Tak Hanya Safeguard, Asosiasi Tekstil Desak Pemerintah Benahi Ekosistem Usaha

Oleh : Ridwan | Selasa, 17 September 2019 - 12:05 WIB

Industri Tekstil
Industri Tekstil

INDUSTRY.co.id -Jakarta - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menuntut pemerintah melakukan perbaikan ekosistem usaha. 

"Ekosistem industri tekstil dan produk tekstil memang perlu perbaikan menyeluruh. Misalnya, kemudahan bagi investor membangun usaha baru di Indonesia," kata Ketua API Ade Sudrajat di Jakarta, Selasa (17/9).

Saat ini, lanjut Ade, masih terlalu banyak perizinan yang mesti diurus oleh investor saat membuka usahanya di Indonesia. Bahkan, terangnya, rekomendasi dari pihak berwenang hingga keputusan kepala desa saja dijadikan perizinan.

"Bahkan Perpres sangat lemah dibandingkan dengan Keputusan Kepala Desa. Kepdes lebih powerful karena ditungguin sama lurahnya di depan pabrik," tegas Ade.

Asosiasi juga meminta perbaikan ekositem dilakukan melalui harmonisasi tarif dari hulu ke hilir. Pasalnya, produsen tekstil dan produk tekstil dalam negeri merasa keberatan dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan bea masuk untuk produk TPT dari dari bahan lokal yang bisa menyentuh 15 persen. Hal ini berbeda dengan bahan baku hasil impor yang dikenakan bea masuk nol persen karena ada kebijakan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).

"Untuk kain jadi dan garmen nol persen, sedangkan hulunya ada bea masuk 50 persen, bahkan ditambah dengan anti dumping 9 persen, bisa ada yang menjadi 15 ada yang 20, macam-macam," kata Ade.

Pada prinsipnya, kata Ade, pelaku usaha meminta adanya kesamaan perlakuan tarif antara bahan baku impor dan bahan baku lokal. Bahkan Ade menyebut, bila ada Kemudahan Impor Tujuan Ekspor, maka harus dibuat pula Kemudahan Lokal Tujuan Ekspor. Pemerintah, ujar Ade, harus berpihak pada produsen yang benar-benar memanfaatkan bahan baku lokal.

"Harmonisasi tarif yang diusulkan dari Menperin adalah, secara tegas di hulunya, serat dan fiber misalnya bisa nol persen. Dibawahnya lagi 5 persen. Kainnya 8 persen, garmen 12 persen, semuanya seperti piramida," ungkapnya.

Pelaku usaha juga menuntut adanya safeguard yang bisa melindungi komoditas tekstil dan produk tekstil dalam negeri dari gempuran produk impor, terutama asal China. "Safeguard dari hulu ke hilir dengan besaran bea masuk yang memastikan kita tidak kebanjiran lagi barang impor," kata Ketua APSyFI Redma Gita Wiraswasta.

Lebih lanjut, Redma menjelaskan, jika besaran safeguard yang diusulkan hanya 0-12 persen, sudah dipastikan tidak akan bisa membendung produk impor, karena perbedaan harga barang lokal dengan impor aja sudah 30-40 persen, belum lagi kalau impor dilakukan under invoice atau under declare volume, beda harganya bisa lebih tinggi.

"Jadi, percuma kalau dilakukan safeguard kalau hanya 0-2 persen," terangnya.

Redma meminta besaran safeguard di hulu minimal 20 persen untuk menggantikan anti-dumping yang berlaku saat ini. "Artinya, ke hilirnya harus lebih besar dari itu," tandas Redma.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Liga Kompas Gramedia

Sabtu, 19 Oktober 2019 - 08:30 WIB

Suzuki Dukung Anak Indonesia Raih Mimpi Lewat Liga Kompas Gramedia

PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) untuk berkontribusi secara aktif melalui salah satu turnamen sepak bola dalam menempa bibit-bibit pemain muda sebagai harapan Indonesia di masa depan.

Produk Inovatif Taiwan TA-13 Hydrogen Water Generator Hasilkan Air Hydrogen Yang Sehat

Sabtu, 19 Oktober 2019 - 08:12 WIB

Produk TA-13 Hydrogen Water Generator Hasilkan Air Hydrogen Yang Sehat

Saat ini, perhatian masyarakat terhadap air minum yang sehat terus meningkat. Bisa disaksikan banyak anggota masyarakat yang pergi ke mana pun membawa termos atau tempat air minum. Isinya bermacam…

Game Kabinetijen

Sabtu, 19 Oktober 2019 - 08:00 WIB

Netizen Bikin Lebih Dari 6.500 Kabinet Bayangan di Game Kabinetijen

Game Kabinetijen di Opini.id yang mengajak netizen untuk menyusun kabinet bayangan versi mereka sendiri berhasil mengumpulkan lebih dari 6.500 versi kabinet dalam waktu kurang dari dua bulan…

Cloudera Luncurkan Data Cloud Enterprise Pertama di Industri

Sabtu, 19 Oktober 2019 - 07:00 WIB

Cloudera Luncurkan Data Cloud Enterprise Pertama di Industri

Cloudera (NYSE: CLDR), perusahaan data cloud enterprise, hari ini meluncurkan Cloudera Data Platform (CDP). CDP adalah platform data terintegrasi yang mudah diimplementasikan, dikelola, dan…

Para narasumber Paviliun Indonesia, berbincang seusai konferensi pers peluncuran Paviliun Indonesia pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2019 (18/10).

Sabtu, 19 Oktober 2019 - 06:45 WIB

Paviliun Indonesia Bakal Jadi Favorit pada Expo 2020 Dubai

Tangerang Selatan-Pemerintah Indonesia menyatakan optimis terhadap kesuksesan Paviliun Indonesia pada Expo 2020 Dubai. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Dody…