IKATSI: Industri Tekstil Kian Tergerus Tanpa Penanganan

Oleh : Herry Barus | Rabu, 28 Agustus 2019 - 07:00 WIB

Industri Tekstil
Industri Tekstil

INDUSTRY.co.id -  Jakarta-Industri tekstil dan produk tekstil dalam negeri kian tergerus produk impor, namun hingga saat ini belum ada perhatian dan penanganan yang serius dari pemerintah. Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan untuk menghentikan dulu pemberian ijin dan rekomendasi impor agar stok produk dalam negeri bisa terjual.

Ketua Umum IKATSI, Suharno Rusdi memperkirakan saat ini ada sekitar 1,5 juta bal benang dan 970 juta meter kain stok yang menumpuk digudang-gudang industri tekstil karena tidak bisa terjual. “Kira-kira senilai Rp. 30 trilyun atau setara dengan 2 sampai 3 bulan stok” tegas Rusdi.

Tingginya stok ini membuat industri tekstil kesulitan memutar modal kerja nya karena siklus modal kerja disektor tekstil sangat cepat. “Kalau dibiarkan berlarut dan stoknya lebih banyak maka dalam 2 sampai 3 bulan kedepan akan ada perusahaan yang tidak mampu membayar upah karyawan bahkan tidak mampu bayar pesangon” tambahnya. “Hanya beberapa perusahaan yang bermodal kerja kuat saja yang mampu bertahan” tegasnya.

Kemudian Suharno menjelaskan bahwa IKATSI telah menyampaikan secara resmi kepada beberapa Menteri terkait. “Intinya kami meminta pemerintah mengubah kebijakan perdagangan agar lebih pro produk dalam negeri dan bisa menguasai pasar domestik, sambil kita tingkatkan dayasaing agar bisa lebih bersaing untuk ekspor” jelasnya.

 Hasil analisa Tim IKATSI yang disampaikan ke pemerintah menyebutkan 7 point utama untuk meningkatkan dayasaing yaitu Bahan Baku, energi, SDM, Pasar, Teknologi, Fiskal-Moneter dan Lingkungan. “Tahun ini kita butuh penyelamatan industri dulu, kita minta pemerintah stop impor kecuali impor untuk tujuan ekspor, dalam tiga tahun kedepan kita minta pemerintah terapkan trade remedies untuk mensubstitusi impor dan mendorong investasi dan dalam 5 tahun kedepan kita harus kerjakan agenda peningkatan daya saing yang 7 point tersebut plus harus ada undang-undang ketahanan sandang” jelas Rusdi.

 IKATSI meminta pemerintah tidak salah fokus hanya mendorong ekspor terus tanpa memikirkan struktur integrasi. Sejarah industri TPT nasional akhir 70-an menunjukan bahwa sebelum masuk pada periode ekspor di 80-an, kita terlebih dahulu melalukan substitusi impor untuk memperkuat struktur industri sehingga ekspor dilakukan dengan dorongan bahan baku lokal. “Kalau mendorong ekspor pakai bahan baku impor, ya jadinya seperti sekarang, tidak sustain, neraca perdagangan terus tergerus karena banyak pemain yang jadi kecanduan barang impor“ lanjutnya.

“Sekarang mau stop impor susah, karena beberapa pihak sudah mereguk keuntungan mudah termasuk beberapa oknum birokrasi pembuat dan pelaksana kebijakan” pungkasnya. Untuk itu IKATSI meminta Presiden sendiri yang langsung turun tangan menyelamatkan industri padat karya ini.

 Hal senada diungkapkan Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Federasi Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (DPN-FKSPN), Ristadi bahwa pemerintah perlu segera menyelamatkan tiga juta pekerja di industri tekstil. “Ini sektor padat karya yang bisa berdampak buruk jika masalahnya tidak segera diatasi, akan banyak pengangguran” jelasnya.

 Berdasarkan laporan yang diterima dari masing-masing pengurus daerah, saat ini sudah 40 ribuan karyawan yang dirumahkan. “PT. PIR ada 14 ribu yang di PHK belum lagi PT. IKM dan PT UNL bahkan sudah tutup” tegasnya.

Kemudian Ristadi membeberkan bahwa alasan mereka dirumahkan sama yaitu stok digudang menumpuk dan perusahaan kesulitan untuk menjual barangnya karena tidak ada orderan. DPNFKSPN tengah berkomunikasi dengan Kementerian Perdagangan dan kementerian Perindustrian dan meminta agar kebijakan pemerintah tidak memberikan kelonggaran pada produk impor. “Kita minta impor sementara distop dulu sampai pemerintah punya kebijakan yang tepat untuk kembali menyehatkan industri tekstil dalam negeri” tutupnya

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Juru Bicara Pemerintah terkait Penanganan virus corona, Achmad Yurianto

Senin, 06 April 2020 - 16:10 WIB

Per Hari Ini, 2.491 Orang Indonesia Positif Corona, 209 Meninggal, 192 Sembuh

Kasus virus corona di Indonesia semakin hari kian bertambah. Juru bicara penanganan corona, Achmad Yurianto, memperbarui data kasus positif virus corona hingga Senin (6/4) pukul 12.00 WIB sudah…

KADIN-Pengusaha Peduli NKRI Dukung Penanganan Wabah Covid 19 Terus Berlanjut

Senin, 06 April 2020 - 16:06 WIB

KADIN-Pengusaha Peduli NKRI Dukung Penanganan Wabah Covid 19 Terus Berlanjut

Para pengusaha Indonesia yang bernaung di Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dan tergabung dalam Pengusaha Peduli NKRI menyerahkan bantuan alat medis dalam penanganan wabah Covid-19 di Indonesia…

Pasar Tekstil Tanah Abang (Ist)

Senin, 06 April 2020 - 16:00 WIB

Perumda Pasar Jaya Perpanjang Penutupan Pasar Tanah Abang

Perumda Pasar Jaya memperpanjang penutupan Pasar Tanah Abang untuk mencegah penyebaran corona.

Presiden Jokowi

Senin, 06 April 2020 - 16:00 WIB

Presiden Jokowi Tegaskan Napi Korupsi Tak Dibebaskan karena Covid -19

Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pemerintah tidak berniat untuk membebaskan para narapidana korupsi karena pandemi COVID-19.

IKEA- PRSI Donasi Paket Peralatan Rumah Tangga

Senin, 06 April 2020 - 15:50 WIB

IKEA- PRSI Donasi Paket Peralatan Rumah Tangga

Dalam rangka menciptakan kehidupan hari-hari yang lebih baik bagi masyarakat yang lebih luas, IKEA Indonesia memberi bantuan paket produk perlengkapan rumah tangga kepada Perhimpunan Rumah Sakit…