INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pemerintah berencana untuk membebaskan produsen otomotif mendatangkan produknya secara utuh (completely bulit-up/CBU) ke Tanah Air. Upaya ini untuk mempercepat era elektrifikasi atau kendaran listrik berbasis baterai di Indonesia.
Harapannya, masyarakat akan terbiasa dengan keberadaan kendaraan jenis baru tersebut dan lebih jauh merangsang untuk memilikinya secara pribadi. Namun langkah tersebut mendapat kritikan dari Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia ( Gaikindo), Yohanes Nangoi.
Ia mengingatkan agar pemerintah tidak gegabah dalam mengambil keputusan sehingga meresahkan produsen otomotif dalam negeri. "Khawatirnya, kalau 10-15 tahun lagi mobil kita harus impor semuanya. Itu yang patut kita perhatikan, kami jaga betul. Gaikindo tidak ingin industri otomotif mati," katanya di Jakarta, akhir pekan kemarin.
Nangoi melanjutkan, bila tujuannya hanya untuk tes atau membentuk pasar, boleh-boleh saja. Tapi terus monitor dan awasi produsen tersebut, jangan sampai kelabasan.
"Pada tahap awal, untuk menentukan jenis apa ya sesuai, tipe seperti apa, jadi kajian-kajian sebelum diindustrikan di sini boleh saja. Supaya istilahnya, tidak beli kucing dalam karung. Tapi jangan dilepas, nanti mereka kelabasan," kata Jongkie.
Para produsen otomotif yang impor CBU, kata Jongkie, harus komitmen untuk melokalkan produknya di Indonesia. "Saya rasa diberi waktu dua tahun cukup untuk membangun industrinya, jangan lebih," ujar dia.
Nangoi juga mengingatkan bahwa jika pemerintah salah langkah dan mematikan industri otomotif dalam negeri, akan terjadi pergolakan besar.
"Kami sekarang mempekerjakan lebih dari 3 juta orang, menghasilkan devisa karena kami mengekspor. Jangan sampai suatu saat kita harus mem-PHK semua orang terus kami harus impor 100 persen mobil-mobil semua," tuturnya.