INDUSTRY co.id - Jakarta, Industri manufatur Indonesia kembali menunjukkan geliat positif pada Februari 2020.
Hal tersebut tercermin dari capaian Purchasing Managers’ Index™ (PMI™) manufaktur Indonesia yang dirilis oleh IHS Markit, dengan memperlihatkan kenaikan dari 49,3 pada bulan Januari ke posisi 51,9 pada Februari 2020.
Data yang dirilis IHS Markit tersebut menunjukkan terjadi kenaikan PMI manufaktur Indonesia pada bulan Februari yang didorong oleh bisnis baru dan kecepatan ekspansi output.
Peningkatan PMI manufaktur Indonesia tersebut, pertama kalinya pada kondisi bisnis sejak bulan Juni lalu.
Poin PMI di atas angka 50 menandakan bahwa sejumlah sektor manufaktur masih melakukan upaya perluasan usaha atau ekspansif.
Hasil berbeda dialami oleh negeri ginseng, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Korea Selatan turun ke level terendah empat bulan di 48,7 pada Februari 2020 dari 49,8 pada Januari 2020.
Selain Korea, PMI manufaktur Jepang yang dirilis Jibun Bank Japan juga turun ke 47,8, yang merupakan angka terendah sejak Mei 2016.
Sementara itu, PMI manufaktur Taiwan turun ke bawah level 50.
Di Asia Tenggara, hanya Indonesia yang mencatatkan kenaikan PMI diatas 50.
Thailand dan Malaysia tetap bertahan di bawah level 50, sedangkan PMI Vietnam turun ke level terendah lebih dari enam tahun di 49.
Indeks yang dirilis setiap bulan tersebut, memberikan gambaran tentang kinerja industri pengolahan pada suatu negara, yang berasal dari pertanyaan seputar jumlah produksi, permintaan baru, ketenagakerjaan, inventori, dan waktu pengiriman.
Survei PMI manufaktur dikompilasi dari respons bulanan terhadap kuesioner yang dikirimkan kepada eksekutif pembelian di lebih dari 300 perusahaan industri.
Yang dibagi dalam delapan kategori, yakni logam dasar, kimia dan plastik, listrik dan optik, makanan dan minuman, teknik mesin, tekstil dan busana, kayu dan kertas, serta transportasi.
"Sektor manufaktur Indonesia menunjukkan perbaikan tentatif pada bulan Februari, dengan data PMI menunjukkan perbaikan pertama pada kondisi operasional dalam delapan bulan," kata Bernard Aw selaku Kepala Ekonom IHS Markit kepada Industry.co.id di Jakarta baru baru ini.
Namun demikian, diakuinya, dampak wabah penyakit virus corona (Covid-19) turut berkontribusi memukul dan menyeret turun kinerja manufaktur sejumlah negara Asia, setelah merontokkan aktivitas manufaktur di China.
"Korea Selatan dan Jepang, dua negara dengan jumlah kasus virus korona yang terus bertambah di luar China, menunjukkan penurunan tajam dalam produksi, berdasarkan survei manajer pembelian yang dirilis oleh IHS Markit," pungkasnya.