INDUSTRY.co.id - Jakarta - Dosen Kelompok Keahlian Perumahan Permukiman Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SKPPK) ITB Jehansyah Siregar menilai pembangunan perumahan yang dilakukan pemerintah masih belum mampu menekan angka kebutuhan rumah atau backlog di Tanah Air.

Hingga saat ini, disinyalir kebutuhan rumah di Tanah Air menyentuh angka 7,6 juta unit.

"Backlog yang ada saat ini melebihi klaim pemerintah yaitu 15 juta unit," katanya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (29/8).

Ditambahkan Jehansyah, laju urbanisasi yang cepat turut menjadi penyumbang pesatnya pertumbuhan pemukiman kumuh di wilayah perkotaan yang diperkirakan telah mencapai 60 ribu hektar. "Berbagai program perumahan umumnya hanya menyentuh lapisan teratas dan menyisakan sebagian besar kelompok masyarakat yang tidak mampu menjangkau rumah sederhana. Akhirnya, kondisi ini hanya membawa masyarakat hidup di lingkungan yang kumuh, dan semakin jauh dari cita-cita memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa," jelasnya.

Menurut Jehansyah, rumitnya persoalan penyediaan rumah tidak bisa hanya diselesaikan oleh pejabat dengan level Direktur Jenderal (Dirjen). Melainkan, persoalan ini harus diselesaikan oleh pajabat setingkat Menteri yang secara fokus merampungkan masalah ini. 

"Masalah perumahan tidak bisa diselesaikan oleh pejabat level Dirjen, harus ada Menteri yang secara fokus menyelesaikan masalah ini," tegasnya.

Secara karakteristik, tambahnya, urusan perumahan rakyat berbeda dengan pekerjaan umum. Sebab, pekerjaan yang ditangani Kementerian PU secara umum merupakan proyek enjinering dengan kandungan teknis tinggi, manajemen proyek rumit dan anggaran besar. Sedangkan perumahan rakyat lebih banyak mengurusi dimensi sosial ekonomi dan komunikasi dengan para pihak dan melibatkan multi pihak pemangku kepentingan. 

"Dimensi-dimensi vital perumahan rakyat ini akan terancam terabaikan dalam iklim pekerjaan teknis ke-PU-an. Perbedaan mendasar ini membutuhkan penanganan yang berbeda, mulai dari paket proyek yang berbeda hingga pola komunikasi," ungkapnya.