukun di Kampung Galuwiyo, Desa Tanjung Karoso, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), berapa hari ini ramai diperbincangkan di media…

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Rabu, 03 Juni 2020 - 05:15 WIB

Bukan New Normal, Gubernur Anies Baswedan Justru Terapkan PSBL Usai PSBB di Jakarta

Gubernur DKI Anies Baswedan mewacanakan memperkecil skala penerapannya, atau disebut Pembatasan Sosial Berskala Lokal ( PSBL).