INDUSTRY.co.id - Jakarta-Industri keramik di Indonesia merupakan salah satu kelompok industri yang dapat diandalkan sebagai penggerak industri nasional selama 25 tahun terakhir.

Advertisement

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan, kapasitas produksi terpasang ubin keramik nasional sebesar 580 juta meter persegi, dengan realisasi produksi ubin keramik mencapai 350 juta meter persegi.

"Saat ini 87 persen produksi keramik nasional dijual di dalam negeri, sedangkan 13 persen lainnya diekspor ke negara-negara di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika," ungkap Airlangga di Jakarta (16/3/2017).

Advertisement

Beberapa industri keramik nasional sudah mulai kurang efisien, karena usia dan teknologinya dan masih memproduksi keramik jenis lama yang kurang mengikuti trend pasar.

"Kami berharap agar produsen keramik dapat diversifikasi produk serta memodernisasi pabrik denga  teknologi digital printing dan mampu memproduksi keramik denga  ukuran besar sesuai trend pasar," tambah Menperin.

Advertisement

Potensi industri keramik nasional juga ditopang dengan SDM yang kompeten, di mana jumlah serapan tenaga kerja di sektor padat karya ini sebanyak 100 ribu orang. Untuk memenuhi kebutuhan SDM yang sesuai permintaan dunia kerja, Kemenperin telah mengembangkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri.

“Kami harapkan industri bekerja sama dengan SMK untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan terdidik, sehingga dapat langsung bekerja di industri,” tegas Airlangga. Langkah ini sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK untuk Peningkatan Kualitas dan Daya Saing SDM Indonesia. “Kami akan memfasilitasi kerja sama dengan Italia untuk vocational training di bidang pelatihan dan pengembangan desain keramik,” tambahnya.

Advertisement

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI), Elisa Sinaga mengatakan, impor keramik di Indonesia saat ini di atas 27 persen per tahun, dan impor keramik di Indonesia didominasi dari negara China.

Tahun 2018 menjadi peringatan bagi industri keramik Indonesia, pasalnya biaya masuk impor keramik China yang dikenakan 20 persen saat ini, di tahun 2018 biaya masuk impor dari China akan menjadi 0 persen.

"Pada kondisi biaya masuk 20 persen saja kita sudah sangat terganggu, apalagi kalau menjadi 0 persen, " tutup Elisa.

Dalam kesempatan ini juga  Elisa Sinaga mengatakan, melalui Pameran Keramika, menjadi ajang para pelaku industri domestik menampilkan beragam produk-produk unggulannya dari penerapan teknologi terkini. "Melalui pameran ini, kami ingin juga menumbuhkan kembali minat msyarakat untuk mencintai dan menggunakan produk keramik lokal yang telah banyak berkualitas, kreatif, dan inovatif," tuturnya.

Dengan dipamerkannya produk berstandar internasional, Elisa berharap dapat mendorong pasar dalam negeri untuk menggunakan produk lokal di berbagai proyek pembangunan gedung perkantoran, fasiltas umum, hingga sarana dan prasarana seperti Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT).

“Diperkirakan hingga tahun 2025, angka kebutuhan rumah di Indonesia mencapai 30 juta unit, sehingga permintaan untuk berbagai produk keramik juga akan meningkat,” ujarnya.