Semarakan HUT BSI Ke-31, UBSI Bersama FAI Gelar Seminar Literasi Untuk Negeri

Oleh : Hariyanto | Sabtu, 16 Maret 2019 - 13:48 WIB

UBSI Bersama FAI Gelar Seminar Bertema Literasi Untuk Negeri
UBSI Bersama FAI Gelar Seminar Bertema Literasi Untuk Negeri

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Dalam rangka Dies Natalis Ke-31, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) bersama Forum Akademisi Indonesia (FAI) menggelar kegiatan  bertemakan ‘Literasi untuk Negeri', Bedah Buku dengan judul 'Bangsa Terbelah’ di UBSI Kampus Kalimalang, Sabtu (16/3/2019)

Acara bedah buku ini merupakan salah satu kegiatan yang ada dari rangkaian kegiatan menyemarakan HUT BSI ke-31. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengedukasi para peserta mengenai manfaat literasi bagi diri sendiri juga dapat bermaaf bagi seluruh bangsa.

Hernita Arianty selaku ketua pelaksana kegiatan, mengatakan bahwa acara bedah buku ini menghadirkan narasumber utama yaitu Dr. Ichsanuddin Noorsy, BSc, SH, Msi selaku penulis buku 'Bangsa Terbelah' selaku seorang ekonom, pengamat politik dan ekonomi Indonesia serta dibahas oleh  Ridwan Saidi seorang ahli sejarah dan budayawan Betawi serta I Ketut Martana selaku Ketua Program Studi (Prodi) Administrasi Perkantoran UBSI.

Nantinya, bedah buku juga  akan diselenggarakan di 3 kampus UBSI lainnya yaitu UBSI Kampus Yogyakarta pada 22 Maret 2019 dengan pembahas seorang Cendekiawan Yogyakarta yaitu Dr. Yulianto Puji Winarno dan Dr. Ani Wijayanti Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UBSI.

Selanjutnya Hernita menjelaskan UBSI kampus Sukabumi pada 22 Maret 2019 dengan pembahas Dr. H. Sukmawijaya, M.M yang merupakan Bupati Sukabumi periode 2005-2015 yang akan didampingi oleh Rachmat Adi Purnama selaku Ketua Prodi Teknologi Komputer UBSI dan yang terakhir akan diselenggarakan di UBSI kampus Pontianak pada 30 Maret 2019 dengan pembahas Muhammad Kurniawan dari praktisi pendidikan dan Sriyadi selaku Ketua Prodi Sistem Informasi.

Hernita menyampaikan harapannya agar acara bedah buku ini dapat terlaksana dengan baik dan membawa manfaat bagi para peserta nantinya dan tujuan dari diselenggarakannya acara ini dapat terwujud.

“Acara ini juga menjadi ajang UBSI untuk memperkenalkan Fakultas-Fakultas yang ada dilingkungan Kampus UBSI. Selain dari tujuan utamanya memberikan edukasi pentingnya literasi pada para peserta” pungkas Hernita.

Sementara, pengamat politik dan ekonomi Indonesia,  Dr. Ichsanuddin Noorsy, BSc, SH, Msi menilai, Presiden Joko Widodo (Jokowi) gagal untuk mengatasi masalah fundamental ekonomi makro di masa kepemimpinannya. 

Menurutnya Jokowi sudah gagal untuk membuat rupiah berdaulat di negeri sendiri. Terlebih, pemerintah dirasa kurang sigap saat mengatasi terpuruknya nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS.

"Perbadingan ekonomi pemerintah itu biasanya dengan Jepang dan Amerika Serikat. Tapi, Yen berdaulat di Jepang. Sementara dolar AS sudah tahu kita sangat bagus di negeri Amerika. Kalo Indonesia tidak terjadi demikian," ujar Ichsanuddin.

Menurut Ichsanuddin yang juga menjadi penulis buku 'Bangsa Terbelah', kenapa rupiah tidak bisa perkasa di negeri sendiri karena ada tiga institusi penting yang lebih mengutamakan pinjaman dari luar negeri. "Ada tiga yang membuat rupiah lemah. Korporasi swasta, BUMN, dan pemerintah," ujarnya.

Dampak dari kebijakan itu, menurutnya, market risk tidak pernah di atas 5 persen. Artinya, kesejahteraan ekonomi di Indonesia sudah dalam situasi gawat. "Artinya, pemerintah ingin membuat stabil ekonomi dengan pinjaman saja tidak mungkin berhasil. Ini tentu tidak aman karena market risk tidak bisa diatasi," ujarnya.

Di dalam bukunya, Ichsanuddin Noorsy juga menyinggung soal keberhasilan Donald Trump saat ini di Amerika Serikat kendati di awal pemilihan presiden bukan merupakan tokoh populis. Apalagi, Trump membuat kebijakan yang rasisme. Ichsanuddin memamparkan jika Trump merupakan sosok pemimpin yang berhasil karena sudah bisa mengurangi angka kemiskinan di Amerika.

"Selama 49 tahun, baru kali ini tingkat pengangguran di AS berkurang drastis. Artinya, Trump bisa membuka lapangan pekerjaan bagi kaum milenial. Itu yang harus dilakukan di Indonesia. Jika tidak, ekonomi kita tetap akan terpuruk," papar dia.

Di tempat yang sama, Ridwan Saidi seorang ahli sejarah dan budayawan mengatakan, Indonesia saat ini sudah berada di titik nadir kehancuran. Menurutnya, jika tidak ada perubahan maka tinggal menunggu saja keruntuhan.

“Korupsi dan ‘kegeblekan’ memimpin negara menjadi faktor penyebab ekonomi terpuruk. Lihat saja terbaru Ketua Umum PPP yang ditangkap KPK. Itu kembali lagi Kementerian Agama menjadi pioner buat korupsi tahun 1961,” ungkapnya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

 Ferrari SF90 Stradale (Foto Dok Industry.co.id)

Kamis, 27 Juni 2019 - 15:00 WIB

Tur Eksklusif Ferrari Menjelajahi Capri Pantai Amalfi

Lebih dari 100 mobil Ferrari dari seluruh dunia bertemu di Campania untuk mengikuti Ferrari Cavalcade edisi ke-8

Tifanny Meilianti, Project Manager E-Learning GMT Institute

Kamis, 27 Juni 2019 - 14:37 WIB

Menguasai Property Management Melalui E-Learning

Di era digitalisasi yang semakin berkembang, kebutuhan akan konsep suatu pembelajaran berbasis teknologi mulai diminati oleh banyak kalangan, mulai dari pendidik hingga pebisnis. 

Ilustrasi Bitcoin (Foto Dok Industry.co.id)

Kamis, 27 Juni 2019 - 14:00 WIB

Libra Bitcoin

Direktur Utama Bank BRI Suprajarto menjadi pembicara dalam salah satu forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berjudul Micro, Small and Medium-sized Enterprises (MSME) Day 2019 yang diselenggarakan…

Bedah rumah Kementerian PUPR

Kamis, 27 Juni 2019 - 13:48 WIB

Tahun 2019, Bedah Rumah Kementerian PUPR Sasar 3.000 Rumah MBR di Bali

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memiliki program peningkatan kualitas hunian masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui program Bantuan Stimulan Stimulan Perumahan…

Panen padi (Ist)

Kamis, 27 Juni 2019 - 13:35 WIB

Berbagai Cara Petani Siasati Kekeringan

Jakarta - Beberapa wilayah sentra produksi pangan mulai menghadapi ancaman kekeringan dan gagal panen. Namun petani punya cara sendiri menyiasati agar padi yang mereka sudah tanam bisa tetap…