INDUSTRY.co.id, Jakarta - Industri petrokimia dalam negeri melakukan terobosan baru dengan memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan komponen industri otomotif.

Dalam hal ini, PT Toyota Motor Manufacturing (TMMIN) bekerjasama dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) yang memasok reain polypropylene impact copolymer untuk diaplikasikan pada mobil Toyota Vios dan Yaris.

"Hal ini sejalan dengan langkah Kementerian Perindustrian untuk memperdalam struktur industri nasional agar rantai nilai dari sektor hulu sampai hilir semakin kuat sehingga dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor" ungkap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peluncuran Produk Material Lokal Polypropylene Impact Copolymer untuk Mendukung Industri Otomotif Nasional di Bekasi, Jawa Barat (9/1/2017).

Kerjasama antara TMMIN dengan CAP ini akan mendorong pertumbuhanindustri komponen kendaraan di dalam negeri.Secara nasional, saat ini terdapat sekitar 1.500 perusahaan komponen otomotif di Indonesia.

Airlangga menjelaskan,Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) industri otomotif nasional yang berbasis bahan baku lokal sekitar 60 persen. Namun untuk jenis kendaraan Low Cost and Green Car (LCDC) telah mencapai 90 persen.

Menperin memberikan apresiasi kepada kedua perusahaan atas komitmennya untuk meningkatkan penggunaan kandungan dalam negeri, menjadikan Indonesia sebagai basis produksi serta memberdayakan mitra lokal dalam kegiatan produksinya sehingga akan menopang pertumbuhan industri nasional.

Pemerintah saat ini sudah memberikan dorongan dengan membuat kebijakan dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Kerja sama ini menjadi momentum penting untuk memaksimalkan kinerja industri di sektor otomotif guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

"Saat ini kami berusaha meningkatkan komponen lokal berbasis plastik dan baja untuk diterapkan di bodi dari kendaraan. Target kami 30% komponen berbasis lokal di 2018" tambah Menperin.

Industri otomotif merupakan salah satu sektor prioritas dalam kebijakan industri nasional yang ditargetkanproduksinya akan mencapai 2,5 juta unit pada tahun 2020.

Tentunya dalam pengembangan dan pencapaian sasaran tersebut, membutuhkan koordinasi serta pemahaman visi dan misi antara pemerintah dengan pelaku usaha otomotif.