INDUSTRY.co.id - Yogyakarta, Program Workshop dan Benchmarking ke Desa Wisata Nglanggeran, Yogyakarta memberikan banyak manfaat dan ilmu bagi para pelaku industri pariwisata di Tanjung Lesung.

Advertisement

Program yang diinisisasi oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tersebut diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, penggiat dan pelaku industri pariwisata di sekitar daerah peyangga (Bufferzone) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung. 

Seperti diketahui, Tanjung Lesung menjadi salah satu pengembangan pariwisata di 10 destinasi prioritas atau disebut 10 Bali Baru yang telah di tetapkan oleh Presiden Joko Widodo dan Kementerian Pariwisata. 

Advertisement

Paundra Bayyu Ajie selaku Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Provinsi Banten yang juga turut ikut dalam program studi banding ke Desa Wisata Nglanggeran memberikan apresiasi kepada Kementerian Pariwisata yang telah menginisiasi acara Workshop dan Benchmarking ini. 

Menurutnya, banyak manfaat dan ilmu serta trik yang didapat oleh peserta khususnya para pelaku industri pariwisata di Tanjung Lesung dalam studi banding kali ini. 

Advertisement

"Ini sangat bermanfaat, program kongkret yang memang sudah kami tunggu-tunggu," kata Bayyu kepada Industry.co.id seusai studi banding ke Desa Wisata Nglanggeran, Yogyakarta, Minggu (2/12/2018).

Ditambahkan Bayyu, dalam program ini, mereka (para pelaku industri pariwisata Tannung Lesung) dapat melihat secara langsung bagaimana cara mengelola dan mengemas ekosistem Desa Wisata yang notabene-nya hampir sama dengan kawasan Tanjung Lesung. 

Advertisement

"Maka dari itu, saya berharap dengan diadakannya program ini dapat membuka wawasan para pelaku industri pariwisata di Tanjung Lesung untuk segera berbenah dan menciptakan ekosistem Desa Wisata yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar," terangnya. 

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Area I Kementerian Pariwisata, Wastutik mengungkapkan, Desa Wisata Nglanggeran dipilih karena dinilai mampu memberikan kontribusi kesejahteraan sosial bagi masyarakat sekitar. 

"Harapannya, apa yang ada disini bisa jadi inspirasi para pelaku industri untuk bisa diadopsi di Tanjung Lesung," kata Wastutik. 

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, banyak pelajaran yang mereka ambil dari program studi banding kali ini diantaranya bagaimana mengelola dan menggiring masyarakat agar berbenah diri dalam mengembangkan desa wisatanya. 

"Saya berharap masukan-masukan dan trik-trik yang mereka dapat dari studi banding kali ini dapat diterapkan disana," harap Wastutik.

Sementara itu, Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Ragional II Kemenpar Reza Pahlevi mnejelaskan, program ini merupakan sebuah janji dari Menteri Pariwisata Arief Yahya untuk meningkatkan atraksi di desa Cikadu yang menjadi kawasan peyangga KEK Tanjung Lesung. 

Namun, lanjut Reza, masih ada beberapa pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan antara lain membangun ekositem atraksi pariwisata, serta kesiapan masyarakat daerah disana (Cikadu) untuk mengelola pariwisata tersebut. 

"Bukan membangun fasilitas, tetapi aktifitas-nya. Ini yang harus kita selesaikan dan ciptakan agar mampu menarik wisatawan datang kesana, sehingga akan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar," imbuh Reza. 

Reza berharap dengan diadakannya studi banding ini, akan menambah wawasan pelaku industri pariwisata, sehingga wisata Tanjung Lesung akan terus menjadi destinasi yang berstandar internasional. 

Sebelumnya, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan, untuk membangun sebuah KEK Pariwisata, hal yang paling utama adalah membangun masyarakatnya dulu. Pembangunan dimulai di Cikadu, Tanjung Lesung.

"Masyarakatnya dulu yang harus dibangun, tingkatkan kesadaran mereka bahwa sektor pariwisata ini berpotensi bisa mensejahterakan. Baru kemudian fisik pembangunan dimulai bisa dari Cikadu hingga Tanjung Lesung," ujar mantan Dirut PT Telkom ini.

Soal pembangunan amenitas, Menpar menyarankan homestay. Untuk pembiayaannya agar menggunakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pariwisata.

"Hal ini sudah kita lakukan di Danau Toba. Saya melihat di sini ada lahan yang bisa dijadikan homestay. KUR Pariwisata itu platdiv-nya Rp25 juta hingga Rp500 juta dengan bunga hanya 7% saja," terang Menpar Arief Yahya.

Seperti diketahui, Desa Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Patuk, memperoleh penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik I Indonesia dan menerima penghargaan ASEAN Community Based Tourism (CBT) Award 2017. 

Capaian yang diperoleh Desa Wisata Nglanggeran ini antara lain karena mampu memberikan kontribusi kesejahteraan sosial, melibatkan kepengurusan dari masyarakat, menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan, mendorong terjadinya partisipasi interaktif antara masyarakat lokal dengan pengunjung (wisatawan), menyediakan jasa perjalanan wisata dan pramuwisata yang berkualitas. Termasuk mengenai kualitas makana, minuman, akomodasi dan kinerja friendly tour operator (FTO).

Selain itu, Desa Wisata Nglanggeran sudah menjadi desa berkembang dan diakui oleh dunia internasional, UNESCO melalaui Global Geopark mengakui sebagai Geosite Gunung Sewu.