Cegah Karhutla, Pemegang Konsesi Harus Dibebani Tanggung Jawab

Oleh : Herry Barus | Kamis, 14 November 2019 - 10:00 WIB

kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

INDUSTRY.co.id - Jakarta-Pemegang konsesi wajib dibebani tanggung jawab atas setiap peristiwa yang terjadi di area konsesi hutan dan lahan yang dikuasainya. Cara pencegahan ini dinilai efektif dan tidak membutuhkan banyak biaya dibandingkan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pengamat Lingkungan dan Kehutanan Petrus Gunarso mengatakan, tanggung jawab itu akan memaksa setiap pemegang konsesi aktif menjaga, mencegah, menerapkan teknologi lingkungan, melakukan pemadaman saat terbakar serta melibatkan masyarakat di sekitar konsesi untuk mencegah karhutla.

“Tanggung jawab pemegang konsesi menjadi penting karena mereka akan fokus menjaga kawasannya. Dengan cara ini, potensi terjadinya karhutla yang  disinyalir 99 persen merupakan ulah manusia bisa dicegah dan  tidak lagi menjadi bencana berulang,” kata Petrus dalam seminar bertema “Penanggulangan Karhutla berbasis Masyarakat” yang diadakan Majalah Tropis di Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Menurut Petrus, pemegang  konsesi hutan dan kawasan yang masuk Area penggunaan lain (APL) perlu dibedakan secara legalitas dan masing-masing punya tanggung jawab  sama dalam menjaga konsesinya.

 

Jika cara ini diterapkan, kebijakan tanggung jawab mutlak atau strict liability sebagai dasar pembayaran ganti rugi bisa diberlakukan kepada semua pihak baik korporasi, pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pihak-pihak pengelola konsesi.

Kebijakan ini secara  tidak langsung juga akan memotivasi pemerintah sebagai penanggung jawab keseluruhan daratan  untuk mengelola kawasan yang sudah berizin maupun yang belum berizin dengan baik.

Kesetaraan tanggung jawab bagi pengelola konsesi diharapkan bisa meminimalir kampanye hitam terhadap industri sawit di Indonesia. “Selama ini, setiap karhutla selalu dikaitkan dengan industri sawit. Padahal kebakaran terbesar tahun ini justru terjadi NTB yang merupakan kawasan Sabana dan pulau Jawa yang keduanya tidak ada kebun sawitnya,” kata dia.

Petrus juga mengharapkan, pentingnya ada regulasi yang mengatur mengenai status keterlibatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan seperti Masyarakat peduli Api (MPA).  Hal ini, ketergantungan terhadap masyarakat terutama untuk pencegahan karhutla di luar konsesi sangat tinggi.

“Pertanyaan, apakah mereka terlibat secara sukarela atau berbayar. Ini perlu diperjelas. Jangankan masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, masyarakat di kota besar seperti Jakarta yang jelas kepemilikan lahannya, pembakaran sampah plastik dan organik masih terjadi.  MPA diharapkan menjadi pioner dan  contoh bagi masyarakat dalam membuka dan membersihkan lahan tanpa membakar, perlu punya kejelasan status ,” kata dia.

Prof. Dr. Dodik Ridho Nurrachmad, Wakil Rektor IPB mengatakan, produktivitas suatu kawasan sangat menentukan banyaknya titik api (hotspot). Umumnya semakin tidak produktifnya satu kawasan seperti  kawasan terbuka atau open access yang tidak dibebani izin pengelola,  hotspot semakin banyak.

“Kecil kemungkinan suatu kawasan produktif seperti perkebunan sawit terbakar dan punya banyak hotspot. Kalau pun itu ada, harus dilihat motif dan modusnya” kata dia.

Dodiek menyarankan Pemerintah tidak menutup opsi lain dalam restorasi gambut. Selain Pembasahan gambut (rewetting)  sebaiknya opsi pemadatan dibuka.  Menurut Dodiek, ada sejumlah alasan perlu opsi lain, salah satunya untuk mencegah kebakaran.

Menurut Dodiek, rewetting juga tidak menjamin tinggi muka air bisa sama yakni 0,4 m, terutama di perkebunan sawit rakyat. Hal ini karena usia sawit khususnya sawit rakyat berbeda-beda serta bentuk kanal yang tidak beraturan.

”Ini masalahnya. Pada kebun sawit usia 10 tahun mungkin ketinggi 0,4 m cukup. Namun bagi sawit yang baru ditanam, pasti akan terendam dan sulit tumbuh,” kata dia.

Menurut Dodiek, kedua tehnik ini bisa dipergunakan dengan memperhitungkan subsidensi, besaran karbon yang keluar serta kelembaban tanah. 

 

“Pemadatan juga punya sisi baik.Dengan tehnik ini kebakaran hanya terjadi dipermukaan. Kapilaritas yang sempit akan mendorong air naik ke permukaan sehingga tanah lembab.  Ini akan memotong salah satu sumber kebakaran di segitiga api sehingga potensi kebakaran di  bawah permukaan tanah sangat kecil, “  jelas Dodiek.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) Joko Supriyono mengatakan, penguatan desa di tingkat tapak perlu dilakukan sebagai solusi pencegahan karhutla.

Menurut Joko, perlu dibuat peta desa untuk memetakan kondisi desa, wilayah rawan kebakaran, sumber air serta akses kepemilikan lahan.

Pemerintah juga perlu menunjuksatu instansi sebagai penaggung jawab perancanangan program desa dengan memanfaatkan dana desa untuk operasional pencegahan kebakaran hutan dan lahan di tingkat desa.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK Raffles Panjaitan mengatakan pihaknya akan membentuk 1.200 desa rawan karhutla dan mengajak masyarakat berpatisipasi.

Nantinya BPPT akan membuat teknologi yang akan disesuaikan dengan kondisi wilayah. Teknologi ini akan memberikan sinyal jika ada karhutla. 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Dirut BRI, Sunarso menerima penghargaan (Doc: BRI)

Kamis, 09 Juli 2020 - 22:43 WIB

Keren, Dirut BRI Sunarso Dinobatkan CEO Paling Visioner

Pandemi COVID-19 yang hingga saat ini masih terjadi menjadi akselerator transformasi di tubuh Bank BRI. Proses transformasi tersebut diapresiasi oleh majalah BUMN Track, dimana dalam ajang 9th…

Ilustrasi tambang batu bara (Foto Ist)

Kamis, 09 Juli 2020 - 21:55 WIB

PT Bumi Resources Tbk Tegaskan Telah Bayar Keseluruhan Pokok dan Kupon Tranche A sebesar USD327,82 juta

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menegaskan telah memproses pembayaran kesepuluh sebesar USD6,51 juta melalui agen fasilitas pada tanggal 8 Juli 2020, yang mewakili bunga pinjaman sebesar USD6,51…

 PT Pegadaian (Persero)

Kamis, 09 Juli 2020 - 21:40 WIB

Pegadaian Terbitkan Obligasi Tahap II Senilai Rp1,5 Triliun

PT Pegadaian (persero) terbitkan Obligasi Berkelanjutan IV Pegadaian Tahap II Tahun 2020 (Obligasi Tahap II) senilai Rp1,5 triliun dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Pegadaian Tahap II Tahun…

Tokio Marine Life Insurance Indonesia mengadakan acara webinar My Turning Point, My New Normal melalui platform Zoom, pada hari ini, Kamis 9 Juli 2020.

Kamis, 09 Juli 2020 - 21:25 WIB

Tokio Marine Life Insurance Indonesia Dorong Masyarakat Bersikap Positif dan Cermat Kelola Keuangan di Era New Normal

Jakarta 09/7/20 – Sejak pandemi COVID-19 merebak awal tahun ini, perlambatan ekonomi pun menjadi tak terelakkan. Sejumlah data yang dipaparkan oleh ekonom, menteri dan juga para pengusaha…

Serahterima KartaNU Cilegon (Doc: BNI Syariah)

Kamis, 09 Juli 2020 - 20:55 WIB

Hore...Kartu Anggota NU Cilegon Berwujud ATM BNI Syariah

BNI Syariah menandatangani kerjasama dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Cilegon terkait penerbitan kartu debit co-branding kartu anggota NU (KARTANU) yang bisa digunakan sebagai…