INDUSTRY.co.id - Jakarta - Perusahaan pengembang properti PT Intiland Development Tbk (Intiland; DILD) melaporkan hasil kinerja penjualan sepanjang triwulan I 2019. Dalam tiga bulan pertama tahun ini perseroan meraih pendapatan penjualan (marketing sales) senilai Rp254,2 miliar, atau sekitar 10,2 persen dari target tahun ini sebesar Rp2,5 triliun. 

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono mengatakan, 
penjualan dari segmen pengembangan kawasan perumahan tercatat mendominasi dengan kontribusi sebesar Rp175 miliar, atau 69 persen dari keseluruhan. Penjualan terbesar dari segmen ini berasal dari dua proyek perumahan yakni Graha Natura di Surabaya dan Serenia Hills di Jakarta Selatan. 

"Segmen pengembangan mixed-use & high rise
berhasil membukukan marketing sales Rp79,2
miliar atau 31 persen. Kontribusi terbesar berasal dari penjualan apartemen 1Park Avenue di Jakarta dan The Rosebay di Surabaya," kata Archied di Jakarta, Selasa (30/4/2019).

Ditinjau berdasarkan lokasi proyeknya, menurut Archied, penjualan dari proyek-proyek di Jakarta mencapai Rp136,2 miliar atau 54 persen dari keseluruhan. Sisanya sebesar Rp118,1 miliar atau 46 persen berasal dari penjualan proyek-proyek yang berlokasi di Surabaya. 

“Pasar properti belum juga pulih di triwulan pertama tahun ini. Konsumen masih bersikap wait and see dan menunda pembelian. Namun, khusus untuk produk-produk perumahan, kami lihat pasarnya masih bergerak positif dan relatif stabil, sehingga tetap ada penjualan,” ungkap Archied.

Perseroan mengakui secara umum tantangan pasar properti pada tiga bulan pertama tahun ini sangat berat. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh iklim politik yang terjadi, seiring penyelenggaraan masa kampanye dan pemilu serentak. 

“Kami harapkan setelah pemilu, kondisi akan membaik dan lebih kondusif, sehingga konsumen lebih berani untuk melakukan pembelian dan investasi di sektor properti,” lanjut Archied. 

Manajemen Intiland tetap optimitis pasar properti akan mampu pulih dan tumbuh kembali. Perseroan pada tahun ini masih mempertahankan strategi yang bersifat konservatif guna mengantisipasi dan menghadapi dinamika dan arah perubahan pasar. 

Perseroan akan berupaya menjaga kinerja usaha dengan mengandalkan pertumbuhan secara organik maupun dengan menjalin kerjasama strategis dengan investor. Strategi ini ditempuh antara lain melalui pengembangan pada proyek-proyek yang telah berjalan dan tetap membuka peluang kerjasama untuk pengembangan proyek-proyek baru.