Wangi Pucuk Kenanga Itu Tak Akan Hapuskan Bau Anyir Darah Para Kyai Kami

Oleh : Anab Afifi | Rabu, 11 September 2019 - 13:39 WIB

Anab Afifi, Penulis Buku dan CEO Boston Price Asia
Anab Afifi, Penulis Buku dan CEO Boston Price Asia

INDUSTRY.co.id - Sekali waktu datanglah ke Desa Kenongo Mulyo. Desa yang hanya berjarak beberapa kilometer arah selatan dari Takeran, Magetan, Jawa Timur. 

Di desa ini banyak tumbuh pohon kenanga yang menjulang.
Apabila datang musim hujan, pucuk-pucuknya bersemi. Pohon ini banyak dijumpai tumbuh di halaman warga desa. Di pagi hari, mereka akan memetik pucuk-pucuk kenanga itu.

Dahulu sewaktu masih kanak-kanak, setiap pagi, dengan membonceng sepeda motor butut ayah saya melewati desa itu setelah menyeberang sungai Madiun dengan perahu gethek. Itu antara kurun 1974-1975. 

Saya memang lahir di kota ini, di sebelah timur sungai Madiun atau kali Jati. Sungai yang setiap hari harus saya lalui bersama ayah saya untuk menuju tempat sekolah di Madrasah Ibtidaiyah PSM Takeran. Sedangkan ayah saya, salah satu guru Madrasah Aliyah di sekolah itu. 

Di pagi hari para penduduk memetik daun-daun pucuknya yang baru bersemi. Saya mengira itu daun sayuran seperti kembang turi yang juga biasa dipetik di desa saya untuk sayur pecel.

"Bukan. Itu nanti disuling dan diekspor ke Perancis untuk bahan minyak wangi, “papar ayah saya.

Empat puluh tahun berlalu sejak masa kanak-kanak itu. Pohon-pohon kenanga menarik kaki saya datang ke kota ini. Selama empat hari, tanggal 7 – 10 September 2015, saya berkeliling kota kelahiran saya, termasuk mengunjungi desa itu. Berziarah ke makam-makam tua di Soco, Gorang Gareng, Kresek, dan Ngawi. 

Tak jauh dari sungai yang dahulu selalu saya lalui tiap pagi itu, adalah dukuh Cigrok. Ingatan saya melayang ke cerita-cerita dari ayah dan para kakek-nenek saya. Tentang sebuah drama di tahun 1948. Dukuh Cigrok letaknya sekitar empat kilometer dari PSM Takeran ke arah selatan. 

Tentang PSM Takeran itu sendiri, di bagian lain buku ini, Mbah Zakariya, telah berkisah tentang hilangnya guru panutannya bernama Kyai Imam Mursyid Muttaqin. 

Di Cigrok ini, saat itu terdapat sumur tempat pembantaian para kyai dan santri. Sama seperti yang terjadi di Soco dan lain-lain tempat. Di sini terdapat pesantren juga. 

Cigrok hanyalah satu tempat dari 24 desa lokasi pembantaian para kyai dan para santri. Ya memang desa-desa ini adalah kampung santri. Di sumur tua Cigrok, Kyai Imam Sofwan dari Kebonsari, termasuk di antara korban keganasan kawanan PKI di bawah komando Muso pada tahun 1948. Kyai ini dipukuli lalu dimasukkan ke dalam sumur itu. Demikian kisah yang saya baca dan sudah menjadi cerita umum masyarakat di sekitar Cigrok. 

Meski sudah dihajar dan dihujani aneka benda-benda keras dari atas sumur, Kyai Imam Sofwan belum mati. Dalam situasi kritis itu, refleks sang kyai hanya satu: memasrahkan diri kepada Sang Khalik. Lalu ia melantunkan suara azan.Muslim, seorang warga yang tinggal tidak jauh dari sumur itu, mendengar suara azan sang kyai. 

Malam dini hari itu, memang mencekam. Terdengar suara gaduh para pasukan FDR/PKI yang membentak-bentak para tawanan. Ia hanya bisa mengintip dari bilik rumahnya.

Muslim sepertinya mengenali suara azan dari salah satu sumur itu. Semakin dilamatkan telinganya, ia semakin yakin pemilik suara azan itu adalah Kyai Imam Sofwan dari pesantren Kebonsari.  

Karena sudah kelelahan, Kyai Imam Sofwan, akhirnya meninggal bersama tumpukan mayat-mayat lain yang penuh anyir darah. Tidak jauh dari sumur itu, kedua putra Kyai Imam Sofwan, yaitu Kyai Zubair dan Kyai Bawani, juga menjadi korban pembantaian di sebuah sumur di Desa Kepuh Rejo. 

Achmad Idris, yang ketika itu sudah ditawan tentara FDR/PKI, menyaksikan penjagalan biadab tersebut dari kejauhan. Meski sayup-sayup, dia sangat mengenal suara azan KH Imam Sofwan yang mengumandang dari dalam sumur itu. Sebab, ia sering mendengarkan pengajian-pengajian kyai itu. 

Idris menyaksikan dengan mata kepalanya. Dengan tangan terikat mereka dihadapkan ke sumur. Para tawanan itu satu persatu dihantam dengan pentungan. Mereka menjerit lalu roboh ke dalam sumur. 

Tak semuanya langsung roboh dan tewas. Ada pula yang masih kuat merangkak sambil melolong-lolong kesakitan. Tangan mereka menggapai-gapai, mencari pegangan. Melihat mereka para korban merangkak seperti itu, orang-orang PKI kemudian menyeret begitu saja dan memasukkan mereka hidup-hidup ke dalam sumur. Hal yang sama sebagaimana dialami Kyai Imam Sofwan beserta kedua anaknya Kya Zubair dan Kyai Bawani yang masih hidup ketika dimasukkan ke dalam sumur.

Korban sumur Cigrok setidaknya berjumlah 22 orang. Di antara para korban itu, selain Kyai Imam Sofwan, adalah Hadi Addaba’ dan Imam Faham dari PSM Takeran.

Addaba’ adalah guru dari Mesir yang ditugaskan mengajar di Takeran. Imam Faham adalah adik Muhammad Suhud yang juga jadi korban keganasan PKI.

Imam Faham sendiri sebetulnya ikut mengiring Kyai Imam Mursyid Muttaqin, saat dibawa mobil PKI selepas Jumat, 17 September 1948. Namun, di tengah jalan, kyai dan pengawalnya rupanya dipisah. Imam Faham diturunkan di tengah jalan, dan akhirnya ditemukan dikubur di lubang pembantaian Cigrok.

Tak hanya para kyai dan santri yang menjadi korban. Camat Takeran Prijo Utomo juga dijagal di sumur Cigrok bersama Komandan Polisi Takeran, Martowidjojo beserta sejumlah anak buahnya. 

Inilah ingatan yang kembali menguat setelah empat hari peziarahan itu. Jelang tengah malam, usai berkeliling dari lokasi ke lokasi di Madiun, Magetan, Ponorogo dan Ngawi, saya melintas Desa Kenongo Mulyo dari arah Gorang Gareng menuju desa kelahiran saya di Desa Resojasi, Kecamatan Kebonsari.

Sebentar lagi saya akan memasuki Cigrok, sebelum melintas jembatan sungai itu. Aroma pucuk-pucuk daun kenanga itu terasa. Masuk melalui celah-celah jendela mobil Panther tua yang saya kendarai sendirian. 

Sebagian mitos Jawa mengatakan: “jangan menanam pohon kenanga di depan rumah.Sebab pohon ini akan mengundang para kuntil anak datang. Konon mereka adalah penjelmaan arwah-arwah gentayangan.”

Nyatanya, malam itu tidak ada kuntil anak. Ya, pasti tidak akan pernah ada. Karena orang-orang yang dikubur hidup-hidup di sumur Cigrok itu adalah para syuhada. Jiwa mereka harum mewangi, menjulang ke langit tinggi dan abadi. 

Sampai kapan pun, sejarah anyir kekejaman PKI itu tak akan terlupakan. Bahkan, wanginya aroma daun-daun kenanga yang banyak tumbuh di sekitarnya, tak kan bisa menghapuskan bau anyir darah pengorbanan para kyai kami. 

Penulis adalah Anab Afifi dalam buku Ayat-ayat yang Disembelih, edisi cetakan ke 4, halaman 70-74.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi Impor Daging

Senin, 16 September 2019 - 07:33 WIB

Daging Impor Tanpa Sertifikat Halal Dalam Sorotan

Bogor – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS.c menyoroti tentang beredarnya kabar bolehnya daging impor yang masuk tanpa sertifikasi…

Industri Tekstil

Senin, 16 September 2019 - 07:15 WIB

Kemenperin Rajut Harmonisasi Industri Tekstil Nasional

Kementerian Perindustrian bersama para stakeholder sedang berupaya melakukan harmonisasi tarif di industri tekstil dan produk tekstil (TPT), mulai dari sektor hulu sampai hilir sehingga untuk…

Pendaki Cilik, Fayyadh Qaishar Syafiq asal Tanggerang, Banten

Senin, 16 September 2019 - 07:14 WIB

Pendaki Cilik Terjang Butiran Es di Puncak Gunung Gede

Jakarta - Pendaki cilik asal Cipondoh Tangerang, Fayyadh Qaishar Syafiq (11 tahun), melakukan kembali pendakian yang kedua kalinya di Gunung Gede Desa Suka Tani, Cipanas, Bogor, Jawa Barat.

Waskita Realty-BTN Sepakat Pembiayaan Properti Program SatiFive

Senin, 16 September 2019 - 07:00 WIB

Waskita Realty-BTN Sepakat Pembiayaan Properti Program SatiFive

PT Waskita Karya Realty (Waskita Realty), anak perusahaan dari PT Waskita Karya, (Persero), Tbk, yang bergerak pada bidang pengembangan properti, melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama…

Robert Walters Indonesia Meraih Predikat The Best Companies To Work For In Asia

Senin, 16 September 2019 - 06:00 WIB

Robert Walters Indonesia Meraih Predikat “The Best Companies To Work For In Asia”

Robert Walters Indonesia, perusahaan spesialis rekrutmen profesional berskala global dinobatkan sebagai “The Best Companies To Work For In Asia 2019” oleh HR Asia Magazine. Pada tahun ini,…