Permendag 84/2019 Dinilai Tsunami Penghancur Industri Plastik, Aexipindo Siap Ajukan Gugatan ke PTUN

Oleh : Kormen Barus | Jumat, 22 November 2019 - 11:59 WIB

Industri plastik (ist)
Industri plastik (ist)

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Asosiasi Ekspor Impor Plastik Industri Indonesia (Aexipindo) menolak keras Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 84 Tahun 2019 tentang Ketentuan Impor Limbah Non-Bahan Berbahaya dan Beracun Sebagai Bahan Baku Industri.

Permendag Nomor 84 Tahun 2019 yang ditandatangani oleh Menteri Perdagangan Kabinet Kerja 2014-2019, Enggartiasto Lukita ini akan berlaku mulai tanggal 23 November 2019. Permendag ini kemudian mendapatkan penolakan dari sebagian besar pelaku usaha karena diibaratkan sebagai sebuah gelombang tsunami yang dapat meluluhlantakkan industri.

Ahmad Ma'ruf Maulana selaku Ketua Umum Aexipindo mengatakan bahwa selain mengganggu ketersediaan bahan baku, Permendag Nomor 84 Tahun 2019 ini juga dinilai minim sosialisasi. Bahkan menurutnya, tidak sedikit pengusaha yang terkejut karena baru mengetahui adanya regulasi baru tersebut.

"Oleh karena itu, kami Aexipindo meminta agar pemberlakuan Permendag Nomor 84 Tahun 2019 ini ditunda atau direvisi terlebih dahulu. Tentunya juga dengan sosialisasi yang menyeluruh sambil memberi waktu kepada pelaku usaha industri. Jika dalam waktu satu minggu ke depan tidak digubris walau banyak penolakan, maka kami akan mem-PTUN-kan Permendag ini," ujar Ahmad Ma'ruf Maulana di Jakarta, Jumat (22/11/2019).

"Oya, saya baru mendapat kabar bahwa salah satu anggota kami di Aexipindo yakni PT New Harvestindo akan relokasi ke Vietnam setelah merumahkan 1.800 karyawannya. Per bulannya mereka ekspor USD 6 juta. Jadi akibatnya kita akan kehilangan potensi tersebut," imbuh Ahmad Ma'ruf Maulana.

Dijelaskannya, impor skrap tahun ini hanya sekitar 200 ribu ton dan 80 persen olahannya diekspor. Sementara, impor virgin yang nantinya juga akan jadi sampah jumlahnya mencapai sekitar 3,6 juta ton. Selain itu, dalam Permendag tersebut tidak ada ketentuan impurities. Dari hasil ratas disebutkan impurities yakni sebesar 2 persen. Namun, ada surat yang menyatakan bahwa impurities itu 0 persen.

Dari sekian banyak pasal yang menuai kontroversi, ia juga menyoroti ketentuan yang dimuat dalam Pasal 3 Ayat 4 yang mengatur bahwa impor limbah non-B3 sebagai bahan baku industri wajib dilakukan pengangkutan secara langsung (direct shipment) sampai di pelabuhan tujuan yang ditetapkan.

Metode seperti ini hanya diterapkan di negara-negara tertentu seperti China, Jepang dan Australia. Sedangkan sebagian besar negara-negara Eropa menerapkan kebijakan transhipment.

Jika metode direct shipment diberlakukan di Indonesia akan menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan industri dalam negeri. Karenanya, Aexipindo mencurigai regulasi tersebut adalah titipan oknum tertentu. Hal ini tidak sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang menginginkan industri dalam negeri dapat berkembang dengan baik sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Ini akan mendorong tsunami industri plastik yang ada di Batam. Karena di sana selama ini semuanya harus transhipment dulu di Singapura. Kalau itu terjadi maka industri-industri plastik akan mengalami tutup total, tidak bisa masuk bahan baku. Ini ada apa sebenarnya? Siapa yang menitip orderan ini? Pemerintah itu apa urgensinya sampai melakukan hal itu? Nah, jangan kesalahan dari masyarakat dipersalahkan kepada industrinya, jangan kesalahan birokrasi malah kemudian dibunuh industrinya, dibinasakan industrinya," papar Ahmad Ma'ruf Maulana.

Tidak heran bila Enggartiasto Lukita sebagai Menteri Perdagangan dicopot oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk kemudian digantikan oleh Agus Suparmanto. Ia berharap, di bawah kepemimpinan Mendag yang baru itu, pemerintah dapat lebih proaktif dan membina pelaku industri terutama yang berorientasi ekspor.

"Hambatan-hambatan ini perlu Presiden tahu bahwa ini kerja Mendag yang lama. Kami berharap Mendag yang baru ini lebih proaktif dengan dunia usaha. Tidak berpikir menjadi orang tengah tempat dititipkan kebijakan ini. Bagaimana dagang ini tumbuh industrinya dan tumbuh tradingnya. Jangan seolah-olah dititipkan oleh Kemenperin dan KLHK. Tapi Kemendag punya kepentingan bagaimana industri dalam negeri itu tumbuh. Kalau seperti ini bukannya tumbuh malah dimusnahkan," kata Ahmad Ma'ruf Maulana.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi Tour de Singkarak (Foto Ist)

Selasa, 07 Juli 2020 - 16:00 WIB

Riau Berharap Tour de Siak Digelar November 2020

Dinas Pariwisata Provinsi Riau memperkirakan kerugian industri pariwisata di 12 kabupaten dan kota di Riau akibat pandemi virus corona (Covid-19) mencapai sekitar Rp12 miliar. Karena itu Dinas…

ilustrasi HSBC

Selasa, 07 Juli 2020 - 15:40 WIB

HSBC Dukung Pemulihan Ekonomi, Komut Matthew: Asean Selalu Lebih Kuat Saat Bersatu Ketimbang Berjalan Sendiri

HSBC mendukung perjanjian bersama negara-negara anggota ASEAN untuk meningkatkan kerja sama reformasi dan integrasi dalam rangka membendung dampak kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkan oleh…

Menkeu Sri Mulyani (Foto Dok Industry.co.id)

Selasa, 07 Juli 2020 - 15:15 WIB

Kabar Gembira Bu Sri Mulyani! BI Sepakat Berbagi Beban Biaya COVID-19, Ini Rinciannya...

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan dampak Covid-19 di bidang ekonomi membuat pemerintah mengubah postur APBN melalui Perpres 72/2020 yang memuat kenaikan belanja, defisit,…

Acara Nikmatnya Sedekah

Selasa, 07 Juli 2020 - 15:15 WIB

Wasilah Sedekah, Nungki Umrah dan Menikah dalam Sebulan

Agar doa segera terkabul, ada amalan yang pastinya harus dilakukan. Seperti ikhtiar untuk meraih cita-cita, begitu pula dengan hajat yang tentu besarnya upaya seorang muslim untuk mencapainya,…

Presiden Joko Widodo

Selasa, 07 Juli 2020 - 14:40 WIB

Jokowi Minta Anak Buahnya Cari Sumber Alternatif Pembiayaan Lain Danai Proyek Tol Trans Sumatera

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta jajarannya untuk memastikan proyek tol Trans Sumatera mendapatkan pendanaan dari investor.