INDUSTRY.co.id - Jakarta – Tahun lalu, nilai ekspor produk mebel dan kerajinan dari Indonesia mencapai US$ 1,65 miliar. Bila dibandingkan dengan negara lainnya di kawasan Asean seperti Vietnam dan Malaysia, nilai ekspor Indonesia masih ketinggalan. Nilai ekspor dari Vietnam pada 2017 lalu menembus angka US$ 8,7 miliar, sementara Malaysia US$ 2,4 miliar.
Sekjen Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki), Abdul Sobur usai seminar di pameran International Furniture Manufacturing Components Exhibition (IFMAC) dan Woodworking Machinery (Woodmac) 2018, di Jakarta, Rabu (26/9/2018), mengatakan, Indonesia sebetulnya memiliki bahan baku yang berlimpah, bahkan terbesar ketiga di dunia. Tetapi memang nilai ekspor untuk produk mebel Indonesia masih dibawah Vietnam dan Malaysia. “Kita banyak kendala, harus banyak yang perlu diperbaiki dan diperhatikan oleh pemerintah,”ujarnya.
Menurutnya, ekspor produk mebel dan kerajinan dari Indonesia pada tahun 2018 mulai menunjukkan tren naik, meskipun belum begitu signifikan. “Dari target ekspor tahun ini yang diharapkan tumbuh 9%-10% dengan nilai US$ 1,9 miliar, pencapaiannya hingga semester pertama 2018 sudah sebesar US$ 1,3 miliar.
Salah satu kendala terbesar di Indonesia menurut Sobur adalah banyaknya regulasi yang berbelit dan tidak menopang pertumbuhan ekspor. Padahal, Indonesia sebetulnya memiliki potensi untuk menjadi pemain terbesar di industri mebel atau furnitur.
"Jadi regulasi yang menjadi beban industri yang tidak perlu harusnya dihilangkan. Sementara untuk regulasi yang mendorong pertumbuhan harus dioptimalkan. “Misalnya untuk kegiatan pameran harus dibantu dan disubsidi, insentif pembelian alat juga diperbesar supaya pengusaha bisa membeli alat secara masif," tutur Sobur. (Kormen).