INDUSTRY.co.id - Jakarta - Huawei Indonesia mengumumkan kolaborasi dengan Rainforest Connection (RFCx), sebuah startup yang mengubah ponsel daur ulang menjadi perangkat pendengaran bertenaga surya untuk memantau dan melindungi daerah terpencil di hutan hujan.

Kolaborasi dilakukan untuk melindungi hutan hujan di Pulau Sumatera dengan mengembangkan platform inovatif sebagai alat pengumpulan data, layanan penyimpanan, dan analisis data yang akurat tentang kondisi hutan.

Melalui kolaborasi ini, Huawei menghadirkan teknologi pendukung, termasuk menggunakan smartphone yang dimasukkan ke dalam sistem untuk menangkap suara kegiatan hutan hujan serta menggunakan teknologi Huawei AI (Artificial Intelligence / Kecerdasan Buatan) agar dapat lebih memahami suara binatang di dalam hutan hujan.

Teknologi-teknologi tersebut nantinya dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh beberapa spesies yang terancam punah. Hingga saat ini, teknologi ini telah digunakan di 10 negara di 5 benua, termasuk Sumatera yang hutan hujannya telah dilindungi lebih dari 2000 km2.
 
"Bersama dengan RFCx, kami ingin memberdayakan masyarakat lokal untuk melindungi hutan hujan menggunakan perangkat Huawei dan teknologi AI. Kolaborasi ini tentu sejalan dengan inisiatif TECH4ALL kami yaitu mendorong inklusi digital dan orang-orang akan tetap terhubung satu sama lain." kata Lo Khing Seng, Deputy Country Director, Huawei Device Indonesia di Jakarta, Jumat (2/8/2019)
 
Dalam kolaborasi untuk melindungi hutan hujan di kawasan Muara Labuh, Sumatera Barat, RFCx menciptakan sistem pemantauan audio bertenaga surya yang disebut Guardian. Sistem Guardian menggunakan ponsel Huawei lama sebagai inti dari sistem mereka.

The Guardian, dilengkapi dengan telepon bekas Huawei, kemudian menangkap suara hutan hujan, termasuk suara gergaji mesin untuk pemburuan liar, api, atau kegiatan berbahaya lainnya. Didukung oleh Huawei Cloud dan menara telekomunikasi, suara akan diterima secara real-time oleh polisi hutan yang bertanggung jawab di lapangan terdekat agar melaporkan kejadian tersebut ke penegak hukum setempat.
 
Huawei dan RFCx juga mengembangkan model algoritma cerdas yang lebih akurat yang dibuat dari layanan kecerdasan buatan canggih Huawei (HUAWEI CLOUD AI) danalat yang disebut dengan ModelArts. Pengembangan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebisingan gergaji mesin dan suara truk yang lebih akurat.

Selain itu, Huawei membantu RFCx membangun model kecerdasan buatan yang dapat mendeteksi dan menganalisis suara spesies yang terancam punah, salah satunyaorangutan. Model tersebut akan membantu polisi hutan melindungi spesies yang terancam punah melalui penyediaan informasi tentang habitat mereka, tanda-tanda ancaman, hingga kebiasaan hidup mereka.
 
“Dengan teknologi yang didukung oleh perangkat Huawei dan AI Cloud, kami berharap tidak hanya masyarakat sekitar saja yang dapat kami berdayakan namun juga orang-orang di kota-kota lain seperti Jakarta, untuk dapat mendengar suara hutan hujan serta mendeteksi dan memberikan tanggapan segera jika sesuatu yang berbahaya terjadi,"kata Topher White, Chief Executive Officer dan Pendiri Rainforest Connection (RFCx).